
Di dalam perjalanan, Gavin menghubungi Queen, mengabarkan jika telah menemukan keberadaan Davin dan Devan. Sedangkan Queen yang mendengar merasa lega, saat mengetahui putranya dalam bahaya.
"Sayang, aku telah menemukan mereka,"
"Syukurlah. Apa mereka baik-baik saja?"
"Sepertinya iya, mereka baik-baik saja."
Tuan Ryan yang mendengar obrolan mereka sayang-sayangan memutar bola matanya, jengah. "Terlalu lebay," ucap Tuan Ryan mampu di dengar Queen di seberang telepon. Sedangkan Gavin menatap papanya, apa maksudnya. Tapi saat mengetahui Papanya memang tidak menyukai Queen, ia hanya menghela nafas.
"Siapa itu?"
"Mertua mu," jawab Gavin membuat Tuan Ryan mendelik. Sejak kapan dia memiliki menantu kasar seperti itu.
"Siapa yang mertuanya. Aku tidak memiliki menantu kasar dan bar-bar," jawab Tuan Ryan, namun merebut ponsel Gavin dengan cepat dan berbicara dengan Queen.
"Menantu kasar, apa kau telah mengetahui siapa pelakunya?" tanyanya menyebut Queen sebagai menantunya.
Sedangkan Gavin yang mendengar mencibir dalam hati. "Katanya tidak suka, tapi nyatanya memanggil dengan panggilan menantu, yah walaupun dengan kata kasar. Dasar pria tua, lain di bibir lain di hati."
Queen yang mendengar opa dari putranya memanggil dirinya menantu kasar memutar bola matanya, jengah. "Mulut pria tua minta di plaster," batin Queen ingin sekali menyumpal mulut itu karena berani berkata seperti itu padanya. Jika tidak mengingat pria itu pria yang sudah tua, sudah di pastikan akan Queen pukul bokongnya.
"Hm....Jawab Queen sangat singkat dan membuat Tuan Ryan begitu kesal.
"Menantu tidak ada akhlak. Aku bertanya,kenapa hanya jawab hm...saja."
"Lalu?"
Tuan Ryan benar-benar kesal dengan melempar ponsel itu dengan kasar kepada Gavin. Gavin yang panik dengan cepat menangkapnya. "Pa,"
"Apa? "Kesalnya bersedekap dada menatap jalanan di depan. "Bilang sama wanita mu itu, bunuh pria bajdingan itu. Jika tidak, jangan harap dia bisa masuk dalam keluarga Menzies."
Queen yang mendengar menghela nafas dengan berat.
"Siapa juga mau menjadi menantu anda," jawab Queen yang dapat di dengar Tuan Ryan dan itu membuatnya mendelik, semakin kesal dengan wanitanya putranya itu.
"Bagus jika kau tidak mau. Tapi untuk Davin dan Devan jangan harap kau bisa menemuinya," jawab Tuan Ryan membuat Queen menyipitkan mata. Apa-apaan pria tua itu. Bukankah itu sama saja mendesaknya harus menjadi menantunya jika ingin terus bersama dengan putranya. Pemikiran yang licik. Sedangkan Tuan Ryan tertawa dalam hati, senang.
.
.
Setelah sampai di kediaman Keluarga Tesla, mereka turun dan langsung di sambut oleh seorang kepala keluarga, Pak Wu dan mempersilahkan mereka untuk masuk, karena tuan mereka telah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Silahkan, tuan," Gavin dan Tuan Ryan mengangguk dan masuk.
Davin dan Devan yang mengetahui Daddynya akan datang langsung berlari saat tahu Daddynya telah sampai. Devan melompat dan minta di gendong. Sedangkan Davin diam, berdiri hanya menatap Daddynya. Gavin yang tahu sikap Davin, menyerahkan Devan pada papanya. Sedangkan dirinya berjongkok dan mengelus wajah putranya.
"Apa kamu tidak merindukan Daddy?"
