
Dengan tubuh terluka Damian memaksa dirinya untuk melawan kembali Queen. Sebelum itu ia melihat sekelilingnya, melihat anak buahnya yang melawan anak buah Queen. Terlihat disana, anak buahnya banyak yang mati. Sedangkan anak buah Queen lebih mendominasi membuat nya sedikit Frustasi. Entah kenapa ia merasa akan kalah dalam pertarungan ini.
Tapi saat melihat didepannya hanyalah seorang wanita, Damian tidak ingin menyerah. Asal dapat membunuh ketuanya, ia yakin akan menang dan anak buah Queen akan mengakui kekalahan.
"Ya, cukup membunuh wanita ini maka semuanya akan baik-baik saja," batinnya mengambil memegang dua senjata berbeda milik Ardo. Pistol dan senjata tajam.
Damian berdiri dengan tatapan tajamnya. Pandangannya begitu dingin, namun Queen tak kalah juga. Dia yang memiliki jiwa dunia lain yanh sering berperang tidak gentar dengan tatapan itu. Ia malah balik membalas lebih tajam dan mendominasi, membuat Damian yang melihat sedikit menelan ludah.
"Kenapa tatapan itu berubah? Tidak seperti sebelumnya," batinnya yang melihat Queen seperti orang lain.
Queen juga sama, dia memegang dua senjata yang berbeda. Tapi kali ini bukanlah sebuah pisau, melainkan pedang panjang yang di ambilnya asal di dekatnya, mungkin saja itu milik anak buahnya atau anak buah Damian.
Sing....
Queen memegang pedangnya layaknya wanita pada Zaman Kuno. Ia menggunakan pedang itu untuk menangkis peluru yang mungkin saja di lesatkan Damian padanya . Sedangkan tangan kiri, ia gunakan untuk memegang pistol dan untuk balas menembak Damian.
Queen maju, begitu pun Damian.
Trang....
Tombak berujung pisau itu saling bertabrakan dengan pedang Queen. Queen menekan, menahan kekuatan Damian, menatap pria itu dengan tatapan datar dan dingin.
Kakinya bergerak, menendang, membuat Damian Reflek menghindar dan mundur. Dan dari aksi yang di lakukan Damian membuat Queen memiliki kesempatan. Tubuh Queen berputar sambil menebaskan pedang panjangnya ke arah Damian, dan Damian kembali menghindar. Setelah itu saat tubuh Queen berbalik, ia menarik pelatuk pistolnya dan menembakkan nya ke arah Damian.
Door....
Satu tembakan melesat tepat di lengan kanan Damian, membuatnya langsung menjatuhkan tombak berujung pisau tersebut.
Senyum seringai terbuat di bibir Queen, saat melihat Damian berhasil ia lukai kembali.
Queen tidak membuang kesempatan. Ia maju dan menyerang menggunakan pedangnya kembali. Damian yang kini hanya memegang pistol membidikkan pistol itu ke arah Queen.
Door...
Door...
Door...
Beberapa tembakan melesat ke arah Queen,dan menangkis setiap peluru menggunakan pedangnya dengan gerakan cepat.
Peluru-peluru itu jatuh ke tanah karena tidak berhasil menembus tubuhnya. Damian yang melihat Queen dapat menghindari tembakannya terkejut. Ia tidak menyangka Queen mampu menghindari setiap pelurus yang melesat kearahnya. Dan lebih terkejutnya semua berhasil di tangkis oleh Queen.
Damian yang melihat seperti tidak percaya dengan aksi yang di lakukan Queen. Jarang ada yang bisa menangkis peluru begitu banyak dalam satu gerakan. Ia seakan berada dalam Film khayalan yang berada di televisi.
Queen yang melihat Damian sangat terkejut tidak membuang kesempatan. Ia melompat dan berputar, menebaskan pedangnya ke tubuh Damian dengan gerakan cepat, membuat Damian tidak bisa mengelak kembali.
Craaas...
Tangan Damian terpotong oleh pedang Queen yang tajam, dan darah mengalir deras membuat Damian memekik kesakitan.
