
Di tempat tak jauh dari kejadian, sepasang mata melihat hal tersebut. Dia menghubungi seorang pria yang tak lain adalah tuannya.
"Tuan, nona dalam bahaya. Ada sekelompok orang yang ingin membunuhnya. Beruntung nona dapat menangani, jadi tidak perlu saya bertindak," lapor orang tersebut pada seseorang.
"Biarkan saja, awasi saja. Aku ingin melihat sejauh mana dia melindungi diri,"
"Baik tuan. Oh ya tuan, dari laporan bawahan yang lain, ada beberapa orang yang mencari keberadaan nona. Mereka mecari data tentang nona muda. Dan sepertinya mereka mencoba mengorek siapa sebenarnya nona muda,"
"Begitu ya?" Jawabnya dengan santai. "Biarkan saja jika mereka mampu. Yang penting lindungi dia, jangan biarkan siapapun tahu siapa Queen sebenarnya. Lindungi dia jika dia benar-benar dalam bahaya,"
"Baik tuan," jawabnya dan menutup panggilan.
Tak hanya orang tersebut yang melaporkan apa yang terjadi, pria suruhan Gavin yang memantau keadaan Queen juga melaporkan apa yang terjadi tentang kejadian tersebut. Gavin yang mendengar tentu saja marah. Dia memarahi bawahannya itu habis-habisan karena tidak becus menjaga Queen. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mereka, apalagi dirinya sekarang belum bisa mendekati ketiganya. Dan jika itu terjadi, sudah di pastikan ia akan membunuh bawahan ayahnya itu.
"Dasar tidak becus! Bukankah aku sudah meminta mu untuk menjaga mereka? Bagaimana bisa kau membiarkan nya menghadapi mereka sendirian? Dasar tidak berguna!" makinya penuh dengan emosi.
Gavin tidak menyangka jika wanita itu mampu menghadapi sekelompok orang tersebut seorang diri. Gavin yang mengetahui Queen handal dalam bertarung, ia semakin tidak berani untuk mendekati. Jika Queen tahu pria malam itu adalah dirinya, apakah Queen akan mengeksekusi nya hingga mati? Membayangkan hal itu bulu kuduk Gavin menjadi berdiri, ngeri membayangkan wajah Queen yang tersenyum jahat.
"Semoga saja tidak?"
Malam ini papa Gavin akan sampai, dan Tio di perintah untuk menjemputnya. Namun tak hanya papa nya Gavin yang datang, Tuan Arno dan Laura juga ikut bersama mereka. Tio yang mengetahui, tentu saja terkejut. Ia tidak menyangka jika mereka berdua juga datang bersamaan dengan tuan besar nya.
"Tuan besar, Tuan Arno, nona Laura," sapa Tio dan mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam mobil
Mereka semua pun masuk kedalam mobil, Tio duduk di depan, sambil sesekali matanya mencuri pandang di bangku belakang, berpikir kenapa. tuannya membawa dua orang licik itu.
Laura yang tahu tatapan itu tersenyum menyeringai. "Asisten Tio, aku dengar kau mengalami luka serius, apakah tubuh mu sudah baikan?"
Tio yang di tanya menoleh, "Sudah lebih baik nona, walaupun masih ada luka yang belum pulih sepenuhnya. Terimakasih sudah memperhatikan saya," Dalam hati Tio mengumpat kesal, menyumpahi Laura berharap wanita itu akan mati mengenaskan. Bagaimana Tio tidak kesal, pelaku yang membuatnya berbaring cukup lama adalah wanita yang saat ini benanyainya, wanita yang pura-pura tidak tahu bahwa pelakunya adalah dirinya sendiri.
"Oh, syukurlah,"
Cukup lama menempuh perjalanan jauh, mereka akhirnya sampai di hotel bintang 10. Hotel dimana penghuninya adalah orang kaya raya semuanya. Dan bagi yang miskin sudah di pastikan tidak akan mampu untuk menyewa kamar di hotel tersebut, maka dari itu yang kismin-kismin silahkan menyingkir.