Davin diam, menatap lama wajah Daddynya. Dan setelah itu memeluk Daddynya dengan mata berkaca-kaca. "Aku merindukan Daddy?" Walaupun terlihat berani, sebenarnya Davin sama seperti anak sebelumnya. Hal yang di alami dengan Oma nya membuatnya benar-benar takut, takut tidak dapat bertemu dengan Daddy dan Mommynya.
Semua yang melihat terharu, Nyonya Annora dan Chloe menyandarkan kepalanya di bahu suaminya masing-masing. Ingin merasakan hal seperti itu.
Mata Chloe berkaca-kaca, air mata menetes di bahu suaminya. Jaeden yang melihat mengelus kepala itu, berharap Chloe bisa tenang.
"Kita pasti akan bertemu dengan Quesha,"
Chloe mengangguk, iya. Dia yakin suatu saat pasti akan bertemu dengan putrinya yang hilang entah kemana.
Keramaian dan hal yang terjadi di kediaman Keluarga Tesla di ketahui oleh seseorang. Dan seseorang itu langsung menghubungi tuannya, mengatakan jika di kediaman itu begitu ramai. Mungkinkah telah menemukan Quesha, gadis kecil yang pernah dibuatnya menghilang.
"Apa kamu tidak salah memberikan informasi?" tanya Tuan tersebut.
"Untuk memastikan benar tidak nya saya belum terlalu yakin, tuan. Karena penjagaan di kediaman Tesla amat-amay sangat ketat. Dan itu susah untuk saya mengetahuinya,"
"Hm... Baiklah, terus awasi. Jika memang anak Chloe Dominic telah di temukan, Wanita itu pasti akan kembali turun tangan di dunia nya lagi. Dan itu akan membuat kita repot karena berurusan dengan wanita kejam itu,"
"Baik, tuan," jawabnya dan memutus panggilan. Dan setelah itu pergi dari tempatnya.
Orang tersebut akan menyelidiki apakah benar telah kembalinya Quesha Aquena Tesla di keluarga Tesla. Dan jika dugaannya benar, secepatnya mereka harus bergerak, menghancurkan Mafia GEROGRE LORIDZ yang saat ini di pegang oleh Tristan, si anak berhati dingin itu dan membunuhnya.
.
.
Sedangkan Tristan yang berada di Negara C kesal karena terus saja tidak bisa bertemu dengan wanita bernama Queen itu. Bagaimana cara dia memastikan, jika Queen sendiri selalu tidak bisa menemui karana banyaknya urusan yang di lakukan, yaitu memantau pergerakan Arno yang kini terus menyelidiki siapa pelaku yang membuat Laura terluka.
Queen tersenyum senang, melihat Arno yang kacau. setiap kali dia memberi perintah kepada anak buahnya untuk menyelidik Queen, Queen selalu membunuh dan melenyapkan orang tersebut dan hal itu berhasil membuat Arno sangat-sangat marah
"Dasar wanita jala-ng. Aku yakin dialah yang telah melakukan hal ini," marahnya membuat Fanny bingung, siapa yang di maksud suaminya itu.
"Siapa yang papa maksud?"
"Wanita yang membuat Gavin berpaling dari Laura,"
Fanny terkejut, jadi ulah di balik semuanya adalah wanita yang merebut calon menantunya. Sungguh tidak bisa di biarkan.
"Kamu harus melakukan sesuatu pada wanita itu pa,"
"Aku sudah melakukan banyak hal pada wanita itu, termasuk mengirim anak buah ku untuk membunuhnya. Tapi apa, wanita itu selalu saja bisa lolos dan selamat. Malah sebaliknya, anak buah ku yang mati di tangan wanita jala-ng itu,"
Fanny tidak percaya jika wanita itu mampu mengatasi anak buah suaminya. Jika memang yang di katakan suami benar, wanita itu tidak bisa di anggap remeh.
.
.
.
Bersambung