My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 26, Bertamu



Bawahan pria misterius tersebut mengirim banyak bawahannya untuk berada di rumah sakit. Dokter yang di perintah Jhon dan Leon tentu saja tertekan melihat mereka selalu berada di dekatnya.


Leon, Asisten Jaeden kini bersama Jhon dan beberapa bawahannya datang ke rumah sakit untuk berjaga. Mereka tidak ingin ada yang memanipulasi hasil akhir nanti. Tapi tanpa di ketahui mereka, dokter yang di perintah tersebut kini di pantau langsung oleh orang lain. Bahkan saat di dalam ruangan tempat dokter tersebut, disana ada yang mengawasi nya.


"Apa anda akan berada di sini?" tanyanya melihat pria tersebut yang menyamar menjadi dokter berada di ruangan yang sama dengan nya.


"Tentu saja. Maka dari itu jangan macam-macam jika kepala mu tidak ingin meledak," ancamnya tidak main-main. Dokter itu memicingkan mata, seolah tidak percaya pria itu berani melakukannya. "Apa kau meragukan ku?" tanyanya mendekati. Dokter itu tetap diam, tidak mengucapkan kata sepatah pun. Pria itu membisikkan sesuatu di telinga dokter tersebut. Dan saat mendengar apa yang di katakan pria asing itu, tubuh dokter itu langsung gemetar, lemas. Tidak menyangka jika pria di depannya adalah utusan dari Tuan besar itu.


"Lakukan dan jangan coba-coba membuat ku marah,"


"Baik, tuan," ucap dokter itu dan melakukan apa yang di perintah pria asing tersebut.


Mengetahui siapa tuan dari pria tersebut, dokter itu tidak ingin menyinggung tuan besar itu. Tuan besar yang sering di sebut dengan panggilan King yang setelah pensiun menghilang tanpa kabar. Bahkan keberadaan tuan besar itu tidak di ketahui keberadaannya. Dan kini dokter itu sedang berhadapan dengan bawahan si tuan besar yang di kabarkan sangat mengerikan.


Dokter itu melakukan apa yang di perintah. Anak buah Leon dan Jhon masih setia 24 jam menunggu dam menjaga sampai hasil nya keluar. Dan setelah dia hari hasil nya keluar, Leon dan Jhon membawa hasil ke tempat Aldrich dimana di mansion Anderson sudah ada Jaeden yang menunggunya.


Saat Jaeden membuka map coklat tersebut dan membacanya, ia langsung menghela nafas dengan berat. Ternyata wanita yang di maksud Aldrich bukanlah putri kandungnya.


"Apa hasilnya?" tanya Aldrich ingin tahu.


Jaeden menyerahkan kertas tersebut, meminta Aldrin membaca nya sendiri. Dan saat melihatnya, Aldrich seakan tidak percaya bahwa Queen bukanlah Quesha. Ia benar-benar tidak menyangka jika pemikirannya salah. Di lihat dari wajah nya, Queen benar-benar mirip dengan Chloe, tapi kenyataannya Queen bukanlah Quesha.


"Aku seperti ingin menyerah mencari keberadaan Quesha. Sudah bertahun-tahun lamanya terus mencari dan mencari, tapi keberadaan Quesha tidak pernah di ketahui," ucap Jaeden lemas sambil menyandarkan kepalanya di sofa, mengisap wajahnya dengan kasar.


Aldrich diam, ia juga lemas mendengar kesah Jaeden. Tapi mereka tidak boleh menyerah, apapun yang terjadi mereka harus tetap mencari keberadaan Quesha.


"Jangan pernah menyerah. Kita harus tetap berusaha. Sebelum kita menemukan tulang Queen, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Karena aku yakin, Quesha masihlah hidup," ucap Aldrich memberi semangat, agar Jaeden tidak menyerah akan pencarian putri nya.


Jaeden mengangguk, mengingat kejadian saat hilangnya Quesha. "Apa kamu sudah mengetahui kelompok mana itu?" tanya jaeden dan Aldrich menggeleng, belum mengetahui pihak mana yang menyebabkan Quesha sampai menghilang. Bahkan anak buah Chloe dari Mafia GEROGRE LORIDZ saja tidak menemukan titik terangnya dan tidak mengetahui siapa pihak yang melakukan nya hingga saat ini. Dan di yakini, di balik semua itu ada kelompok yang sangat kuat.


