My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 42, Menyiksa Laura



Beberapa anak buah King yang melihat sungguh terkejut, mereka tidak menyangka jika nonanya akan sekeras ini kepada sesama wanita. Mereka hanya bisa diam, menyaksikan apa yang di lakukan nona mudanya. Benar-benar pantas menjadi cucu dari mafia.


"Apa yang kau lakukan, ja-lang? Beraninya kau menggores wajah ku," marahnya tidak terima saat Queen melukai wajahnya, takut wajahnya nanti akan buruk dan ca


"Tentu saja membuat maha karya yang akan selalu kau ingat," jawab Queen begitu enteng, dan melakukan nya lagi.


Srak...


Argh.....!


Jerit Laura merasakan sakit kembali,


"Wanita ja-lang, wanita sialan! Aku benar-benar tidak akan mengampuni mu," marahnya tidak terima di perlakukan seperti.


"Aku tidak butuh pengampunan mu. Asal kau tahu, hari ini tangan ku ingin sekali membunuh mu dan menyiksa mu. Melihat wajah menjijikkan mu ini, ingin sekali ku hancurkan saat ini juga,"


"Tidak, jangan! Ku mohon," pintanya tidak ingin Queen merusak wajah cantiknya. Ia takut tidak akan ada pria yang menyukainya, terima Gavin.


"Memohon-lah sampai kau menangis darah, aku tidak akan melepaskan mu,"


Cuus....


Argh..!


Jerit Laura saat lengannya di tusuk dengan pisau itu. Dan di tarik cukup panjang, membuat kulit itu terbuka hingga daging di dalam nya terlihat, dan darah mengalir.


Laura benar-benar merasakan sakit luar biasa. Ia tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini di tangan wanita yang sangat ingin di bunuh-nya.


"Aku tidak akan melepaskan mu," ucapnya terbata, menahan rasa sakit.


Queen hanya menaikkan sebelah alisnya. Senyum Queen saat ini sungguh sangat mengerikan. Jika sebelumnya memang dia sering berwajah datar, tapi untuk saat ini Queen benar-benar mengerikan, layaknya iblis yang ingin memakan mangsanya.


"Jangan takut, nikmati saja rasa ini. Aku yakin kau akan selalu mengingatnya."


Queen benar-benar menyiksa Laura hingga tak berdaya. Darah terus menetes dari tubuhnya akibat sayatan pisau di tubuh Laura. Dan itu benar-benar menghasilkan karya yang begitu indah.


Anak buah King yang melihat kengerian Queen, ketakutan. Sungguh wanita yang sangat mengerikan. Bahkan berhasil membuat mereka menelan ludah dengan kasar melihat kekejaman itu.


"Jangan pernah membuat nona marah jika tidak ingin seperti wanita itu," ucap seorang dari mereka dan di angguki semuanya.


Queen setelah puas menyiksa Laura dengan caranya, Queen memanggil anak buah King yang bersembunyi. Sedari tadi sebenarnya Queen tahu jika mereka ada disana, melihat semua apa yang ia lakukan.


"Apa kalian akan tetap menjadi penonton disana?" tanya Queen dengan nada dingin.


Mereka yang mendengar langsung muncul, menampakkan diri mereka di depan Queen. Berdiri, dengan wajah menunduk, takut nona nya akan marah mengetahui mereka mengikuti dan mengintip.


Queen duduk di kursi, menatap satu persatu mereka semua.


"Katakan, siapa sebenarnya kalian ini?" tanyanya dengan nada sangat dingin, bahkan di wajahnya tidak ada senyum sedikit pun.


Semuanya diam, membuat Queen marah. Dan mengambil pistolnya, menembakkan nya di lantai, tepat di dekat kaki mereka.


Semuanya terkejut dan kaget akan tembakan yang tiba-tiba. Semuanya mendongak menatap Queen yang kini memberikan tatapan tajam nya.


"Katakan! Jika tidak peluru ini akan bersarang di kepala kalian," ancamnya tidak main-main, menodongkan senjata ke arah mereka.


Semuanya diam, takut jika nonanya benar melakukan seperti apa yang di katakan-nya. Mereka ingin menjawab, tapi takut. Tuannya tidak pernah berkata untuk mengatakan siapa tuan mereka. Dan itu membuat mereka gelisah, antara jujur atau tidak.


"Cepat katakan!" bentak Queen tidak sabar. Membunuh mereka semua hari ini tidak masalah baginya. Asalkan semuanya aman terkendali, akan ia lakukan.


Cukup lama menunggu dan tetap tidak mendapatkan jawaban, Queen benar-benar menarik pelatuk pistolnya dan menembakkan nya ke salah satu di antara mereka, membuat nya


menjerit karena sakit, akibat peluru yang menembus pahanya.


"Nona, ampuni kami," pinta seorang di antara mereka yang melihat Queen dengan enteng menembakkan senjatanya di kaki temannya.


"Aku sebenarnya bukan orang yang mudah memaafkan. Jika kalian ingin aku mengampuni nyawa kalian, katakan siapa yang memerintah kalian semua ini,"


Dengan wajah ketakutan, mereka pun mengatakan siapa yang memberi perintah kepada mereka semua. Mengatakan jika orang tersebut berasal dari negara lain.


"Dia adalah King, berasal dari Negara R,"


"King, dari Negara R," gumam Queen berpikir, siapa king ini sampai memberi perintah pada bawahannya untuk berada di sekitarnya. "Apa niat tuan mu mengirim kalian? Apakah untuk membunuh ku?" tanya Queen menodongkan dua pistolnya ke arah mereka.


"Bu...bu....bukan nona, tuan memberi perintah kepada kami, karena beliau ingin melindungi anda,"


"Melindungi ku? Siapa dia bagi ku sampai dia harus melindungi. Katakan padanya, aku tidak butuh bantuan dari orang asing yang tidak ku kenal," jawab Queen berjaga-jaga, takut orang itu memiliki niat lain di baliknya. Lebih baik sendiri dari pada harus terlibat dengan orang yang tidak di kenal.


"Tapi nona,"


"Pergi! Sebelum aku menghabisi kalian," jawab Queen membelakangi mereka, tidak ingin melihat kelompok yang tidak jelas itu.


"Baik, nona," jawab mereka pasrah, dan pergi. Tidak ingin membuat nonanya marah. Tapi mereka tidak benar-benar pergi, mereka tetap mengawasi nonanya dari jarak jauh.


Queen bukan tidak mau memiliki pelindung. Ia hanya tidak ingin ada masalah lagi yang menghampirinya. Jika orang itu adalah keluarganya pasti yang mereka sebut King itu akan menemuinya dan mengatakan bahwa dia adalah keluarganya. Tapi ini tidak, dan di pastikan dia bukanlah keluarganya.


Setelah beberapa orang itu pergi, Queen menghela nafas. "Lebih baik sendiri dari pada menambah masalah yang akan datang," gumamnya dan kembali menatap tubuh Laura yang kini sudah lemas.


Queen melepas rantai itu, dan membawa Laura pergi, mengirim tubuh penuh luka itu ke tempat kediaman Arno, agar Arno melihat apa yang terjadi dengan anaknya. Tak lupa ia menulis sesuatu di atas kertas dan meletakkan nya di atas tubuh Laura yang tak sadarkan diri.


Anak buah Arno yang melihat nona nya dalam keadaan mengenaskan, langsung melaporkan apa yang terjadi pada tuan mereka. Dan Arno yang kini melihat keadaan putrinya mengepalkan tangan dengan erat, marah dengan orang yang berani melakukan ini pada putri satu-satunya.


.


.


.


Bersambung