My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 58, Bantuan Dari Jaeden.



Gavin menghubungi nomor Jaeden dan panggilan pun tersambung. Namun cukup lama, Jaeden tidak menjawabnya, karena saat ini dia sedang melakukan dengan klien nya.


Jaeden sendiri tahu ada yang menghubunginya, namun dia mengabaikan, tidak enak menjawab telepon saat klien nya sedang menjelaskan kerjasama perusahaan.


Gavin yang panggilan nya tidak di jawab semakin panik, tidak ingin terjadi sesuatu dengan Davin dan Devan.


"Tuan, angkatlah," gumam Gavin berharap Jaeden mengangkat panggilan.


Drrt....


Drrt....


Ponsel itu terus berdering, membuat Klien Jaeden menatap ponsel milik Jaeden yang ada di meja.


"Tuan, angkat saja. Mungkin itu penting,"


Jaeden menatap ponselnya, nomor tidak di kenal, karena dasarnya Jaeden tidak memiliki nomor Gavin. Jaeden menyerahkan ponselnya pada Leon, asistennya. Memintanya untuk menjawab panggilan itu.


Leon mengambil dan menjauh dari tempat tuannya berada, dan mengangkat panggilan tersebut.


Gavin yang melihat panggilan nya di angkat langsung berbicara, "Tuan, akhirnya anda menjawab panggilan saya,"


Leon yang mendengar mengerutkan kening, bingung siapa pria ini? "Maaf, anda siapa?"


Gavin yang mendengar pertanyaan itu, bertambah bingung. Mungkinkah dia salah orang? Tapi seperti nya tidak, nomor yabg di hubungi memang nomor milik Jaeden.


"Maaf, apa ini dengan Tuan Jaeden?"


"Bukan, ini dengan asistennya,"


Gavin sedikit lega, ternyata tidak salah. Yah,. walaupun yang menjawab bukalah Jaeden sendiri.


Bisakah saya bicara dengan Tuan Jaeden?"


"


"Tuan sedang bersama dengan klien nya, dan tidak bisa di ganggu. Jika anda ada hal penting yang ingin di sampaikan, katakan saja, saya akan menyampaikan nya nanti. Dan ih, ya siapa anda ini?"


"Saya Gavin, Gavin Menzies," jawab Gavin membuat Leon diam. Bertanya-tanya, kenapa tuan muda Gavin menghubungi tuannya.


"Jadi ini dengan Tuan Gavin ya. Jika boleh saya tahu ada keperluan apa anda menghubungi tuan, apakah ada hal yang penting?"


"Ya, ini sangat-sangat penting. Dan saya hanya bisa meminta bantuan pada Tuan Jaeden. ucap Gavin gusar.


Mendengar seperti ada hal yang sangat penting, Leon memberikan ponsel itu kembali ke tuannya, memberi tahu bahwa Gavin Menzies ingin berbicara penting


"Tuan, Tuan muda Gavin ingin berbicara dengan anda. Dan sepertinya ini sangatlah penting."


Jaeden yang mendengar langsung mengambil ponselnya dan berbicara pada Gavin. Tapi sebelumnya ia meminta izin pada klien untu berbicara sebentar.


"Tuan Gavin ada yang bisa saya bantu?"


"Ada hal yang ingi saya bicarakan tuan, dan ini tentang putra saya, Davin dan Devan,"Jelas Gavin semakin panik, karena hampir sampai ke tempat putranya berada.


Dan benar saja, di depan tak jauh dari mobilnya, sebuah mobil kini masih mengejar mobil yang di tumpangi Tania, Davin dan Devan.


'Tuan, di depan sepertinya mobil nyonya," ucap Tio dan membuat Gavin lega, karena ternyata mama dan dua putranya masih hidup dan baik-baik saja.


Gavin melupakan jika sebenarnya dia sedang berbicara dengan Jaeden. Sedangkan Jaeden yang mendengar mengerutkan kening, mungkinkah Gavin sedang dalam masalah?


