My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 40, Pergi mencari Arno dan Laura.



Gavin menceritakan semua apa yang terjadi di keluarga Menzies, tentang kelompok yang hendak membunuh seluruh keluarga. Queen yang mendengar langsung marah, beraninya mereka ingin menyakiti kedua putranya.


"Apa kau tahu siapa mereka?"


"Dari apa yang di katakan papa, mereka anak buah suruhan Arno, papa Laura. Beruntung papa cepat tanggap dan meminta mama untuk membawa pergi putra kita, jadi mereka tidak mengetahui dimana mereka sekarang,"


Queen merasa lega mengetahui kedua putranya tidak di tangkap oleh mereka. "Lalu dimana mereka berdua saat ini?" Gavin menggeleng. Mengatakan tidak tahu keberadaan mama dan putra mereka. Sebelumnya papa nya telah menghubungi, namun ponsel Mama Tania tidak aktif, jadi tidak di ketahui keberadaannya saat ini.


"Apa kita akan pergi saat ini juga untuk mencari mereka?"


Queen diam, tangannya mengepal dengan erat. Pikirannya melayang kemana-mana. Takut terjadi sesuatu dengan kedua putranya yang saat ini tidak di ketahui keberadaannya. "Kamu pulanglah, aku ingin sendiri," usir Queen pergi meninggalkan Gavin yang bingung dengan sikap Queen.


"Kenapa malah mengusir ku?" gumamnya dan menyusul.


Queen naik di motornya, namun di cegah oleh Gavin. "Sayang, kenapa malah mengusir ku? Apa kamu tidak ingin mencari keberadaan nya,"


Queen menatap pria di depannya, ia menghela nafas dan berkata. "Kau pergilah. Cari Davin dan Devan. Aku ada urusan disini. Temukan mereka untuk ku," Queen pergi meninggalkan Gavin yang benar-benar bingung. Bukannya mencari beruda, tapi ini malah memerintahkannya saja mencari anak mereka. Seolah Queen tidak peduli akan keselamatan Davin dan Devan.


Gavin kembali, dan menghampiri beberapa pria yang di sewanya. "Kalian jaga wanita ku, jangan sampai dia terluka,"


"Baik, tuan,"


Gavin pun pergi. Malam ini ia akan kembali ke Negara J untuk mencari keberadaan kedua anaknya. Sedangkan untuk Queen, ia menyerahkan keselamatan nya kepada kelompok yang di sewanya.


.


.


Di sebuah Cafe, dua orang sedang menunggu kedatangan seseorang. Mereka adalah Tristan dan Sevana yang saat ini menunggu kedatangan Queen.


Sudah pukul 10 malam, tapi batang hidung Queen belum juga terlihat. Dan itu membuat Sevana kesal. "Kemana anak itu? Kenapa sampai sekarang belum nongol juga,"


"Mungkin dia lupa. Coba kau hubungi dia," ucap Tristan dan di angguki Sevana.


Sevana pun menghubungi nomor Queen. Berdering, tanda ponselnya aktif. Tapi cukup lama, si pemilik nomor tidak menjawabnya dan itu membuat Sevana semakin kesal.


"Kemana sih dia? Katanya pulang kerja mau ketemu, tapi kenapa malah tidak di angkat," Gerutunya dan emnghubungi kembali.


Dua kali tiga kali, Sevana menghubungi, akhirnya panggilan pun di angkat Queen.


"Ya, ada apa Sevana?" tanya Queen yang saat ini baru sampai di rumah.


"Kau bilang ada apa? Apa kau lupa malam ini kita akan bertemu di kafe?"


Queen diam, mengingat janjinya dengan Sevana, dan ternyata ia melupakannya. "Maaf aku lupa. Aku ada urusan, jadi tidak bisa menemui mu untuk malam ini. Kain kali kita bertemu ya," jawab Queen dan langsung memutus panggilan, membuat Sevana mengerutkan kening bingung. Ada apa dengan Queen? Tidak seperti biasanya. Apalagi saat mendengar nada Queen yang nampak dingin. Mungkinkah terjadi seuatu dengan nya?


"Bagaimana?" tanya Tristan yang melihat Sevana selesai menghubungi Queen.


