
Tuan Ryan begitu kesal saat tahu Gavin sedang bersama dengan Queen. Entah apa yang membuatnya kesal, ia sendiri tidak tahu. Padahal dengan anak mereka, ia begitu menyayangi. Hanya saja ia belum bisa menerima Queen menjadi pendamping putranya.
"Dad, mommy mana?" tanya Davin dan Devan ingin melihat Queen yang beberapa hari ini tidak di lihatnya.
"Akan Daddy ganti dulu panggilannya," Gavin pun mengganti panggilan menjadi Vidio agar kedua putranya bisa melihat mommy mereka.
Gavin menyerahkan ponselnya pada Queen agar mereka bisa mengobrol. Setelah mengganti panggilan, kini terlihat wajah kedua putranya yang sangat di rindukanya. Devan dan Davin yang melihat Mommy nya pucat terkejut, apa yang terjadi? Mungkinkah mommy dalam bahaya lagi.
"Mom, apa mommy sakit?" tanya Devan khawatir.
Queen tersenyum, menggelengkan kepala, "Tidak,"
"Apa ada yang menyakiti mommy lagi?" tanya Davin dengan nada dingin, berharap apa yang di pikirkan tidak benar.
"Tidak, tidak ada yang menyakiti Mommy. Lagian siapa yang bisa menyakiti Mommy. Kalian tahu kan mommy ini kuat," jawabnya mencoba menutupi, tidak ingin putranya khawatir dengan keadaannya.
Pertanyaan yang di lontarkan Devan dan Davin membuat Tuan Ryan dan Nyonya Tania melihat ke arah ponsel tersebut. Melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu dari cucunya.
Melihat Queen yang berada di ruangan yang di kenal, rumah sakit, Nyonya Tania angkat bicara. "Nak, apa kamu sakit?"
Queen bingung menjawab pertanyaan tersebut. Disana ada kedua putranya. Jika dirinya mengatakan benar, putranya pasti akan sangat khawatir. Queen menggeleng, "Tidak, nyonya."
Nyonya Tania yang mendengar Queen memanggilnya Nyonya langsung menolak. Tidak ingin ibu dari kedua cucunya memanggil dengan panggilan tersebut. "Mama, panggil Mama," pintanya membuat Tuan Ryan, kesal. Apa-apaan pikirnya istrinya itu. Jika istrinya meminta Queen memanggilnya mama, bukankah Queen akan memanggilnya papa juga. Tidak, dia tidak mau. Belum siap memiliki menantu kasar seperti Queen.
"Ma, kenapa mama meminta nya memangil mu dengan panggilan mama,"
"Memang kenapa pa? Dia kan ibu dari cucu kita, tidak salahkan memintanya memanggil seperti itu. Dan mungkin saja dia akan menjadi menantu kita," jawab Tania menatap suaminya yang cemberut, tidak mau menerima.
Queen yang mendengar Tuan Ryan protes menatap Gavin, Gavin hanya mengangkat bahunya dan berbisik, "Sayang, aku tidak sabar menjadikan mu istri ku. Menjadikan diri mu menantu di keluarga Menzies," ucapnya langsung mendapat tatapan tajam. Pikirnya, apa-apaan Gavin ini, beraninya dia berbicara seperti itu. Benar-benar minta di tinju.
Gavin hanya tersenyum, melihat tatapan tajam Queen. Baginya itu malah menggemaskan.
"Mom, apa orang-orang itu masih ingin menyakiti mommy?" tanya Davin yang tidak bisa di bohongi.
Tuan Ryan dan Nyonya Tania yang mendengar langsung menatap Davin, apa maksud yang di katakan-nya. Kenapa Davin sampai berbicara seperti itu. Apa selama ini sebelum Gavin mengetahui keberadaan mereka, Queen dan dua anaknya selalu dalam bahaya?
Queen benar-benar tidak bisa membohongi putranya itu. Ia menghela nafas dengan berat dan berkata. "Sayang, mommy akan baik-baik saja. Walaupun mereka berniat buruk kepada mommy, mommy pasti bisa mengatasinya. Kalian baik-baik lah disana, dan jangan khawatir kan mommy. Disini ada Daddy yang akan menjaga mommy,"
"Hm....Daddy akan menjaga mommy. Kalian tenang saja. Tanpa kalian minta, Daddy akan menjaga mommy sepenuh hati," ucapnya membuat Queen menatap nya dengan diam.
.
.
Setelah berbicara cukup lama Queen pun mengakhiri panggilannya dengan putranya. Dan kini berganti dengan Tuan Ryan yang berbicara dengan Gavin, ingin tahu apa yang terjadi dengan ibu dari cucunya itu. Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa wanita kasar itu bisa masuk rumah sakit," tanyanya ingin tahu, namun ia tidak menyadari bahwa rasa penasarannya itu sebenarnya adalah rasa perhatian.
"Ada sekelompok orang yang menyakiti Queen malam tadi. Beruntung aku datang tepat waktu dan menyelamatkan dia. Jika tidak, mungkin saja di sudah mati di tangan mereka,"
"Apa kau tahu siapa mereka?"
"Tidak. Tapi aku merasa mereka suruhan Om Arno," jawab Gavin berpikir dalang semuanya adalah Arno yang tidak terima dirinya menolak Laura.
"Kau yakin?"
Gavin mengangguk, "Mungkin saja. Karena hanya mereka yang saat ini aku curigai."
"Berhati-hatilah, papa yakin mereka tidak berhenti sampai disini saja. Kau jagalah wanita itu, dan jangan sampai dia terluka."
"Papa khawatir dengan nya?" tanya Gavin penuh selidik, tidak percaya papa nya akan berkata seperri itu. Seolah takut Queen terluka.
"Mana ada. Papa hanya tidak ingin kedua cucu ku sedih mengetahui jika mommy mereka terluka," jawabnya mengelak.
"Oh, aku kira," jawabnya membuat Tuan Ryan kesal, dan langsung memutus panggilan. Gavin yang melihat tersenyum kecil, dan menghampiri Queen yang berada di ranjang, karena saat dirinya menghubungi papanya, dia keluar dari kamar rawat tersebut.
.
.
.
Bersambung