
Calvin yang mendapatkan panggilan dari Chloe langsung meminta seorang bawahannya menjemput nyonya nya. Ia tidak bisa menjemput karena sedang menunggu tuan mudanya yang sedang di operasi.
Orang yang di perintah pun langsung pergi menjemput bos mereka. Dan saat tahu ke adaan nya, bawahan itu langsung membawa pergi ke rumah sakit di mana Tristan di rawat.
Jaeden yang mengetahui anak dan istrinya berada di rumah sakit langsung menjenguk, melihat ke adaan mereka berdua. Dan saat tahu mereka terluka, bahkan Tristan mendapatkan luka yang serius, Jaeden hanya bisa menghela nafas dengan kasar. Ia tahu pasti mereka berdua bertarung dengan seseorang. Jaeden sebenarnya tidak suka melihat anak dan istrinya berkecimpung di dunia hitam yang bahaya itu. Tapi ingin melarang rasa nya tidak mungkin karena apa yang mereka teruskan adalah milik ayah mertuanya yang tidak bisa di bantah itu.
Affandra dan Annora juga ikut ke rumah sakit untuk melihat ke adaan mereka berdua. Mereka juga sama menghela nafas dengan berat saat mengetahui keadaan mereka.
"Apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini?" tanya Affandra pada Chloe yang berada di ranjang pasien.
"Hanya ingin menyelamatkan cucu ku pa," jawab Chloe membuat Affandra dan Annora saling pandang. Cucu? Cucu yang mana?" tanyanya tidak tahu. Berbeda dengan Jaeden yang telah tahu.
"Memang apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak memberi tahu ku?"
"Mereka di culik oleh musuh ku," jawab Chloe menjelaskan dan Jaeden terkejut. Di culik? Lalu bagaimana dengan kedua cucunya itu, apakah baik-baik saja. Perasaannya tidak enak, takut terjadi sesuatu dengan Davin dan Devan.
"Lalu bagaimana keadaannya?" Chloe menggelengkan kepala, tidak tahu karena dirinya yang sudah lelah bertarung dengan Lucas membuatnya tidak bisa mencari keberadaan mereka. Tapi Chloe yakin Gavin akan menemukannya
"Aku tidak tahu, apa mereka baik-baik saja atau tidak. Tapi sebelumnya aku telah meminta Gavin untuk mencari dimana mereka. Dan aku yakin sekarang pasti mereka telah menemukannya," jelas Chloe pada Jaeden.
Affandra dan Annora yang mendengar apa yang mereka obrolkan tidak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi? Itulah apa yang mereka pikirkan.
Rasa penasaran Affandra tentang pembicaraan itu, dan tentang cucu yang di katakan Chloe, Affandra meminta penjelasan dengan sejelas-jelasnya. Ia tidak ingin ketinggalan info penting.
"Jelaskan semua, jangan membuat Mama mu dan papa mu ini penasaran," seru Affandra ingin tahu
Jaeden dan Chloe saling pandang, dan akhirnya menjelaskan semuanya tentang dirinya yang mengetahui Quesha masih hidup dan saat ini telah memiliki anak, yang berarti mereka telah memiliki cucu. Baik Affandra dan Annora benar-benar terkejut mendengar penjelasan itu. Mereka tidak percaya jika Quesha masih hidup dan kini telah memiliki anak, bahkan kembar.
Affandra dan Annora merasa bahagia. Tapi saat mengingat Davin dan Devan dalama bahaya mereka berdua sangat khawatir.
"Kita harus mencarinya segera. Papa khawatir dengan keadaan mereka, takut terjadi sesuatu dengan mereka berdua,"
Jaeden mengangguk, ia juga sangat khawatir dengan keadaan mereka. Dan akhirnya Jaeden, Affandra dan Chloe yang masih terluka, berangkat ke tempat dimana pergi Laura sebelumnya.
Chloe tidak peduli dengan kesehatannya, menurutnya setelah meminum obat tubuhnya sudah lebih baik, tidak lemah lagi. Dan kini mereka pergi ke tempat Laura berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan Queen dan Gavin kini sampai di tempat yang di tuju, menatap bangunan mewah yang cukup besar dan jauh dari kota.
Queen tidak menjawab, sudah malas. Terlalu banyak Gavin bertanya membuatnya kesal. Queen memegang senjata apinya di kedua tangannya, masuk dengan mengendap-endap dan Gavin pun akhirnya mengikuti.
Queen melihat sekeliling, terasa sepi. Queen mengerutkan kening, seperti ada yang aneh.
Dan saat dirinya hendak melangkah, pintu terbuka. Nampak Laura menyeret kedua putra nya dengan kasar. Queen dan Gavin yang melihat terkejut, marah karena putranya di perlakukan buruk oleh wanita gila itu.
Queen tidak tahan melihat hal itu, dan dengan cepat ia berlari menghampiri Laura.
"Berhenti!" seru Queen dan membaut Laura yang mendengar langsung berhenti.
"Queen," Laura terkejut saat melihat Queen ada di tempat itu, bahkan dia bersama dengan Gavin.
Laura mundur, menarik Davin dan Devan yang matanya sayu karena lemah. Menahan leher itu dengan lengannya sambil tangannya memegang senjata yang di arahkan ke kepala Devan.
"Mau apa kau?" tanya Laura bodoh. Sudah jelas Queen datang pasti karena dua anak yang di sanderanya itu.
"Lepaskan kedua anak ku, atau ku bunuh kau," ancamnya dengan suara dingin, dan tatapm tajam.
"Tidak akan," jawab Laura masih kukuh dan semakin menegang leher Davin dan Devan, membaut pernapasan mereka sesak.
"Lepaskan anak ku!" bentak Queen saat melihat wajah kedua anak nya seperti kesakitan kesakitan.
"Mom," seru Davin dan Devan lirih, sangat lirih sampai-sampai Queen dan Gavin tidak mendengar.
"Tidak akan. Jika kau berani mencoba mengambil mereka dari ku, aku akan membunuhnya sekarang di depan mata mu," jawab Laura dengan nada tak kalah tinggi.
"Berani kau mengancam ku, akan ku bunuh kau wanita sialan," marah Queen dengan sangat marah.
Queen tidak bisa menahan emosinya, tangannya gatal ingin segera mencincang tubuh Laura. Tapi saat di tangan wanita itu ada senjata yang pelurunya siap menembus kepala putra nya, Queen menahannya dan memutar otaknya mencari cara agar bisa lebih dulu menyelamatkan putranya. Dan setelah itu membunuh Laura si wanita sialan itu.
.
.
.
Bersambung