
Bugh,
Tubuh Queen terpental saat dirinya di keroyok oleh beberapa orang tersebut. Queen menyeka darah di sudut bibirnya, dan setelah itu kembali bangkit, berdiri menatap dingin beberapa pria tersebut.
Queen berlari ke arah seorang di antara mereka, dan menyerangnya. Memukul dan melayangkan tendangan.
Bugh,
Bugh,
Bugh,
Setiap tendangan dan pukulan di tangkis oleh pria tersebut. Saat melihat ada celah, ia menendangnya dengan kuat, membuat pria itu terpental dan jatuh.
Pria yang memegang tongkat besi itu melepaskan senjatanya, dan dengan cepat di ambil oleh Queen, berdiri diam, menatap 5 orang yang menatapnya dengan marah.
"Ayo, lawan aku," ucapnya memegang tongkat besi di tangannya, siap menghajar beberapa pria tersebut.
"Dasar wanita sialan! Akan ku bunuh kau!" kesal seorang yang tidak tahan melihat Queen berani kepada mereka, dan seolah meremehkan.
Queen tidak menjawab, malah ia maju dan menyerang lebih dulu. Memukulkan tongkat besi ke tubuh mereka. Mereka yang melihat Queen menyerang tentu saja tidak tinggal diam. Mereka melawan, melayangkan senjata di tangan untuk mengalahkan Queen.
Cras.....
Satu goresan mengenai lengan Queen.
Queen seolah tidak memperdulikan luka tersebut, ia terus menyerang agar secepatnya mengalahkan mereka semua, dan kembali ke rumah bersama dua putranya.
Bugh,
Bugh,
Kraak...
Lengan mereka patah karena kuatnya Queen mematahkan nya.
Bugh,
Satu pukulan menghantam kepala bagian belakang hingga membuat pria itu langsung ambruk tak berdaya.
Hah...Hah....Ha....
Nafas Queen terengah-enggah setelah berhasil mengalahkan mereka semua. Tidak perlu bertanya lagi siapa yang mengirim mereka, ia sudah lebih dulu, pasti pria bernama Leonard itu lah yang mengirim mereka semua untuk membunuhnya. Queen sendiri bingung, kenapa pria itu ingin sekali membunuhnya. Bahkan dirinya saja tidak mengenal nya.
Merasa kesal karena Leonard terus menganggu nya, ia menginjak tengkuk pria yang kini ada di bawahnya dengan kuat, hingga suara tulang patah pun terdengar.
"Badjingan sialan itu harus segera di beri pelajaran," kesalnya benar-benar ingin mencincang Leonard. Namun saat wajah si pria tidak di ketahui, Queen lemas. Bagaimana dirinya akan memberi pelajaran, tampan wajah pria itu ia tidak tahu. "Menyebalkan," gerutunya dan pergi meningalkan mereka semua yang telah mati.
Sebelum kembali, ia mengambil belanjaan yang di belinya. Dan setelah itu pergi menuju rumah dengan jalan kaki.
Saat hampir sampai di rumahnya, ia di sapa oleh seorang pria tua. Pria tua itu adalah tetangga rumah yang sering menemani kedua putranya saat dirinya bekerja.
"Baru pulang?" tanya pria tua bernama Panji.
Queen yang di sapa melihat ke arah kakek Panji yang sedang duduk santai di teras sambil menyeruput kopi. Queen mengangguk dan setelah itu pamit untuk pulang.
"Queen pulang ya kek, takut Davin dan Devan khawatir," Kakek Panji mengangguk dan Queen pun pergi menuju rumahnya. Namun saat Queen melangkahkan kakinya tak sengaja Panji melihat sesuatu di lengan Queen. Nampak seperti darah.
Kening Kakek Panji berkerut saat melihat itu. Dan tanpa bertanya, ia menyusul Queen yang kini telah masuk rumah.
Davin Dan Devan yang melihat mommy nya terluka langsung khawatir dan mendekati. "Mom, apa yang terjadi? Kenapa Mommy bisa terluka?" tanya Davin menatap luka Mommynya, hendak menyentuh. Namun di cegah oleh Queen.