"Malam ini dia tidak bisa, katanya ada urusan. Tapi dari nada dia berbicara, seolah ada sesuatu yang terjadi," Tristan diam mendengarkan. Ingin bertemu, tapi nyatanya tidak bisa. "Kita pergi ke rumah Queen, aku takut terjadi sesuatu dengan nya," Sevana menarik tangan Tristan, mengajaknya pergi ke rumah Queen.


.


.


Sebelum itu, ia menangkap seorang yang selalu memantau nya, anak buah King. Memaksanya untuk mencari keberadaan dimana kediaman Arno Patrice. Dan setelah berhasil mendapatkan alamat rumah Arno, Queen meminjam mobil orang tersebut membawanya untuk pergi ke tempat Arno berada.


Sebelumnya Queen bertanya pada orang tersebut, kenapa selalu memantau nya, dan pria itu menjelaskan bahwa tidak ada niat buruk padanya, hanya untuk menjaga keamanannya atas perintah tuan yang tidak di ketahui, karena orang tersebut tidak mengatakan siapa nama tuannya. Dan Queen tidak mempermasalahkan asalnya tidak membuatnya dalam bahaya, malah sebaliknya akan menjaganya dalam bahaya.


Setelah urusannya nanti dengan Arno selesai, ia baru akan mengurus siapa tuan dari orang yang memerintah mereka. Untuk saat ini prioritasnya adalah memberi pelajaran pada Laura atau Arno karena berani ingin menyakiti putranya.


Queen pergi sendiri tanpa ada yang menemani. Tapi King yang mengatahui tidak membiarkan cucunya pergi sendiri. Ia meminta beberapa anak buahnya untuk mengikuti dan menjaga Queen jika Queen dalam bahaya. Tapi jika Queen sendiri mampu, mereka hanya boleh memantaunya dari jarak jauh saja. Mmebiarkan Queen mengatasi masalahnya.


"Ikuti dia. Jika dia dalam bahaya lindungi,"


"Baik, tuan," jawab mereka dan pergi, menyusul Queen.


King menatap langit malam penuh bintang, berharap tidak terjadi sesuatu dengan cucunya. Untuk masalah apa yang membuat Queen sampai menghampiri Laura dan Arno, belum ia ketahui. Dan ia akan mencari tahu setelah ini.


Tak lama Queen pergi, datang sebuah mobil mewah. Pintu terbuka, terlihat dua anak muda datang kerumah Queen. Mereka adalah Sevana dan Tristan. King yang melihat menghampiri, ingin tahu ada keperluan apa mereka datang malam-malam begini.


"Anak muda, sedang mencari siapa?" tanya King pada mereka berdua.


"Eh kakek, saya datang ingin menemui Queen. Jika boleh tahu, apakah Queen ada di rumah?" tanya Sevana menatap pria tua yang pantas di sebut kakek.


King menatap mereka berdua dari atas hingga bawah, membuat mereka berdua diam. Sedangkan Tristan yang di tatap malah memberikan tatapan dinginnya, tidak senang akan tatapan pria tua yang menyelidik itu.


"Queen tidak ada. Lebih baik kalian pergi?"


"Tidak ada kemana?" tanya Sevana ingin tahu.


"Aku tidak tahu. Aku bukan bapaknya. Hanya saja Queen pergi barusan, tidak tahu kemana perginya," jawabnya pergi, mengabaikan.


Sevana yang tidak puas dengan jawaban itu menghentikan langkah King. "Kek, tunggu."


"Ada apa?" king berhenti menatap gadis itu, ingin tahu apa yang di inginkan gadis cantik di depannya.


"Kakek pasti tahu dimana Queen berada kan? Kami mohon, katakan dimana dia saat ini,"


"Aku ini bukan keluarganya, aku hanya tetangganya. Tidak tahu kemana dia pergi. Lagian jika aku tahu, aku juga tidak akan mengatakan kepada kalian yang tidak di katahui dari mana asal kalian berdua ini."


Tristan yang sedari tadi diam, langsung mendekat, dan menjawab. "Kami temannya. Sebelumnya dia ada janji bertemu dengan kami. Tapi hingga saat ini dia tidak muncul, jadi kami berniat untuk mencarinya, takut terjadi sesuatu dengannya."


"Kalian dari keluarga mana?" Tanya King tidak pernah melihat Queen berteman denga dua anak muda itu.


Mereka berdua tidak menjawab, tidak ingin mengatakan dari mana asal keluarganya. Dan itu membuat King tidak peduli, pergi meninggalkan mereka berdua.


.


.


.


Bersambung