Tio membawa mereka ke kamar masing-masing yang telah di pesannya. Tio meminta tuan besarnya untuk segera istirahat. Namun Tuan Ryan menolak, ia ingin segera bertemu dengan Gavin dan berbicara empat mata dengannya.
"Antarkan aku bertemu dengan Gavin, aku ingin berbicara dengannya," perintahnya dan Tio pun membawa Tuan Ryan ke kamar Gavin. Dan sesampainya di depan pintu, Tio mengetuknya dan Gavin yang mendengar langsung membukanya. Gavin pun melihat papanya kini ada hadapannya.
"Papa sudah datang? Ayo masuk," ajaknya membawa tuan Ryan masuk kedalam kamar nya. Sedangkan Tio pamit kembali ke kamarnya.
"Kau tahu dimana wanita itu tinggal?" tanya Tuan Ryan dengan nada dingin. Ia hanya tidak menyangka putranya akan seperti ini, mempermalukan nya di hadapan calon besannya. Apa yang akan di katakan calon besannya jika mengetahui Gavin memiliki anak? Tidak dapat di bayangkan. Yang pasti Arno pasti akan marah dan tersinggung.
Em, Gavin mengangguk, mengatakan jika dirinya tahu dimana wanita itu tinggal.
"Besok aku akan menemuinya, ingin melihat seperti apa wanita itu."
"Apa yang ingin papa katakan padanya? Jika papa bertemu dengan nya hanya untuk mengambil putranya saja, aku tidak mengizinkan. Bukankah sebelumnya papa mengatakan datang kesini untuk membantu ku agar bisa bersama mereka?"
"Itu kemaren, tapi tidak untuk saat ini. Papa akan melihat dulu seperti apa wanita itu. Jika papa lihat wanita itu tidak pantas untuk mu, maka jangan salahkan papa mengambil cucu ku dari wanita yang tak jelas." jawabnya penuh selidik, berpikir Gavin mencoba menahannya. "Atau sebenar nya memang wanita itu hanya wanita rendahan, sehingga kau menahan papa untuk menemuinya?"
"Bukan seperti itu," jawabnya bingung.
"Gavin, kau tahu keluarga kita bukan? Kita adalah keluarga Menzies, keluarga terkaya nomor 5. Apa yang akan di katakan publik jika menantu dari keluarga Menzies adalah wanita dari kalangan rendahan? Mau di taruh dimana wajah papa dan mama mu. Jadi jika wanita itu benar dari kalangan bawah, maafkan papa, papa tidak bisa menerimanya di keluarga Menzies,"
"Pa....,"
Ryan melarang Gavin berbicara. Perkataannya adalah perintah. Jadi jika dirinya tidak menyetujui jangan harap Gavin di perbolehkan bersama dengan wanita yang di inginkan nya.
"Kau akan tetap menikah dengan Laura jika wanita benar dari kalangan bawah, dan tidak ada bantahan. Dan untuk anak wanita itu papa dan mama akan merawatnya,"
Gavin yang mendengar benar-benar kesal. Bagaimana bisa papanya melakukan hal ini padanya. Gavin ingin membantah, tapi Ryan malah beranjak untuk pergi
"Ingat Gavin, jika kau bersikeras tetap membantah dan ingin bersama wanita dari ibu anak mu, maka jangan salah papa jika papa menyingkirkan mereka semua dari hidup mu," ancamnya membuat Gavin terkejut. Bagaimana bisa papanya berbicara seperti itu, ingin menyingkirkan cucu kandungnya.
"Aku tidak menyangka papa memiliki pemikiran seperti itu." Gavin berdiri menatap papa nya yang hendak keluar dari kamarnya.
Tuan Ryan berhenti dan berkata, "Maka jangan buat papa melakukannya," Tuan Ryan pun pergi meninggalkan Gavin yang lemas dengan ucapan papanya.
Gavin menghempaskan tubuhnya di sofa mengusap wajahnya dengan kasar, bingung apa yang harus di lakukan. Jika dirinya bersikeras untuk bersama mereka, maka bersiaplah mendapati kematian mereka bertiga, karena Ryan sendiri akan membuktikan semua ucapannya.
.
.
.
Bersambung