"Mommy tidak apa-apa, hanya luka kecil saja. Tadi ada orang yang hendak merampok Mommy, tapi sudah mommy tangani. Jadi kalian tidak perlu khawatir." Davin yang memiliki wajah lebih dingin tidak puas dengan penjelasan Mommynya. Ia merasa ada pihak yang hendak mencelakai mommy nya, seperti sebelumnya.
Namun tidak ingin bertanya lebih banyak, Davin dan Devan membantu membalut luka tersebut.
"Mommy harus lebih berhati-hati saat di luar rumah. Kami tidak mau kehilangan Mommy," Ucap Davin membuat Queen tersenyum.
"Ternyata kau cukup perhatian dengan Mommy," cubitnya di pipi Davin.
Davin yang di perlakukan seperti itu dengan cepat menepis tangan mommynya, tidak suka di perlakukan layaknya anak kecil. "Mom,"
"Baiklah-baiklah," kekeh Queen tahu putra nya itu kesal. Devan yang melihat hanya tersenyum dan membantu kakaknya membalut luka.
Saat mereka bertiga bercanda, tiba-tiba mendengar suara ketukan pintu. Queen yang mendengar meminta Davin untuk melihat siapa yang orang yang bertamu.
"Pergilah dan lihat siapa," Davin mengangguk dan setelah itu mengintip dari balik jendela, melihat siapa yang datang bertamu.
"Kakek Panji," gumamnya dan membukakan pintu.
Davin mendongak, melihat kakek Panji yang wajahnya nampak khawatir. Belum juga Davin bertanya akan kedatangan nya, Kakek Panji lebih dulu bertanya. "Mommy mu di mana?"
Davin tidak menjawab, malah menunjuk ke arah kamar, dimana Queen saat ini berada. Tanpa berkata lagi, Kakek Panji pun bergegas menuju kamar Queen. Dan saat membuka pintu, di lihatnya Devan sedang membalut luka Queen.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa terluka seperti ini?" tanyanya begitu khawatir.
"Hanya luka kecil, kakek tidak perlu khawatir," jawab Queen. Namun tidak semudah itu kakek Panji percaya. Dirinya yang sudah bergelut dengan dunia mafia cukup lama, pasti tahu bahwa Queen mengalami hal yang tidak baik.
"Apa ada yang menyakiti mu lagi?" tanya kakek Panji yang sebenarnya tahu Queen sering bertarung.
Queen tidak menjawab, ia melirik dua putranya yang seperti nya menunggu jawaban darinya. "Hah, hanya beberapa orang lemah yang mencoba mencari masalah," Queen tidak ingin kedua anaknya khawatir padanya.
Tahu Queen enggan menjelaskan, Kakek Panji meminta Davin dan Devan untuk keluar terlebih dahulu, karena ia ingin berbicara 4 mata dengan Queen yang sudah di anggap seperti cucunya sendiri. Davin dan Devan yang di minta pergi mengangguk. Dan kini tinggallah mereka berdua.
"Jelaskan apa yang terjadi. Bagaimana bisa kamu terluka?"
Queen menghela nafas sebelum menjelaskan. Dan setelah itu, menceritakan semuanya.
"Aku hanya khawatir dengan mereka berdua, kek. Aku takut mereka akan menyakiti putra ku. Aku tidak tahu, kenapa mereka ingin membunuh ku,"
Kakek Panji diam, dan cukup lama berdiam memikirkan sesuatu, kakek Panji menyarankan Queen harus memiliki senjata untuk melindungi diri. "Kau harus memiliki senjata untuk menjaga diri,"
"Senjata? Dimana aku harus mendapatkan nya?"
"Kakek memiliki kenalan, semoga saja mereka mau membantu kakek ini untuk mendapatkan senjata yang baik untuk mu,"
Queen mengangguk. Memang ini lah yang di harapkan. Memiliki beberapa senjata yang kuat untuk melindungi diri. Ia akan membeli senjata itu walaupun dengan harga mahal. Asalkan dapat membuatnya aman dan kedua anaknya, apapun akan ia lakukan. Untuk rencana yang lainnya, untuk pergi meninggalkan negara ini akan ia tunda terlebih dahulu. Sebelum pembuat perhitungan terhadap si pembuat ulah, ia tetap tidak akan tenang.
.
.
.
Bersambung