.


.


.


Di sebuah pulau terpencil, terdapat sebuah kastil yang sangat-sangat besar. Kastil itu hanya di huni oleh seorang tuan dan banyak bawahannya yang melayani. Tuan tersebut menutup diri dari dunia luar, karena sudah pensiun dari pekerjaannya. Hanya saja semua pekerjaan dan bisnisnya yang besar dan banyak di serahkan kepada bawahannya untuk mengurusnya. Sedangkan dirinya hanya terima hasil dari semuanya.


Pria itu saat ini mengelus sebuah potret anaknya. Disana terlihat 3 wajah yang tersenyum gembira. Dia adalah putrinya dan menantu serta cucunya. Air matanya menetes saat mengingat putrinya memilih pria miskin dan meninggalkan dirinya. Kejadian yang menyesakkan saat mengingat dirinya mengusir putrinya dan tidak menganggap anak lagi, membuat penyesalan yang mendalam sampai saat ini, hingga akhirnya ia menutup diri dan merenung akan penyesalan nya.


"Maafkan papa, maafkan papa," gumam pria yang tak muda lagi dengan air mata yang menetes. "Papa janji, papa akan melindungi apa yang kalian pertahankan. Papa akan menjaganya menjadikannya ratu seluruh dunia," pria tua itu berjanji akan melindungi milik putrinya yang selama ini di lindungi dari bahaya yang berakhir dengan hilangnya nyawa mereka berdua.


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi orang kepercayaan nya, "Temukan siapa dalang pembunuhan putri ku," perintah dan akan kembali muncul di dunia luar demi membalaskan dendam putrinya serta menjaga cucunya yang kini banyak masalah menghampiri.


"Baik tuan," jawab orang kepercayaan itu dan menyelidiki dalang di balik pembunuhan nona mudanya.


.


.


Di kediaman Queen, Devan dan Davin sedang bermain di ruang tamu. Saat dirinya asyik bermain, mereka mendengar suara pintu di ketuk. Seketika keduanya menoleh, melihat ke arah pintu. Saat melihat siapa yang datang, dan tidak mengenal pria tersebut. Mereka berdua diam, bahkan keduanya kini malah mengacuhkan, tidak menghiraukan orang tersebut.


Tamu yang tak lain adalah Gavin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat dua bocah yang acuh tak acuh itu.


"Bolehkah aku masuk?" tanya Gavin mencoba mencari perhatian.


Davin menoleh, menatap pria dewasa yang menurut nya tidak asing. Pernah melihat tapi dimana?


"Anda orang asing, tidak di persilahkan untuk masuk. Mommy selalu berpesan harus berhati-hati pada orang asing," jawaban Davin sungguh sangat membangingkan. Gavin tidak bisa berkata lagi, sungguh anak yang dingin. Mirip dengan sikap Queen yang datar dan dingin.


"Benar-benar mirip ibunya," batin Gavin menggelengkan kepala. "Aku teman Mommy mu. Aku datang ingin memberikan ini," ucapnya membawa mainan mobil-mobilan mahal.


Davin dan Devan menatap pria itu, memicingkan mata, seolah menganggap pria itu memiliki maksud lain. "Sebenarnya anda mau apa dan siapa anda?" tanya Davin bersedekap dada, menatap Gavin penuh intimidasi, berhati-hati terhadap orang asing yang mungkin saja saat ini sedang modus.


Gavin yang di perlakukan seperti itu menggaruk keningnya yang tidak gatal, bingung mau berkata apa. Jika dirinya mengatakan ayah dari mereka, sudah di pastikan mereka tidak akan percaya.


Queen yang berada di dapur mendengar suara obrolan di depan, penasaran. Ia pun langsung melihat apa yang terjadi. Dan saat melihat di sana ada pria yang tak lain ayah dari putranya, menghampiri.


"Kau! Kenapa datang ke rumah ku?" tanya Queen bersedekap dada, memberi tatapan dinginnya pada Gavin.


Davin dan Devan yang melihat Mommynya sepertinya tidak suka dengan pria asing di depannya, ikut bersedekap dada memberi tatapan tidak suka. Gavin yang melihat ketiganya memberikan tatapan mematikan, salah tingkah. Sungguh harapan yang tidak sesuai kenyataan.


.


.


.


Bersambung