My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 85, Ancaman Dari Seorang Tuan



Beno meminta Laura masuk dan meminta anak buahnya mengurus Davin dan Devan. Tapi demi memastikan apa yang di pikirkan nya, Beno menghubungi seseorang, apalagi setelah mendengar penjelasan dari anak buahnya yang menghentikan Gavin dan Chloe.


"Ia tidak ingin mencari musuh, dan lebih baik berjaga demi keselamatannya.


"Cari tahu tentang dua anak ini," perintahkan dan mengirim foto Davin dan Devan yang sebelumnya telah di potretnya.


"Tapi belum juga mendapatkan informasi yang di inginkan nya, sebuah panggilan dari nomor asing masuk, dan Beno pun mengangkatnya.


"Aku ingatkan pada mu, jika kau berani menyentuh atau melukai mereka berdua, maka bersiaplah hancur dan mati," ucap orang tersebut denhan suara mengerikan.


Beno yang mendengar tubuhnya langsung gemetar, ia tahu siapa yang menghubungi dan berbicara seperti itu. Beno hanya tidak menyangka jika pria itu akan turun langsung menghubunginya, bahkan mengancamnya akan membunuhnya. Beno tahu apa yang di katakan pria tersebut tidaklah main-main, dan oleh sebab itu, ia tidak boleh melanggar atau nyawanya lah yang akan menjadi taruhan.


"Sial! Kenapa pria mengerikan ini menghubungi ku langsung? Mungkinkah dia tahu jika anak ini ada di tempat ku bersama dengan Laura?" batin Beno bertanya-tanya.


Beno pun mengangguk, tidak akan menyakiti Davin dan Devan. "Baik tuan," jawabnya berjanji.


"Bagus. Untuk masalah wanita itu terserah kau, mau kau apakan bukan urusan ku. Tapi ku harap kau membiarkannya hidup, agar dia bisa mengurusnya sendiri," ucap orang itu membuat Beno bingung. "Dia?" Siapa dia yang di maksud oleh tuan tersebut.


"Baik tuan," jawab Beno dan orang itu memutus panggilan.


Beno merasa lega setelah orang itu mengakhiri panggilannya. Keringat menetes dari kening, terasa tertekan berbicara dengan orang tersebut. "Gila, ini benar-benar gila," gumamnya dan mengusap keringat, berjalan pergi menuju Laura berada.


Tapi sebelum itu Beno memberi perintah pada anak buahnya untuk merawat dua anak itu. Ia tidak ingin tuan yang menghubungi tahu jika dirinya tidak merawat dengan benar, bisa-bisa jika tahu, tubuhnya akan di cincang langsung oleh nya.


...****************...


Di tempat Gavin dan Chloe berada, orang yang tadi mencoba menghentikannya tiba-tiba mundur dan itu membuatnya sangat bingung.


"Apa yang terjadi?" tanya Chloe dan Gavin hanya menggeleng tidak tahu.


"Baru saja mereka pergi, sebuah mobil datang dan itu adalah milik Lucas. Lucas turun dari mobil, berjalan dengan pandangan tajam, menatap Chloe. Dendamnya membara melihat wajah wanita tersebut.


"Kau tidak akan bisa lari lagi dari ku, wanita sialan!" ucap Lucas dan Chloe hanya menatapnya dengan diam.


Urusan dengan Lucas memang tidak akan selesai jika dirinya tidak melawan sendiri pria muda di depannya. Dan pastinya Lucas akan selalu menganggu demi membalas dendam tentang ayahnya.


"Karena tidak bisa di hindari, baiklah. Kita selesaikan hari ini juga," ucap Chloe dan berbalik menatap Gavin


"Pergilah, dan selamatkan Davin dan Devan."


"Tapi, anda...."


"Jangan khawatirkan aku, aku bisa menjaga diri dan mengurus nya," jawab Chloe agar Gavin pergi dari tempat itu, menyusul Laura.


Dengan berat hati, Gavin pun pergi sesuai perintah Chloe. Sebenarnya Gavin tidak tega jika melihat calon ibu mertuanya bertarung sendiri. Tapi apa boleh buat demi kedua anaknya dan permintaan Chloe, mau tidak mau dia harus meninggalkan Chloe melawan sendiri Lucas. Dan pertarungan keduanya pun terjadi. Sengit dan keras.


...****************...


"Pergilah mandi, bersihkan tubuh mu. Setelah ini kita akan bicara," perintah Beno dan Laura mengangguk, pergi ke sebuah kamar yang di siapkan oleh pelayan.


Setelah beberapa menit membersihkan tubuhnya, Laura keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk nya di badan, menutupi bagian dada yang besar dan pahanya sebagian. Sambil tangannya mengusap rambutnya yang basah.


Laura begitu santai melakukannya, tanpa tahu ada seorang yang sejak tadi memperhatikannya. Ya, dia adalah Beno yang masuk di kamar Laura menunggu Laura selesai mandi.


Glek...


Beno menelan ludah dengan kasar melihat pemandangan menggoda itu. Jakunnya naik turun, apalagi saat melihat paha mulus Laura yang terpampang jelas di matanya. Tak hanya itu, dada besar yang tertutup sebagian karena handuknya terlalu kecil membuat tubuh Laura sangat-sangat menggoda di matanya. Pikiran liar Beno berkelana, membayangkan mere mas dada itu dan menjilatinya dengan lidah, pasti sangat menyenangkan. Dan pikiran kotor itu mampu membuat sesuatu miliknya yang sudah lama tidak tersentuh bangun, sesak di dalam celana.


"Putri Arno benar-benar menggoda," batin Beno tersenyum menyeringai. "Bagaimana jika aku menyentuhnya? Apakah dia akan marah dan gila saat adiknya nya ini menyentuh putrinya yang sek si?"


Beno bukanlah adik kandung Arno, melainkan dia adalah anak angkat dari keluarga Patrice. Maka dari itu, selama ini Laura tidak mengetahui jika dirinya memiliki om, karena tidak pernahnya Beni berkumpul dengan keluarga Patrice.


Ehem....


Beno berdehem agar Laura menyadari keberadaannya. Dan benar saja, Laura langsung menoleh ke sumber suara saat dirinya mendengar ada seseorang di kamar itu.


"Om Beno? Kenapa Om ada di kamar ku?" tanya Laura mengerutkan kening.


"Tidak bolehkan Om masuk ke kamar mu?"


"Bukan seperti itu, hanya saja___,"


"Ini rumah ku, terserah aku mau masuk ke mana saja, termasuk kamar ini," jawabnya membuat Laura diam.


Bemo beranjak dan berjalan mendekati Laura. Laura menatapnya dengan diam, mundur bingung apa yang akan di lakukan om nya itu.


Greb....


Tangan itu memeluk pinggang Laura dengan erat.


.


.


.


Bersambung