
Bab 2. MMIMSH
Kehidupan baru Queen benar-benar berubah total. Ia seakan di jatuhnya dari langit ketujuh sekeras-kerasnya melihat keadaan nya sekarang. Dirinya yang belum pernah menikah kini harus menghadapi kenyataan bahwa kini telah memiliki anak. Bahkan kehidupan hidup yang sebelumnya serba kecukupan, apapun bisa ia miliki dan dapatkan, kini berbalik 99%. Miskin dan memprihatinkan.
Mengetahui dirinya sangat mengenaskan dengan hidup barunya, Quuen seperti linglung saat melihat rumah jelek di depannya. Tidak seperti yang ia bayangkan, memiliki rumah besar dan indah seperti rumah-rumah yang baru ia lewati.
"Apa ini? Kenapa hidup ku menjadi seperti ini. Ya lord, kau benar-benar menyiksa ku," batinnya berteriak keras dengan kenyataan pahit di depannya.
Davin dan Devan yang menggandeng tangan mommynya dan melihat Queen berhenti sambil menatap lurus ke depan, tepatnya di depan rumah yang ada di hadapannya, menarik tangan itu, bertanya kenapa mommy nya malah bengong.
"Mom, kenapa mommy diam?" Tanya Davin yang mendongak menatap Queen.
Queen yang mendengar pertanyaan itu langsung menunduk, menatap putra pertamanya. Ia melepas tangannya dan mengusap kepala itu dengan lembut. "Mommy tidak apa-apa. Hanya saja, apakah benar ini rumah kita?" Tanyanya tidak sesuai ekspektasi.
Davin menatap rumah itu dan mengangguk. "Ini rumah kita, mom. Walaupun biasa tapi kita selalu bahagia dan nyaman," jawab Davin dan dibenarkan Devan, berharap mommy tidak sedih dengan keadaan. "Ayo mom, kita masuk. Aku dan Devan akan membersihkan rumah. Mommy istirahat saja, karena tubuh Mommy belum sepenuhnya pulih,"
Queen yang mendengar ucapan dari seorang anak kecil yang memiliki pemikiran dewasa itu, menatap dengan sedih. Entah kenapa ia merasa kehidupan mereka tidaklah bahagia, dan ia pun berjanji akan membuat mereka bahagia layaknya seperti dirinya saat menjalani kehidupannya yang dulu.
"Mommy janji akan membahagiakan kalian," elusnya di kepala mereka dan masuk kedalam rumah kecil itu.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian, luka yang ada di tubuh Queen dan kepala nya pun perlahan pulih. Setiap hari dirinya hanya boleh duduk dan makan tanpa boleh melakukan aktifitas apapun. Dan jika dirinya ngotot dua penjaga yang selalu ada bersama nya akan marah dan tidak mau berbicara dengannya. Hingga akhirnya ia hanya bisa pasrah di atur oleh dua bocah kembar yang kini mulai ia sayang layaknya anak sendiri.
Mommy sudah sembuh, jadi jangan larang mommy untuk melakukan apapun. Jika mommy seperti ini terus, bisa-bisa mommy akan seperti babi yang gendut karena hanya makan-makan dan makan," kesalnya sambil bersedekap dada, merajuk.
Davin dan Devan yang melihat perubahan sikap mommy nya tidak seperti dulu, pendiam dan tidak banyak bicara saling pandang. Entah kenapa, mereka merasa mommy berubah, menjadi lebih banyak bicara dan sayang padanya. Dan itu sungguh membuat mereka senang.
"Itu semua demi kebaikan, mommy," jawab Davin yang memiliki wajah lebih dingin dibandingkan Devan yang selalu ceria dan murah senyum.
"Tapi, mommy tidak suka,"
"Tidak ada bantahan,"
"Kau menyebalkan," kesalnya benar-benar kesal dengan putra pertamanya yang suka mengatur.
Devan yang melihat pertengkaran ibu dan anak itu menepuk keningnya, sudah menjadi pemandangan biasa selama berbulan-bulan ini. Sungguh pusing mendengarnya.
.
.
Setelah dilihat Queen benar-benar sembuh total, Davin dan Devan pun mengizinkan mommy nya untuk bekerja, karena selama beberapa bulan ini tabungan mereka telah terkuras habis untuk kebutuhan sehari-hari dan menebus obat.
"Sekarang mommy silahkan mencari kerja. Jika mommy tidak bekerja, mungkin besok kita akan menjadi gelandangan di jalan," perintahnya dengan nada dingin.
