
Setelah kepergian Arno dan seluruh keluarga Patrice hari hari Queen begitu tenang. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tristan yang menyelidiki tentang Queen, kini terus membuntuti kemana Queen pergi. Dan itu membuat Queen benar-benar kesal.
Seperti saat ini, Queen yang baru pulang dari bekerja harus berlari dari bersembunyi demi menangkap pelaku yang membuntutinya.
Queen bersembunyi, mengintip Tristan yang kini mencari keberadaan nya.
"Kemana dia?" gumamnya melihat sekeliling, kehilangan jejak.
Tristan kembali berlari kesana kemari, mencari keberadaan Queen. Namun tetap tidak menemukannya.
"Kemana pergi nya," kesal karena tidak menemukan Queen. Ia memanggil anak buah bayangannya untuk membantunya menemukan keberadaan Queen.
"Temukan dia untuk ku," perintahnya dengan tegas.
"Baik, tuan muda," jawab mereka dan langsung menyebar mencari keberadaan Queen.
Queen yang melihat pria muda itu memanggil bawahannya menatap dingin, ternyata pria itu memiliki beberapa pengawal di sekelilingnya.
Queen tersenyum menyeringai, otaknya langsung memikirkan hal licik. "Akan ku buat kau menyesal," batinnya dengan niat jahat.
Queen yang melihat bawahan Tristan pergi, menampakkan diri, berlari menjauh dari Tristan. Tristan yang melihat pergerakan Queen, langsung menyusul untuk menangkap Queen, dan melakukan apa yang diinginkannya. Membawanya ke rumah sakit untuk di lakukan Tes DNA.
Tristan tidak sabar dan merasa membuang waktu jika terus seperti itu, tidak langsung ke inti niatnya, membuktikan jika Queen adalah kakak kandungnya.
"Sial! Kenapa larinya cepat sekali," gerutunya dan mengejar dengan berlari cepat.
Tristan terus mengejar dan akhirnya menyusul Queen karena Queen sendiri berhenti di taman yang sepi. Queen membalikkan tubuhnya dan menghadap Tristan, menatapnya dengan senyum seringainya.
Tristan yang melihat mengerutkan kening, berpikir ada apa dengan wanita di depannya ini, kenapa menatapnya dengan tatapan aneh.
"Aku merasa dia merencanakan sesuatu," batinnya dengan perasan tidak enak.
Dan benar saja, Queen berjalan pelan dan centil, mendekati Tristan yang diam. Tatapan nya tidak lepas sedikitpun dengan apa yang di lakukan Queen, menyentuh tubuhnya dengan jari lentiknya.
"Ternyata kau cukup tampan, aku menyukainya," ucapnya dengan suara merdu.
Tristan tetap diam di tempat. Sedangkan Queen mengelilingi tubuhnya masih menyentuh dengan jari lentiknya. Dan tiba-tiba, kakinya menendang lutut Tristan membuat Tristan jatuh dan mencekik lehernya dengan lengannya, menahan Tristan dengan kekuatannya.
"Hei, apa yang kau lakukan? Lepaskan!" pintanya memberontak, mencoba melepas cekikan itu.
"Kau pikir bisa lepas dari ku," ucap Queen dengan senyum licik. "Keluar kalian," teriaknya pada anak buahnya yang bersembunyi.
Tristan yang melihat beberapa pria muncul dan kini ada di hadapannya terkejut. Dari mana asal mereka? Kenapa dia tidak menyadari?
"Ikat pria ini, dan bawa ke tempat ku," perintahnya membuat Tristan melotot.
"Hei apa yang mau kalian lakukan?" seru Tristan melihat mereka mendekati dengan bawa tali untuk mengingatnya. "Apa yang kalian lakukan? Jangan coba-coba menyentuh ku. Jika kalian betani___"
"Jangan pedulikan ucapannya. Cepat lakukan," perintahnya dengan tegas.
"Tidak....." Hilang sudah wibawa dan sikap dingin serta datar Tristan di hadapan Queen. Dan kini dirinya harus menjadi tawanan wanita yang yakini kakaknya.
"Lepaskan aku, lepaskan aku," teriaknya tidak terima di perlakukan seperti itu. Bagaimana tidak, saat ini Tristan bagaikan babi yang hendak di sembelih. Tangan dan kaki di ikat dan tubuhnya di angkat menggunakan kayu.
