My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 32, Kelompok GEROGRE LORIDZ



Drrt....


Drrt...


Ponsel Gavin bergetar, sebuah panggilan masuk dari Queen.


Gavin yang saat ini sedang tidur tidak mendengar panggilan itu, membuat Queen mengumpat kesal. "Dasar pria tidak bisa di andalkan," kesal Queen pada Gavin.


Queen terus menghubungi. Dan setelah beberapa panggilan tak terjawab, kini panggilannya akhirnya di jawab oleh pemilik nomor.


"Ada apa?" tanya Gavin melihat jam dinding, pukul setengah 12. Tidak bisanya Queen menghubungi nya di pertengahan malam. Mungkinkah sesuatu terjadi dengannya?


"Cepat datang kemari. Akan ku kirim alamatnya padamu," Perintah Queen dan setelah itu memutus panggilan.


Gavin yang mendengar perintah dan nada bicara Queen terengah-enggah, nampak terjadi sesuatu, tanpa menunggu lama ia langsung menyambar jaketnya dan mengambil senjatanya, dua pistol dan dua pisau. Tak lupa ia menghubungi seseorang, memintanya untuk datang lebih dulu ke tempat dimana Queen berada, membantunya sebelum dirinya datang.


"Cepat datang ke alamat yang aku kirim. Aku tidak ingin wanita ku dalam bahaya," perintahnya pada seorang yang di sewanya. Sebuah kelompok mafia yang tak lain kelompok Mafia GEROGRE LORIDZ yang berada di Negara C.


Gavin setelah mengetahui Queen selalu dalam bahaya menyewa seorang yang ahli dalam menembak dan bertarung untuk mengajari nya agar dirinya bisa melindungi wanitanya. Hampir setiap hari ia mengasah kemampuannya, melatih ketangkasan dan kekuatan tubuhnya agar bisa menghadapi orang-orang yang berniat buruk padanya dan Queen. Berharap apa yang di lakukannya dapat melindungi dan membuat Queen bisa menerimanya, menjadikan dirinya pria nya sekaligus ayah untuk kedua putranya.


Gavin sendiri tidak kembali ke negaranya. Ia malah tinggal di negara C, demi bersama, melindungi dan berusaha mengambil hati wanita yang hatinya begitu dingin itu. Dan saat ini lah kesempatan Gavin untuk membuktikan bahwa ia sangat bersungguh-sungguh, ingin bersama ibu dari anak nya, melindungi segenap nyawanya.


"Tunggu aku," gumam Gavin dan pergi menuju tempat Queen berada.


Kelompok GEROGRE LORIDZ yang di perintah Gavin kini langsung berangkat menuju alamat yang di berikan. Sedangkan, kelompok yang berniat membunuh Queen kini tersenyum menyeringai saat menemukan keberadaan Queen.


"Mau kabur kemana?"


Queen menatap dingin beberapa pria itu. Tidak bisa menghindari, maka hanya bisa melawan mereka semua.


Queen mengeluarkan dua pisau yang sering di bawanya, memegangnya dan siap melawan mereka.


"Oh, ternyata kau cukup berani ya. Baiklah, maka akan ku layani diri mu, wanita," pria itu menyimpan senjata apinya dan mengeluarkan pisaunya, memainkan pisau itu di tangannya dan maju tanpa aba-aba, menyerang Queen.


Ting....


Bunyi dua pisau beradu.


Pria itu tersenyum menyeringai, meremehkan Queen. Queen yang merasakan tenaga pria itu tersenyum kecil. Ia mengayunkan satu tangannya yang juga memegang senjata ke arah pria itu dan juga melayangkan tendangan kuat ke perut pria itu membaut pria itu mundur beberapa langkah.


"Sialan!"


Tak terima kalah dari seorang wanita, pria itu maj kembali dan menyerang Queen dengan brutal. Ia juga meminta rekan lainnya untuk membantu mengalahkan wanita yang menurutnya susah untuk di hadapi


Bugh....


Bugh....


Bugh....


Sebuah sayatan dan tusukan di lakukan Queen dan berhasil melukai beberapa dari mereka. Melihat si antara mereka terluka, beberapa dari mereka tidak terima. Mereka mengambil senjata api masing-masing dan menembakan nya ke arah Queen.


Door....


Door....


Door....


Ugh....Satu tembakan mengenai dada Queen.


Queen berlari menghindari setiap tembakan tersebut. Saat dirinya kelelahan dan pandangannya nampak berkunang-kunang, ia melihat datangnya sekelompok tak di kenal melawan beberapa orang yang ingin membunuhnya.


Adu tembak pun terjadi. Pertarungan dua kelompok begitu sengit. Queen bersandar di bawah pohon, mengatur nafasnya dan membalut lukanya dengan baju yang di robeknya.


Ugh, lenguh-nya merasakan sakit.


Queen mengatur nafasnya. Ia tidak menyangka jika akan mengalami hal seperti ini. Queen menatap pertarungan yang ada di depan matanya. Berpikir, mungkin kelompok yang membantunya adalah suruhan Gavin. Dan baru saja dirinya memikirkan ayah dari putranya, Gavin datang dengan panik dan langsung menghampiri Queen yang saat ini bersandar di bawah pohon dengan wajah pucat.


"Sayang, bertahanlah. Aku akan membawa mu ke rumah sakit," paniknya dan langsung membopong tubuh Queen, membawanya menuju rumah sakit.


Saat hendak menuju mobil, seorang yang ingin membunuh Queen, melihat Queen ingin di bawa pergi oleh pria asing, mengarahkan senjatanya, siap membidik Gavin. Namun semua tindakan itu di ketahui pihak lain, dan dengan gerakan cepat menembakkan senjatanya kearah pria yang ingin membunuh tuan yang memerintahkannya.


Door....


Peluru menembus kepala pria itu dan membuatnya langsung mati.


Beberapa menit setelah itu, pertarungan yang sengit itu kini akhirnya berakhir. Dan di menangkan oleh kelompok yang di sewa Gavin. Setelah mengurus mayat-mayat tersebut, mereka kini pergi menyusul untuk mengawal Gavin dan Queen ke rumah sakit, takut ada lagi musuh yang datang.


Gavin kini menunggu Queen di luar ruang operasi, mondar-mandir karena khawatir. Berharap Queen baik-baik saja. Setelah menunggu beberapa jam, operasi akhirnya selesai. Dan kini Queen di pindahkan keruang perawatan. Gavin menunggu, duduk di samping Queen. Menatap wajah pucat itu dan mengusap tangan itu dengan lembut.


"Maafkan aku karena terlambat, dan membuat mu terluka," Gavin menyesal karena tidak bisa melindungi Queen dari bahaya.


Gavin berpikir, kelompok yang ingin membunuh Queen pastinya adalah anak buah Arno. Ia tidak menyangka jika Arno dan Laura tidak sabar untuk memulai aksinya. Dan itu tidak bisa di biarkan. Gavin menghubungi orang yang di sewanya, memintanya untuk menjadi pengawal bayangan yang siap melindungi Queen dimana pun berada. Berapapun bayarannya akan di berikan Asalkan Queen baik-baik saja, apapun akan ia lakukan.


.


.


.


Bersambung