
Door...
Tembakan itu berhasil mengenai dada Laura.
Laura merasakan sakit di dadanya, darah keluar merembes di pakaiannya. Laura meringis menahannya, ia tidak ingin terlihat kalah di depan wanita yang ingin di bunuh-nya. Laura, berdiri tegak, seolah tidak merasakan sakit di dadanya, tapi sebenarnya itu sangat-sangatlah sakit.
"Jika pun aku akan mati disini, kau akan ikut mati bersama ku wanita ja-lang!" marah Laura dan mengarahkan tembakan ke arah Queen.
Queen yang melihat Laura mengarahkan tembakan, berlari menghindari tembakan yang di lesatkan ke arah nya.
Door....
Door....
Door....
Tembakan beruntun melesat ke arah Queen. Dan Queen terus berlari menghindari nya.
Queen melakukan itu karena ia yakin peluru itu akan habis, maka dari itu ia sekuat tenaga menghindar yah walaupun tubuhnya sedikit lelah mungkin karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya.
Tubuh Queen tidak hanya mendapatkan luka dari tembakan, ia juga terluka oleh goresan-goresan senjata tajam yang berikan Laura padanya. Tapi Queen juga sama memberikan luka di tubuh Laura, dan itu malah lebih banyak dari miliknya.
Door...
Door...
Door...
Tembakan itu terus melesat ke arah Queen.
Door...
Satu tembakan berhasil mengenai bahu sebelah kanan, tapi Queen masih bisa bertahan karena itu tidak berhasil mengenai jantungnya.
Gavin, Davin dan Devan yang melihat berteriak saat melihat orang penting mereka terluka kembali. Gavin ingin membantu tapi Queen telah melarangnya, ia tidak ingin menganggu Queen membunuh Laura, dan maka dari ia hanya bisa menonton pertarungan itu sama hal nya dengan Beno yang melihat pertarungan itu dari lantai atas dengan pandangan yang susah di artikan.
Beno menatap dingin Queen. Mungkinkah seseorang yang ingin membunuh Laura adalah wanita itu? Apa mungkin wanita itu penting bagi orang yang menghubunginya? Jika benar dirinya tidak boleh ikut campur. Tapi saat mengingat nikmatnya tubuh Laura, ia tidak ingin Laura mati di tangan Queen, karena ia ingin tubuh itu menjadi miliknya, menjadi pemuas hasratnya di ranjang.
"Kau harus membantunya jika ingin tubuhnya. Jangan biarkan wanita itu membunuh wanita pemuas naf su mu," bisik hati jahatnya.
"Kau tidak boleh ikut campur dengan urusan mereka, karena jika kau salah bertindak mau bisa mati di tangan pria mengerikan itu," bisik sisi baiknya mengingatkan agar selau ingat dengan orang yang menghubunginya sebelumnya.
"Tembak saja wanita itu dari sini, maka semuanya akan selesai dan kau akan memiliki Laura, jika perlu kau bunuh mereka bertiga juga, agar tidak ada yang tahu bahwa kau pelakunya," bisik sisi jahatnya mempengaruhi agar Beno membunuh Queen, dan menjadikan Laura miliknya
"Jangan bodoh, kau tidak boleh ikut campur urusan mereka. kau harus hidup, jangan karena wanita itu kau akan mati mengenaskan,"
Beno terus bergelut dengan hatinya, antara tetap diam atau membunuh Queen, atau malah membantu Laura hanya karena menginginkan tubuh nya. Tapi mengingat apa yang di katakan tuan yang menghubunginya, jika dirinya menyakiti dua anak itu yang ternyata anak dari wanita itu, ia yakin nyawanya akan melayang dengan mengenaskan.
Hah.....
Beno menghela nafas dengan berat dan akhrinya diam, memperhatikan mereka saja.
Laura yang terus menembak kini kehabisan peluru. Ia mengumpat kesal karena di saat sepertinya ini harus kehabisan peluru senjatanya.
"Sialan!" umpatnya dan membuang senjata apinya.
Queen yang melihat Laura kehabisan peluru tersenyum menyeringai. Dia memegang senjata apinya, bergantian dan mengangkat tangannya, membidik kan arah tembakan nya ke Laura.
Door....
Argh.....
Queen menyunggingkan senyumnya dan berlari kecil mengitari Laura sambil menembakan senjatanya ke tangan sebelah kiri.
Door....
Argh....
Jeritnya merasakan sakit lagi.
Queen tak hanya menembak bagian lengan, ia juga menembak paha mulus Laura yang terpampang jelas, dan itu berhasil membuat Laura kesakitan, dan jatuh karena tidak bisa menahan rasa sakit yang di rasakan nya akibat banyaknya luka di tubuh.
Hah....Hah....Hah.....
Nafas Laura terengah-engah, sambil meringis menahan sakit tersebut.
Queen yang melihat Laura sudah tumbang dan bersimpuh dengan darah mengalir dari setiap luka yang di dapat, Queen mendekati. Ia menyeret kakinya yang sudah berat, lelah dengan pertarungannya hari ini. Bertarung dengan anak buah Lucas, Leonard dan Laura, semuanya benar-benar menguras tenaga. Apalagi saat ini ia juga mendapatkan beberapa luka di tubuhnya.
Queen berdiri di depan Laura, masih dengan memegang senjata nya, dengan pandangan dingin nya ia menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.
Tangan nya terangkat, mengarahkan senjata api tepat di keningnya. Laura yang melihat terkejut, karena Queen ingin membunuhnya.
"Jangan bunuh aku, aku mohon pada mu. Akan ku lakukan apapun asalkan kau mengampuni nyawa ku," pinta Laura memohon.
Queen yang mendengar seolah jengah dengan ucapan yang sering ia dengar saat hidupnya dulu. Setiap kali mengalahkan musuhnya pasti akan mendengar kata itu. Queen mengabaikan, tidak berkata sedikitpun. Queen perlahan menarik pelatuk senjata, tapi saat dirinya hendak menarik, tiba-tiba dari arah sanping melesat sebuah anak panah mengarah padanya.
Syut...
Queen yang melihat dengan cepat menarik tubuh Laura, menjadikan tameng untuknya dari pamah itu.
Jleb....
Ugh ...
Laura memuntahkan seteguk darah dari mulutnya saat panah itu menembus perutnya.
Queen yang melihat di tempat itu ada yang mencoba ingin membunuhnya, melihat sekeliling. Di lihatnya pergerakan seseorang, ia mengarahkan tembakan itu ke arah orang tersebut.
Door...
Door....
Peluru melesat kearah orang yang diam-diam ingin membunuhnya. Dan peluru itu berhasil mengenai punggung orang tersebut. Queen yang yakin akan tembakannya tidak meleset meminta Gavin untuk membawa orang tersebut di hadapannya, dan Gavin pun mengangguk dan pergi.
.
.
.
Bersambung