"Sayang, mommy diusir oleh kakak mu. Jadi daripada mommy kena omel terus di rumah, lebih baik mommy keluar untuk mencari pekerjaan. Jadi doakan mommy agar secepatnya mendapat pekerjaan ya," ucapnya memberikan kecupan bertubi-tubi.
Davin yang melihat membuang muka, kesal. "Kekanakan," Namun dalam hati, ingin sekali diperlakukan seperti itu oleh mommynya. Tapi karena gengsi, ia lebih baik diam. Tidak meminta.
Queen melirik ke arah putra pertamanya, senyum kecil terbit di bibirnya. Tahu jika putranya menginginkan hal yang sama. Dengan gerakan cepat, queen mencium wajah itu berulang-ulang membuat yang empu melotot tidak percaya dan setelah itu pergi meninggalkan Davin yang berteriak kesal.
"Mommy….!!"
Queen yang mendengar tertawa, dan berteriak keras saat di halaman rumah. "Itu hadiah dari mommy, jangan lupa balasannya. Makan malam harus siap di atas meja!"
Davin yang mendengar mendengus kesal, ingin sekali marah. Namun saat mengingat mommy nya menciumnya, ia menyentuh pipi dan senyum kecil muncul di bibirnya. Senang itulah yang dirasakan.
.
.
.
Saat dirinya berjalan cukup lelah mencari pekerjaan yang cocok sesuai ijazah yang dimiliki. Akhirnya ia melihat sebuah lowongan pekerjaan yang terpampang jelas di depan sebuah bangunan besar. Sebuah restoran bintang 10. Namun saat membaca, ia sungguh lemas, karena pekerjaan yang dibutuhkan adalah pelayan.
"Nasibku sial sekali. Bagaimana bisa putri ini bekerja sebagai pelayan, bahkan caranya menyajikan saja aku tidak bisa," keluhnya dalam hati. Tapi saat mengingat wajah dua bocah yang ada di rumah, seketika ia memiliki semangat juang yang membara. "Kau pasti bisa Queen, demi anak yang tidak memiliki ayah," ucapnya dengan semangat sambil mengangkat kepalanya ke atas. Dan setelah itu masuk dengan langkah pasti untuk melamar pekerjaan.
Setelah melamar, Queen pun diterima. Untuk sementara Queen tidak langsung bekerja, tapi dia akan diberikan arahan oleh kepala pelayan dalam hal menyajikan makanan kepada pelanggannya. Dan setelah satu minggu, ini waktu untuk Queen turun langsung mengantarkan pesanan kepada pelanggan nya.
"Antar makanan ini pada meja no 8, dan lakukan seperti yang aku ajarkan," Queen mengangguk dan setelah itu membawa makanan yang sudah di tata rapi di atas troli menuju meja pelanggan.
Setelah sampai, dan meletakkan semua makanan di atas meja seperti yang ia pelajari, Queen mempersilahkan tamunya untuk menikmati hidangan tersebut.
"Silahkan di nikmati hidangannya, tuan, nyonya," ucapnya dengan begitu anggun, membuat pelanggan yang menatapnya tersenyum senang dengan sikap sopan Queen.
"Terimakasih," ucap pelanggan itu dan Queen pun mengangguk. Namun saat kembali, tiba-tiba ada seorang pria menyenggol trolinya dan membuat pria itu marah dan memaki.
"Apa kau tidak punya mata?" Bentaknya dengan mata menatap tajam.
Queen diam, tidak menjawab. Malah ia membalas tatapan itu, seolah tidak sedikit pun takut dengan pria di depannya.
"Hei, kau bisu ya? Dasar pelayan rendahan," marahnya ingin mendorong tubuh Queen. Namun sebelum tangan itu menyentuh tubuhnya, Queen dengan cepat mencekal pergelangan tangannya dan memelintir, membanting tubuh itu dalam sekali gerakan.
Semua orang yang melihat tentu saja terkejut dengan aksi yang dilakukan Queen. Hingga keributan pun didengar oleh pemilik restoran. dan membuat Queen mendapatkan amukan dari bosnya itu.
Dan sejak saat itu, Entah kenapa setiap kali Queen keluar dan pulang, ia merasa ada yang terus mengawasinya dari kejauhan.
"Kenapa akhir-akhir ini sepertinya ada yang mengikuti ku," gumamnya saat merasakan ada yang mengawasinya.
Queen berjalan lebih cepat untuk kembali ke rumah. Ia akan Membuat rencana untuk menangkap seseorang itu. Dan akan memberi pelajaran serta mencari informasi terhadap orang yang beberapa hari ini selalu menguntitnya.