
Queen berencana akan langsung pergi ke negara C. Saat dirinya menyiapkan keperluannya, ponselnya berdering, dan nomor tidak di kenal kembali menghubunginya. Dengan cepat Queen mengangkatnya takut itu dari pihak yang menculik anaknya. Dan benar dugaan nya, orang yang menghubungi adalah pelaku penculikan anaknya.
"Hallo, Queen Serrena," sapa seorang wanita membuat Queen mengerutkan kening, siapa pikirnya.
"Siapa ini?" tanya Queen yang tidak mengenal suara wanita tersebut, lupa.
Wanita yang tak lain Laura mengangkat sebelah alisnya, begitu mudah Queen meluapkan dirinya. "Kau melupakan ku?" tanya Laura balik bertanya.
Alis Queen saling bertaut mendengar wanita itu malah balik bertanya, "Jangan banyak omong, tidak ada banyak waktu untuk ku menjawab dan meladeni diri mu. Sekarang katakan siapa kau?"
Laura terkekeh mendengar nada bicara Queen yang ketus dan dingin itu. Sungguh suatu kebahagiaan di hatinya berhasil membuat Queen marah. Ia tidak sabar melihat reaksi Queen saat tahu itu adalah dirinya dan pelaku yang menculik anaknya.
"Emosi mu tetap saja seperti itu. Tapi aku hanya tidak menyangka saja kau cepat melupakan ku. Apa kau benar-benar lupa siapa aku?" tanyanya masih mencoba mengingatkan Queen.
Queen diam, berpikir. Siapa sebenarnya wanita yang menghubungi nya. Kenapa wanita itu seolah tahu benar akan dirinya? Dan cukup lama berpikir, terbesit nama wanita yang tidak asing, Laura.
"Apa kau Laura Patrice?"
Laura yang mendengar tertawa dan membenarkan jawaban Queen. "Hahaha.... Ternyata kau tidak melupakan ku, Wanita sialan!" umpat Laura dengan nada dingin karena teringat apa yang di lakukan Queen pada keluarganya. Ibunya mati, keluarganya bangkrut dan kini harus menjadi pelayan dari tuan yang menolongnya, menuruti semua perintah karena harus membalas budi.
Mengingat itu darah Laura mendidih, tidak sabar membuat Queen berlutut di hadapannya dan memohon padanya. Ingin ia balas menyiksa apa yang telah Queen lakukan padanya. Tapi saat mengingat rencananya harus berhasil, Laura menahan nya dan akan meminta Queen datang padanya jika tak ingin kedua anak kembar itu mati di tangannya
"Jadi ini memang kau, Laura? Katakan, kenapa kau menghubungi ku?" tanya Queen dengan wajah dingin. Ia yakin Laura memiliki hal buruk padanya.
"Jangan buru-buru, aku akan pelan-pelan menjelaskannya agar ku tidak syok dengan apa yang akan ku katakan pada mu. Dan siapkan jantung yang kuat agar kau tidak mati karena terkejut,"
"Cepat katakan!" seru Queen dengan nada tinggi, tidak ingin berbicara lama pada Laura yang akan membuatnya bertambah emosi.
Laura yang berada di sebuah bangunan yang di siapkan Lucas kini ia sedang tersenyum menyeringai, sambil matanya menatap dua anak kecil yang di ikat di sebuah kursi dengan mulut di bungkam agar tidak berisik. Mata Laura menatap bergantian dua bocah itu, benar-benar mirip dengan Gavin. Hanya saja mata mereka tidak mirip dan entah mirip siapa. Menurut Laura mata itu tidak di miliki Queen maupun Gavin.
"Queen Serrena, kau tahu saat ini aku sedang apa?" Davin yang mendengar nama mamanya di sebut melototkam mata, mungkinkah yang di hubungi wanita gila di depannya adalah Mommynya.
Emmm.....
Emmm.....
Davin mencoba mengeraskan suaranya agar Mommynya mendengar suaranya. Laura yang melihat mencengkram rahang itu dengan kuat membuat Davin meringis kesakitan.
"Cepat katakan, apa yang ingin kau katakan pada ku. Dan jangan coba-coba menguji kesabaran ku, Laura Patrice,"
"Hahahaha.....Aku suka kemarah mu ini. Kau tebak sendiri aku sedang apa dan dengan siapa," Laura membuka penutup mulut yang membungkam mulut Davin. Dan Davin langsung berteriak, memanggil Queen.
"Mom, tolong Davin dan Devan, mom," panggil Davin membuat Queen sangat terkejut. Bagaimana bisa dua anaknya bersama Laura? Mungkinkah yang menculik Davin dan Devan adalah Laura?
Mendapati kenyataan yang sebenarnya, Queen mengepalkan tangannya dengan kuat, rahangnya mengeras, marah karena ternyata pelaku itu adalah wanita yang selalu mengganggu hidupnya.
Belum kapokkah dengan pelajaran yang di berikan Queen padanya. Dan kini malah kembali membuat ulah dengan nya. Queen tidak akan melepaskan Laura dan memaafkan Laura lagi, tidak akan memberi kesempatan hidup untuk wanita seperti itu. Queen berjanji akan membunuh wanita itu dengan tangan nya sendiri.
.
.
.
.
Bersambung