
Satu Minggu kemudian, Tristan dan Sevana siap untuk pergi ke Negara C. Mereka menggunakan jet pribadi nya dengan di kawal beberapa anak buah mafianya. Berjaga-jaga jika ada musuh nya yang mengetahui keberadaannya dan berniat menyerang nya.
Chloe dan Jaeden yang melihat Tristan ingin pergi, bertanya. Kemana putranya ini hendak pergi, tidak seperti biasanya Tristan akan keluar tanpa adanya hal penting.
"Apa ada suatu hal penting?" tanya Chloe menatap putranya
Saat ini mereka sedang sarapan pagi bersama. Tristan ingin berpamitan, namun ternyata semuanya telah di ketahui kedua orang tuanya akan kepergiannya.
"Tidak, hanya ingin jalan-jalan menemani Sevana saja," jawab Tristan menutupi niatnya. Tidak ingin mengatakan jika semua nya belum jelas.
Chloe dan Jaeden saling pandang, karena tidak biasa melihat putranya yang ingin liburan. Tristan sering menghabiskan waktunya untuk bisnis dan mengurus markas. Jadi saat mendengar putra nya ingin liburan, sungguh suatu keanehan.
"Kamu tidak lagi sakit kan Tris?" Tristan menggeleng, mengatakan ia baik-baik saja.
"Jenuh melihat banyak dokumen dan senjata, ingin menyegarkan otak saja Mom,"
Chloe diam, menatap putranya dengan penuh selidik. Namun saat melihat Tristan benar-benar ingin pergi, Chloe dan Jaeden pun mengizinkan, membiarkan Tristan agar mendapatkan suatu hiburan di luar sana, tidak hanya bekerja dan menembak.
Setelah semuanya siap, Tristan dan Sevana berangkat. Dan setelah beberapa jam perjalanan kini mereka sampai di Negara C. Di sana Jhon sudah menunggu kedatangannya, membawanya untuk ke mansion Anderson.
Setelah sampai mereka pun istirahat. Tapi sebelum itu, Tristan meminta Sevana untuk menghubungi Queen, memintanya untuk bertemu esok hari.
Queen yang di hubungi mengangguk, ia menyetujui permintaan itu. Karena jujur sudah lama ia merindukan wanita itu. Wanita yang menjadi temannya.
"Kita bertemu setelah aku pulang bekerja ya?"
"Em, oke. Aku akan menunggu mu di kafe tak jauh dari kantor," Ucap Sevana memberi kode pada Tristan, mengatakan Queen menyetujui permintaannya.
Tristan tersenyum dan senang. Berharap apa yang di harapkan tidak salah.
.
.
Di tempat Arno berada, Arno dan Laura kini berdiri di depan anak buahnya yang tersisa. Mereka memberi perintah untuk mencelakai Queen setelah pulang dari kantor. Arno juga memerintahkan bawahannya yang ada di Negara J untuk menculik dua anak itu dari tangan Ryan dan Tania. Bahkan Arno juga memerintahkan bawahannya untuk membunuh Ryan dan Tania jika mereka berdua menolak untuk memberikan dua bocah itu.
Di kediaman Ryan Menzies.
Beberapa pria bertubuh kekar menjaga dengan ketat kediaman Menzies. Mereka adalah kelompok bayaran yang di sewa oleh Ryan untuk melindungi keluarga nya dari orang yang berniat buruk terhadap mereka. Tidak ingin keduanya cucunya dalam masalah.
Sekelompok orang dengan jumlah cukup banyak kini memantau rumah tersebut. Mereka membawa senjata di tangannya untuk menumbangkan para penjaga yang menjaga kediaman Menzies. Setelah merasa siap, satu buah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak pintu gerbang besi itu hingga terbuka. Dan setelah itu yang lainnya ikut menyusul, masuk kedalam kediaman Menzies.
Terdengar suara keras dari depan, semuanya langsung berkumpul dan melihat apa yang terjadi. Saat orang yang di sewa Ryan sampai di depan. Penjaga di depan kini telah di tumbangkan dan mati di tangan orang-orang tersebut.
"Siapa kalian?" tanya seorang pria yang menjaga kediaman Menzies.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Serang mereka dan bunuh mereka semua," perintah seorang di antara kelompok itu untuk menyerang.
"SERANG!!!"
Door....
Door....
Door....
Suara riuh yang terjadi di luar sampai terdengar di dalam rumah. Tuan Ryan dan Tania yang mendengar panik, berpikir siapa mereka.
Namun tidak ada waktu untuk mencari tahu dari mana kelompok itu berasal, Ryan membawa Tania, Davin dan Devan pergi dari tempat itu, lewat sebuah jalan rahasia. Tapi saat mereka hendak masuk ke pintu rahasia tersebut, seorang musuh yang menyelinap dari pertarungan melihat apa yang di lakukan Ryan dan Tania.
"Mau kemana kalian?" teriak tiga orang yang melihat mereka berempat hendak kabur.
Ryan dan Tania yang mendengar langsung menoleh, begitu terkejut melihat mereka dengan cepat menemukan keberadaannya.
"Masuklah, aku akan menyusul," perintah Ryan mendorong mereka bertiga untuk masuk pintu rahasia yang di buat deri tembok tebal.
"Tapi___"
"Sudah lah ma, untuk saat ini keamanan mereka berdua lebih penting. Kau jaga cucu kita, jangan biarkan mereka menyakiti mereka berdua,"
Tania menatap Davin dan Devan yang ketakutan. Sungguh hal yang sangat menakutkan.
"Opa," seru mereka berdua khawatir dengan keselamatan opa ya.
"Pergilah dengan Oma. Opa akan segera menyusul kalaim," bohongnya nya tidak tahu apakah bisa menyusul mereka atau tidak.
Tania, Devan dan Davin pun kini telah masuk kedalam pintu rahasia tersebut. Dan pintu secara otomatis tertutup rapat, tidak meninggalkan bekas sama sekali, seperti tidak ada pintu melainkan dindong kokoh yang berdiri tegak di depan mata.
Ryan menghela nafas dengan berat. Setelah itu berdiri menatap tiga pria yang membawa senjata api di tangan mereka masing-masing. Ryan pasrah jika kematiannya hari ini tiba. Asalkan istri dan cucu nya selamat, nyawa nya pun tidak akan sia-sia.
"Siapa kalian?" tanya Ryan ingin tahu siapa yang memerintah mereka menyerang tempat tinggalnya.
"Arno Patrice, kau pasti mengenal nya bukan?" jawab seorang dianatar mereka
Temannya yang ada di samping nya memukul nya. Pikirnya, kenapa temannya itu mengatakan siapa bos mereka, "Hei, kenapa kau mengatakan jika bos yang memerintah?"
"Memang kenapa? Orang itu sebentar lagi akan mati. Jadi tidak masalah mengetahui siapa yang memerintahkan kita,"
Ryan yang mengetahui Arno pelakunya mengepalkan tangan, marah, tidak menyangka jika Arno akan melakukan hal sejauh ini.
"Arno!!!" Geram Ryan mengeraskan rahangnya dan tembakan pun melesat ke tubuh Ryan.
.
.
Bersambung