"Kau kalah," ucap Queen dengan nada dingin.
Damian mendongak menatap wajah yang kini tidak cantik lagi karena kotor akibat pertarungan mereka tadi.
"Ya, aku mengaku kalah," jawab Damian mengakui kekalahannya. Dan Queen tanpa berbelas kasih, menarik pelatuk pistolnya dan menembak kepala Damian dengan dua peluru sekaligus.
Door...
Door...
Peluru itu langsung menembus isi kepala Damian, dan darah menetes di wajahnya. Ambruk dan mati dalam keadaan mata terbuka.
Melihat Damian yang telah mati di tangannya, Queen melepas senjata yang di pegang nya. Dan setelah itu ikut ambruk saat merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya. Queen menahan rasa sakit akibat pertarungan yang sebelumnya tidak di rasa. Setelah selesai baru ia merasakan sakit itu. Dan ternyata darah membasahi tubuhnya.
Lucifer yang sedang membantu anak buahnya menghabisi Mafia THE EAGLE, terkejut saat tidak sengaja matanya melihat ke arah Queen yang tergeletak di tanah bersama dengan Damian. Lucifer dengan wajah panik langsung berlari ke arah Queen dan melihat apa yang terjadi. Lucifer berharap apa yang di pikirkan nya salah, Nonanya tidak mati sat pertarungan akhir dengan Damian.
"Semoga saja tidak, semoga saja tidak," batin Lucifer berlari cepat menuju Queen.
Saat sampai di dekat Queen, Lucifer mengangkat kepala Queen dalam pangkuannya. Di lihatnya Nonanya masih mengernyitkan dahi, seperti menahan sesuatu. Mungkin karena luka di tubuh.
"Nona," panggil Lucifer dengan mengelus lembut wajah Queen. Lucifer sendiri sudah menganggap Queen seperti adiknya sendiri. Hidup tanpa keluarga dan hanya bergantung pada King membuatnya menganggap Queen adik perempuannya. Dan saat melihat Queen terluka, membuat perasaannya kalut dan cemas.
Tanpa menunggu Queen menjawabnya, Lucifer mengangkat tubuh Queen dan membawanya pergi dari tempat itu. Tapi sebelumnya Lucifer berseri dengan keras pada pihak Mafia THE EAGLE, mengatakan jika tuan mereka telah kalah. Dan jika dari mereka masih ada yang melawan, maka mereka akan di bunuh di tempat itu juga, di bakar bersama dengan tuan mereka.
.
.
Lucifer membawa Queen ke rumah sakit. Ia mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi, takut Queen tidak terselamatkan. Lucifer juga menghubungi King, mengatakan jika Queen terluka cukup parah dan saat ini sedang menuju rumah sakit.
King yang mendengar dengan panik langsung pergi ke rumah sakit yang di beritahukan Lucifer. Rasa khawatir takut kehilangan cucu perempuannya membuatnya tergesa-gesa, bahkan dia memaki dan memarahi supirnya yang menurutnya lambat dalam menyetir.
Lucifer yang sudah sampai di ruang sakit langsung memberi perintah pada beberapa Suter untuk segera membawa Queen ke ruang operasi. Bahkan dia mengancam beberapa dokter untuk menyelamatkan Queen. Jika mereka gagal, maka nyawalah yang akan menjadi taruhan mereka. Dengan ketakutan karena tahu siapa pria di depannya yang berani mengancam seenak jidat, dokter itu menyanggupi dan akan melakukan yang terbaik untuk pasiennya itu. Berharap pasiennya dapat di selesaikan dan nyawa mereka selamat.
Lucifer sendiri tidak memperdulikan lukanya. Yang saat ini ia pikirkan hanya keselamatan nonanya. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada adik perempuannya. Dan jika pun Queen tidak dapat di selamatkan, Lucifer tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Queen dari tangan Damian.
.
.
.
Bersambung
Selamat membaca, jangan lupa like komen dan votenya.🥺🥺