My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 33, Menyerang Markas ZAPATA Di Negara C.



Sedangkan di tempat king berada, king yang mendengar kabar Queen dalam bahaya meminta Rosa untuk memanggil bawahannya yang bodoh.


"Panggil badjingan yang mengawasi cucu ku," perintahnya dengan nada marah.


"Baik, tuan." jawab Rosa dan langsung menghubungi orang yang selalu mengawasi Queen di mana pun dia berada.


Setelah menghubungi orang tersebut, pria yang selalu mengawasi Queen dimana pun berada kini ada di hadapan tuannya yang saat ini sangat-sangat marah.


Bugh....


King menendang pria tersebut hingga terjungkal. "Apa aku mengerjakan mu hanya untuk main-main?" marahnya dengan suara yang keras.


Pria itu bersujud dan memohon pengampunan, takut akan kemarahan tuannya. "Ampuni saya, tuan. Ampuni saya," mohon pria itu berulang-ulang.


Bugh....


Bukannya mengampuni, king menendang kembali tubuh itu. Kemarahannya sudah memuncak, apalagi saat mendengar Queen sat ini berada di rumah sakit.


"Dasar tidak berguna! Sebenarnya apa yang kau lakukan saat cucu ku dalam bahanya?"


Pria itu tidak menjawab, diam. Takut akan kemarahan tuannya yang mengerikan. King mengambil senjata yang di bawa Rosa, dan menembakkannya tepat di kepala pria itu hingga mati.


Door....


"Dasar tidak berguna,"


Pria yang selalu ada di sekitar Queen kini tergeletak tak bernyawa dengan darah yang mengalir dari kepala. Tidak peduli alasan pria itu apa, baginya tidak berguna tetaplah tidak berguna. Dan kematian lah harus di dapatkan nya.


.


.


King mengumpulkan anak buah yang ada di sekitarnya, memarahinya habis-habisan. "Aku tidak mau tahu, kawal cucu ku dengan benar dan lindungi dia sebaik-baiknya. Jika terjadi sesuatu hal yang sama seperti sekarang, aku tidak akan berbelas kasih lagi," ucapnya dengan suara keras, marah dengan ketidakbecusan bawahannya.


"Baik, tuan," jawab mereka dan kini langsung pergi ke rumah sakit, menjadi pengawal bayangan untuk Queen.


Sebelumnya hanya pria yang mati itu saja yang berada di dekat Queen. Sedangkan yang lainnya berada di sekitar King, berpikir nyawa tuannya lah yang harus di jaganya dengan baik, tidak dengan nyawa Queen. Sungguh anak buah yang bodoh.


.


.


Di markas ZAPATA, Arno marah besar mengetahui anak buahnya gagal membunuh Queen.


"Siapa yang berani ikut campur dalam urusan ku?" marahnya dengan suara menggelegar di dalam ruangan. Rahangnya mengeras, matanya pun memerah karena marah akan pihak yang berani ikut campur dalam urusan nya.


"Kami tidak tahu, tuan. Hanya saja kelompok itu sepertinya sangat terlatih, terbukti mereka dengan mudah membunuh anak buah kita dengan cepat," jelas bawahannya tersebut.


"Sialan! Selidiki siapa mereka," perintahnya dan bawahan itu langsung melaksanakan tugasnya.


.


.


King yang mengetahui siapa dalang yang membuat Queen terluka, mengirim bawahannya yang lain untuk pergi ke tempat sarang orang tersebut. Dengan jumlah yang cukup banyak, bawahan King yang di perintah langsung datang ke markas ZAPATA, membalas apa yang mereka lakukan.


Arno yang saat ini ada di markas nya tidak mengetahui akan datangnya bahaya yang mengincar. Mereka pikir yang melindungi Queen hanyalah sekelompok orang yang baru saja mengalahkan anak buahnya, tidak memikirkan bahwa ada kelompok lain yang juga melindungi Queen dan kini siap untuk meratakan dan menghancurkan markasnya.


Beberapa mobil hitam melaju dengan cepat di malam hari menuju markas ZAPATA. Waktu yang menunjukkan 2 dini hari membuat mereka lengah dan itu benar-benar akan menguntungkan Kelompok King.


Saat sampai di markas tersebut, satu mobil yang berada di depan mendobrak pintu gerbang dengan paksa, membuat pintu itu langsung rusak. Dan hal tersebut langsung membuat anak buah Arno terkejut akan datangnya kelompok yang berjumlah tak kalah banyak.


Semua anak buah king keluar dari mobil sambil memegang senjatanya dan tanpa aba-aba langsung menyerang mereka semua yang di lihatnya.


Door.....


Door.....


Door.....


Suara tembakan beruntun menggema di markas tersebut, membuat penghuni markas panik dan balas menyerang kelompok King.


Arno yang berada di dalam mendengar suara tembakan di luar markasnya, terkejut. Apa yang terjadi?


Seorang bawahan datang melaporkan apa yang terjadi di luar markas. Ia mengatakan bahwa ada sekelompok tak di kenal dengan jumlah banyak menyerang markas mereka. "Tuan, ada sekelompok yang menyerang markas kita. Kelompok itu sama sekali tidak kami kenal. Hanya saja kelompok itu sepertinya ingin menghancurkan kelompok kita."


"Siapa sebenarnya mereka? Berani sekali mereka datang ke markas ku dan menyerang markas ku!" Gumamnya berpikir, sebenarnya dari mana asl kelompok tersebut. "Aku akan melihatnya," sambungnya hendak pergi. Namuj dengan cepat di tahan oleh bawahan nya itu.


"Tuan, jangan pergi. Jika anda pergi, mereka akan membunuh anda. Lebih baik sekarang anda bersembunyi untuk menyelamatkan nyawa anda. Biarkan kami yang menghadapi mereka."


"Tapi..."


"Ini demi kebaikan anda,"


Bawahan itu membawa Arno untuk keluar dari markas, agar tuannya bisa selamat dari tangan kelompok tak di kenal itu. Sedangkan kelompok King, kini mengeledah seluruh markas mencari keberadaan bos mereka. Tapi keberadaan bos mereka sama sekali tidak di temukan.


Anak buah Arno kini banyak yang mati, kalah akan kekuatan dari kelompok King yang menggunakan senjata lengkap.


"Bunuh dan jangan sisakan satu pun," perintah yang menjadi ketua si kelompok King.


"Siap," semuanya langsung membunuh semuanya tanpa ampun. Menghancurkan semuanya tanpa sisa. Walaupun jumlah kelompok Arno lebih banyak, tapi Kelompok King lebih mendominasi karena King banyak menggunakan senjata, seperti bom yang mempermudah membunuh mereka sekaligus.


Duuuar....


Duuuar....


Duuuar....


Ledakan tersebut tak hanya membunuh anak buah Arno. Bangunan disana pun itu hancur akibat bom yang di lempar oleh anak buah king. Dan setelah melihat semuanya musnah, dan hanya terlihat asap dan kobaran api, semuanya pun kembali dan melaporkan bahwa tugas mereka telah mereka selesaikan. Yah walaupun mereka tidak bisa menangkap bos dari mafia ZAPATA abal-abal itu. .


.


.


.


Bersambung