Semuanya tidak peduli dengan teriakan Tristan, Begitu pun dengan Chloe yang nampak acuh. Melihat itu Tristan begitu kesal, ia mengumpat dalam hati kakaknya itu. Eh, belum tentu kakaknya ya, karena belum dapat bukti bahwa Queen benar-benar kakaknya.
"Dasar calon kakak tidak punya hati," batinnya kesal, "Aku sumpahin kau menjadi kakak ku sungguhan."
Tristan pun kini di bawa ke rumah Queen, di ikatnya di sebuah kursi dengan tali yang melilit di tubuhnya. Sedangkan anak buah Tristan kini kalang kabut saat kembali karena tidak menemukan keberadaan tuan mudanya. Mereka mencari keberadaan tuan mudanya di sekita tempat itu. Namun hasilnya tetap nihil dan hanya bisa pasrah akan nasib mereka yang akan mendapat kan hukuman dari asisten bos mereka.
"Apes,"
.
.
Huaaah.....Queen menguap, matanya terasa begitu ngantuk. Ia beranjak untuk menuju kamarnya, beristirahat karena tubuhnya begitu lelah.
"Mau kemana kamu?"
"Tentu saja tidur, memang apa lagi?"
"Lepaskan aku,"
"Melepaskan mu?" Tristan mengangguk, berharap Queen melepaskan. Queen berpikir cukup lama, membuatnya mengira Queen akan melepaskannya. Tapi nyatanya tidak, dan itu semakin membuat kesal.
"Jangan harap." jawab Queen meninggalkannya dan masuk ke kamar, menutup pintu dengan kuat.
Kini di ruangan itu hanya ada dirinya dan dua pengawal Queen yang menjaganya, takut jika dirinya kabur.
.
.
Pagi hari Tristan harus menelan ludah dengan kasar saat melihat seseorang makam ayam goreng di depannya. Perutnya yang sejak tadi berbunyi ingin segera di isi mencoba meminta, tapi Queen tidak peduli. Itu adalah hukuman Queen untuk Tristan.
"Kau ingin membunuh ku?" tanya Tristan
"Tentu saja. Apakah sekarang kau takut?"
"Tidak sama sekali."
Queen tertawa keras mendengar jawaban pemuda di depannya. "Katakan apa mau mu mengikuti ku selama ini?" tanya Queen dengan nada yang begitu dingin, membuat Tristan lain karena mata itu tidak seperti Queen sebelumnya. Menakutkan dan nampak mengerikan
Tristan tidak lekas menjawab, ia masih diam menatap wajah yang kini sangat dengan dekatnya. Sungguh sangat mirip dengan Mommynya yang sedang dalam mode serius dan kejam.
"Katakan, atau aku akan merobek mulut mu," ucapnya lagi dengan nada yang masih sama
"Tidak ada," jawab Tristan cepat membuat Queen menyipitkan mata. Tidak ada katanya! Heh, dia pikir Queen akan percaya.
"Kau pikir aku akan percaya anak muda," ucap Queen mengangkat dagu Tristan. "Aku bisa membunuh mu saat ini. Asal kau tahu, aku bukanlah wanita baik yang seperti kau lihat sebelumnya. Aku bisa saja menjadi kejam jika ada orang yang mencoba bermain dengan ku. Jika kau sayang nyawa mu, lebih baik katakan sekarang tentang tujuan mu mendekati ku,"
Glek....
Tristan menelan ludah mendengar ancaman tersebut. Jika biasanya dirinya lah yang selalu mengancam orang, kini dirinya lah yang ganti di ancam oleh seseorang. Dan itu benar-benar tidak enak.
"Jadi begini rasanya di ancam orang lain," batin Tristan terkikik, sungguh keadaan yang terduga.
.
.
.
Bersambung
Maaf, sejak sore tadi kepala author sakit. Jadi tidak bisa menulis. Lihat tulisan dah puyeng tujuh keliling. Alhamdulillah dah sembuh. Jadi jangan lupa Like, komen dan Votenya ya untuk mengobati puyeng Author yang tadi.
Mis you😘😘😘😘