My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 22, Gavin Ingin Bertemu



Gavin mengambil ponselnya, menghubungi Tio.


"Hallo tuan," jawab Tio di seberang telepon.


"Bantu aku bertemu dengan wanita itu esok hari. Aku ingin bertemu dan berbicara dengannya." Tio diam, berpikir apakah yang di dengarnya benar atau salah.


"Tuan, apa saya tidak salah dengar bahwa anda ingin bertemu dengan Nona Queen?" tanya Tio memastikan bahwa pendengaran nya memang benar.


"Em," jawab Gavin malas mengulang. Tio yang mendengar jawaban itu langsung mengangguk, dan akan membuat mereka saling bertemu untuk berbicara empat mata.


.


.


Keesokan harinya, Queen bersiap untuk pergi bekerja di perusahaan ADS Group. Saat dirinya baru saja keluar rumah, di depan rumahnya terlihat Sevana tersenyum ke arahnya. Menjemputnya dan akan mengantarkan Queen bekerja, dengan alasan ingin melihat perusahaan Daddynya.


"Hai," sapa Sevana dan Queen menghampiri, berdiri menatap dengan pandangan tanya. "Aku menjemput mu karena sekalian ingin mengunjungi perusahaan Daddy," jelas Sevana beralasan.


Hari ini ia akan memastikan dengan akurat tentang Queen yang benar-benar kakaknya. Sebelumnya ia sudah bertanya tentang kehidupan Queen, mereka berdua saling bercerita. Hanya saja saat mendengar cerita Queen, Sevana merasa seakan ada kejanggalan dalam cerita tersebut, karena Queen tidak menjelaskan masa lalunya, dan hanya menceritakan tentang beberapa bulan hidupnya di kota sebelum ia datang ke negara C.


Sevana berpikir, Queen pasti menyembunyikan sesuatu atau bisa jadi Queen kehilangan memori ingatan nya. Karena saat dirinya bertanya tentang kedua orang tuanya, Queen menjawab dengan kata 'Lupa' dan itu semakin memperjelas kecurigaan nya.


"Mungkin kah Queen benar-benar Kak Quesha?" batin Sevana menatap penuh harap, berharap wanita cantik yang wajah nya hampir mirip dengan Bibi Chloe nya adalah kakaknya.


Queen yang di tatap seperti itu menepuk bahu, menyadarkan Sevana pada lamunannya. "Hei, kenapa melamun? Jadi berangkat tidak?"


Sevana mengangguk dan masuk kedalam mobil, setelahnya di susul Queen masuk. Dan mereka pun berangkat menuju perusahan ADS Group.


.


.


Queen dan Sevana telah sampai di perusahaan besar itu. Mereka berjalan berdampingan. Semua rekan setim Queen yang melihat Queen bersama anak dari bos mereka, biasa saja. Tapi tidak dengan karyawan lainnya yang merasa iri dengan kedekatan mereka, menganggap Queen tidak pantas berdiri di samping putri dari bos mereka.


"Lihatlah wanita itu, sungguh memalukan. Cari muka dengan anak bos kita. Pasti dia mendekati nona Sevana karena ada maunya," bisik-bisik pada temannya.


"Ya, kau benar. Dasar tidak tahu malu. Harusnya dia itu kaca siapa dirinya. Hanya wanita rendahan, udik, miskin lagi. Benar-benar tidak pantas," jawab yang lain menimpali.


Banyak hujatan, makian dan hinaan dari mereka. Queen yang mendengar diam, tidak peduli dengan omongan lembe turah itu. Baginya semua itu hanyalah angin lalu saja.


Sevana yang mendengar geram, ingin ia memaki dan membalas apa yang mereka ucapkan. Namun Queen dengan cepat menghentikannya. "Biarkan saja. Jika mereka capek, pasti akan berhenti sendiri," jawab Queen tidak ambil pusing. "Oh, ya Sev, aku kerja dulu. Kau pergilah temui Daddy mu," pamit Queen dan Sevana pun pergi. Tapi sebelum pergi, Sevana mengambil sehelai rambut dari kepala Queen, mengatakan jika ada uban di kepalanya.


