
Arno meminta anak buahnya untuk segera membawa Laura ke rumah sakit. Tak lupa ia juga menghubungi istrinya, mengabarkan bahwa saat ini Laura dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Fanny yang mendengar tentu saja terkejut dengan apa yang terjadi dengan putrinya. Ia tidak menyangka putrinya akan mengalami hal ini. Dan dengan cepat Fanny langsung terbang ke Negera C untuk melihat keadaan putrinya. Fanny juga mengabarkan kepada Leonard bahwa adiknya sedang tidak baik-baik saja. Leonard yang mendengar, marah. Tidak terima adiknya di perlakukan sampai seperti itu.
"Berani sekali orang itu menyakiti adik ku. Jika aku tahu siapa dia, akan ku cincang tubuhnya," marahnya memukul meja kerja saat mengetahui kabar tentang adiknya.
.
.
Fanny kini telah sampai di Negara C. Dengan cepat ia langsung pergi ke rumah sakit tempat dimana putrinya sedang di rawat.
Disana suaminya duduk menunggu kedatangannya. Setelah beberapa jam perjalan dari Negara J menuju Negara C, Fanny sampai dan langsung memeluk tubuh suaminya.
"Suami ku, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya tidak percaya jika putri nya akan mengalami hal naas seperti ini.
"Temui putri mu, maka kamu akan tahu apa yang terjadi dengannya," Arno membawa istrinya keruangan rawat Laura. Dan saat sampai Fanny langsung menangis melihat keadaan putrinya yang benar-benar menghawatirkan.
Dengan tangan bergetar Fanny menyentuh kepala Laura, mengelus kepala tersebut yang terdapat perban membungkus wajah tersebut, dan hanya menampilkan mata, lubang hidung dan mulut.
"P...put...tri ku," serunya dengan nada terbata, tidak tega melihat keadaan Laura yang seperti ini. "Hik....Hik....Hik..." Fanny berbalik dan memeluk tubuh suaminya dan menangis. "Siapa yang melakukannya, pa?"
"Papa tidak tahu. Hanya saja orang itu benar-benar kejam. Dan dia hanya meninggalkan secarik surat dan itu berupa ancaman,"
Fanny mendongak menatap suaminya. "Ancaman?" Arno mengangguk, mengambil surat tersebut dan menyerahkan nya kepada istrinya.
Fanny dengan cepat mengambil dan membacanya.
"Aku berikan Hadian ini untuk mu. Ku harap kau senang. Lain kali kita bermain lagi. Jangan lupa lindungi diri kalian juga, keluarga Patrice, jika aku benar-benar marah, akan ku buat kalian menyesal."
Beberapa kata yang membuat Fanny langsung marah. "Brengs*ek sialan! Beraninya dia berbicara seperti itu," Fanny benar-benar tidak menyangka ada orang yang berani dengan keluarganya. "Kau harus mencari tahu siapa orang ini pa. Aku tidak mau dia mengulangi hal yang sama kepada keluarga kita. Dan aku maunya pelaku ini di hukum dengan berat, bahkan bila perlu mencincang tubuhnya agar dia tahu siapa kita," pintanya tidak ingin menjadi bahan ancaman orang yang tidak di ketahui siapa pelakunya.
"Papa masih menyelidiki. Papa sudah meminta anak buah kita untuk melihat CCTV di depan rumah kita. Setelah tahu siapa pelakunya, papa tidak akan melepaskannya,"
Fanny mengangguk, tidak sabar ingin secepatnya menemukan pelaku yang menyiksa putrinya.
.
.
Plak.....
"Tidak berguna!" marahnya menampar wajah anak buahnya dengan keras.
Anak buah itu hanya diam, tidak berani berkata sedikitpun. Takut akan mendapatkan hal lebih parah dari sekedar tamparan.
"Cari sampai ketemu pelaku nya. Akan ku buat dia menyesal berani mengusik keluarga Patrice." perintahnya dengan suara kerasa dan wajah memerah karena marah.
"Baik, tuan." Dengan terpaksa mereka menuruti perintah itu, mencari siapa pelakunya.
Sedangkan Queen yang kini sudah berada di rumah, mencuci tangannya dengan bersih. Bau amis karena darah Laura membuat nya risih. Saat dirinya membersihkan tangannya, terdengar bunyi pesan masuk di ponselnya.
Queen mengambilnya dan membaca. Tertulis nama Gavin yang saat ini mengirimkan pesan, menyampaikan bahwa dirinya kini telah sampai di Negara J.
"Sayang, aku baru saja sampai. Aku akan segera mencari putra kita, dan ku harap kau menjaga diri mu dengan baik di sana,"
Queen yang membaca hanya menaikkan sebelah alisnya. Setelah itu menaruh ponselnya kembali, mengabaikan pesan tersebut. Malas untuk membalas. Sedangkan Gavin yang kini ada di negara J, terus menunggu balasan dari wanita yang di harapkan. Namun cukup lama menunggu hingga lelah, Queen tetap tak kunjung membalas pesannya. Gavin pun merasa kesal karena di abaikan, lalu ia menghubungi. Tapi lagi-lagi Queen mengabaikannya.
"Kemana sebenernya wanita ini?" gumamnya menatap ponselnya dengan kesal "Argh...." Usap kepala nya dengan kasar, melihat Queen yang sepertinya tidak peduli dengannya.
.
.
.
Di dalam hutan belakang sedikit jauh dari kediaman Menzies, tiga manusia sedang berjalan tertatih melewati rumput yang sedikit tinggi itu. Rasa lelah, haus kini mereka rasakan. Davin dan Devan yang terus berlari kini sudah kelelahan, meminta Omanya untuk berhenti, istirahat.
"Oma, lelah, hah...hah....." ucap Davin
"Haus, Oma," timpal Devan yang tenggorokannya kering.
Tania melihat dua cucunya sudah kelelahan merasa kasihan. Tapi jika mereka berhenti dan orang-orang itu mengejarnya, sudah di pastikan mereka akan mati di tangan penjahat itu.
Tani berjongkok, mengelus wajah mereka. Tak hanya Davin dan Devan yang lelah, sebenarnya Tania pun juga sudah lelah, tapi ia menyembunyikannya.
"Oma tahu kalian lelah dan haus. Tapi jika kita berhenti dan mereka menemukan kita, maka kita akan dalam bahaya. Kalian tahu sendiri bukan semengerikan apa mereka," Davin dan Devan mengangguk, mengerti jika mereka semua orang yang berbahaya. "Ayo kita jalan lagi, hati-hati saja. Semoga di depan ada sungai untuk kita bisa minum." Davin dan Devan pun dengan langkah berat berjalan, mengikuti Omanya.