"Tuan Gavin," panggil Jaeden dan Gavin pun sadar jika dia sedwng berbicara dengan Jaeden


"Maaf tuan, maaf saya sedang_____,"


"Apa anda dalam masalah?" taya Jaeden ingin tahu.


Gavin diam, ragu ingin mengatakannya. Tapi mengingat pesan King, ia harus mengatakannya. Berharap keluarga Tesla mau membantunya.


"Tuan sebenar nya____" Gavin pun menjelaskan semuanya, tentang Davin dan Devan yang saat ini dalam masalah dan juga tentang King yang meminta nya untuk menghubungi keluarga Tesla jika mengalami hal yang buruk tentang Davin dan Devan, "Itu yang bisa saya sampaikan tuan. Saya berharap anda mau membatu saya," ucap Gavin membuat Jaeden diam setelah mendengar penjelasan tersebut


"Siapa King itu, yang berani berkata kepada Gavin untuk meminta bantuannya jika terjadi sesuatu dengan dua anak Gavin. Apakah dirinya harus membantu?


"Tuan?" Panggil Gavin dan Jaeden pun menyetujui untuk membantu. Ia akan menghubungi istrinya untuk mengirim anak buahnya membantu Gavin menyelamatkan putranya.


"Aku akan menghubungi istri ku. Kamu tenanglah, sebentar lagi mereka akan menyelamatkan putra mu," Gavin yang mendengar begitu senang, dan ia mengucapkan banyak terimakasih karena susah mau membantunya.


Di depan tak jauh dari tempatnya, mobi hitam itu terus saja mengejar, hingga peluru itu berhasil menembak ban mobil milik Tania dan membuat mobil itu oleng dan menabrak sebuah pohon.


Brak....


Tubuh Davin, Devan dan Tania menabrak kursi depan, membuat kepala itu terbentur, beruntung tidak mendapatkan luka seriu.


"Kalian tidak apa-apa," tanyanya kepada dua cucunya.


"Kami tidak apa-apa Oma," jawab mereka tanpa menangis sedikitpun. Tania menoleh ke belakang, di lihatnya mobil hitam yang mengikuti kini berhenti. Dan dengan cepat Tania membuka pintu mobil, mengajak dua cucunya untuk kabur.


Namun sebelum mereka turun, mereka di kejutkan dengan adanya beberapa pria yang kini menghadangnya.


"Mau kemana?" tanya orang yang ingin membunuh mereka bertiga.


"Siapa kalian?" tanya Tania menarik tubuh Davin dan Devan untuk berdiri di belakangnya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, yang terpenting saat ini bersiaplah untuk menghadapi kematian," ucapnya menodongkan senjata ke arah Tania. Namun sebelum pria itu menarik pelatuk senjatanya, Gavin yang baru sampai dan melihat mama nya dalam bahaya, menembakan senjata yang di miliki kearah lengan pria tersebut. Dan berhasil menghentikan pria yang mencoba membunuh keluarganya. .


"Daddy!" teriak Davin dan Devan bersamaan, berharap Daddy by bisa menyelamatkan mereka dari orang jahat itu.


Dan perkelahian pun tidak bisa di hindari, Gavin dan Tio kini melawan beberapa orang tersebut dan membuatnya kalah telak karena jumlah mereka lebih dari mereka berdua.


Senyum orang-orang itu sangat mengerikan, membuat Tio dan Gavin bergidik. Saat semuanya menodongkan senjata ke arah mereka masing-masing, suara tembakan menghentikan mereka, dan melihat siapa yang ikut campur dan masalan nya.


"Beraninya kalian ikut campur dalam urusan kami?"


"Ini perintah dari nyonya. Dan hanya bisa mematuhi, membunuh kalian semua tanpa ampun."


Semua orang yang berniat membunuh Davin dan Devan menelan ludah, apalagi saat melihat senjata yang di pegang beberapa pria itu. Mereka tahu ssnjata apa itu, dan itu pastinya kelompok GEROGRE LORIDZ.


.


.


.


Bersambung