Queen tunggu sebentar. Seperti nya aku melihat uban di rambut mu," Sevana mengambil sehelai rambut itu dan membuat Queen bingung. Apa benar jika dirinya telah beruban?


"Mana, aku ingin lihat," pinta Queen penasaran.


Sevana yang berbohong menunjukkan rambut itu. Dan mengatakan jika dirinya salah lihat. "Ah, ternyata bukan. Aku kira tadi uban. Mungkin karena cahaya lampu yang terang membuat pandangan ku menjadi salah. Maaf ya,"


Queen mengangguk tidak mempermasalahkan hal itu. Dan setelah itu mereka berpisah, Queen pergi untuk bekerja, Sedangkan Sevana akan melaporkan apa yang terjadi saat bersama Queen.


.


.


"Rambut ini akan membuktikan dia Quesha atau bukan," ucap Aldrich, dan Sevana mengangguk.


Aldrich saat itu juga langsung menghubungi Jaeden, memintanya mengirim sampel untuk tes DNA dengan Queen. Jaeden yang mendengar cerita Aldrich tanpa menunggu lama memotong rambutnya sedikit dan memberikannya kepada Asistennya, memberi perintah untuk segera datang ke negara C.


Jaeden merasa senang, berharap itu benar-benar putrinya yang hilang. Ia akan menunggu hasil itu keluar untuk memastikan benar atau tidaknya Queen adalah putrinya.


"Minta untuk di percepat hasilnya. Aku ingin segera melihatnya," perintah Jaeden tidak sabar.


"Baik tuan," jawab Asisten Jaeden bernama Leon.


Leon pun hari itu juga langsung pergi ke negara C dengan jet pribadinya. Namun ternyata gerakan nya di lihat oleh mata-mata yang ada di sekitar keluarga Tesla. Dengan cepat ia menghubungi rekannya yang ada di negara C, mengabarkan jika asisten Jaeden kini akan datang di sana. Niat apa Leon datang kesana ia tidak tahu. Hanya bisa memberi perintah untuk mencari tahu.


"Cari tahu apa yang di lakukan keluarga Dominic itu. Jangan sampai mereka tahu tentang nona sesungguhnya,"


"Baik," jawabnya dan memantau.


.


.


Siang hari waktunya malam siang, Queen keluar bersama dua temannya untuk mencari makanan. Mereka tidak makan di kantin perusahaan karena menurutnya cukup mahal. Demi menghemat uangnya, Queen lebih baik mencari makan di luar yang lebih murah tapi mengenyangkan. Namun saat dirinya hampir sampai di tempat yang di tuju, sebuah mobil hitam berhenti tepat di sampingnya, membuat mereka bertiga bingung. Mobil siapa pikirnya.


Mobil yang ternyata itu milik Gavin, kini muncul Tio dari balik kemudi, dan menghampiri mereka.


"Maaf nona, jika menganggu waktu anda. Saya disini di perintah oleh tuan saya, beliau ingin bertemu dengan anda," jelas Gavin yang tidak di kenal Queen.


"Tuan, siapa tuan mu? Dan siapa kau ini?" tanyanya menatap tidak senang pria di depannya yang seenak jidat ingin membawanya bertemu dengan dirinya.


Tio tersenyum, ia pun dengan cepat menjawab, "Perkenalkan nama saya Tio, saya asistennya tuan Gavin Menzies," Queen yang mendengar nama asing itu hanya mengerutkan kening, bingung. Berbeda dengan dua wanita di sampingnya, mereka begitu senang karena bisa bertemu dengan Tio, pria yang cukup tampan itu.


"Aku tidak mengenalnya. Jadi tidak perlu aku menemuinya," jawab Queen. Dan pergi meninggalkan mereka. Perutnya yang sangat lapar, membuatnya malas berbicara dengan orang asing.


Tio yang melihat Queen pergi meninggalkannya langsung mengejar. Apapun yang terjadi, hari ini ia harus membawa Queen untuk bertemu dan berbicara dengan Tuannya.


.


.


.


Bersambung