
Di sebuah perusahan raksasa bernama King Golden Group, berpusat di Negara R, pria muda bernama Lucifer membaca data informasi yang di kirim bawahannya. Ia membaca dengan cermat informasi tersebut. Informasi tentang kematian putri tuannya.
Lucifer juga melihat sebuah bukti yang tertinggal, yang di temukan di kediaman tempat tinggal nonanya. Ia melihat dengan teliti kain sobek yang hanya menampilkan gambar tidak lengkap itu.
"Potongan gambar apa ini?" pikirnya dengan keras. Dan mengubungi asistennya, untuk mencari tahu potongan gambar apa itu.
Tak lama asistennya pun datang menghadapnya,, berdiri dengan tubuh tegapnya, siap menerima perintah dari tuannya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya asisten itu bernama Fian.
Lucifer memberikan sobekan kain yang terdapat gambar tidak lengkap. Fian yang melihat langsung mengambilnya dan memperhatikannya. "Cari tahu potongan apa itu?"
"Baik tuan," jawab Fian dan langsung melakukan tugasnya.
Setelah kepergian Fian, ponsel Lucifer bergetar. Di lihat tertera nama king yang menghubunginya, dengan cepat ia langsung mengangkat nya. "Hallo, tuan,"
"Bagaimana, apa kau sudah menemukan nya?"
"Masih saya selidiki tuan. Ada sesuatu yang harus saya pastikan," jelas Lucifer dan king mengangguk.
"Bagus. Besok jemput aku. Aku ingin melihat cucu ku. Oh ya, siapkan tempat tinggal untuk ku, usahakan dekat dengan nya. Aku ingin bisa memantaunya,"
"Baik, tuan." jawab Lucifer dan panggilan pun berakhir.
Lucifer pun mencarikan tempat tinggal sesuai yang di inginkan tuannya, dekat dengan tempat tinggal nona muda. Dalam satu perintah, anak buah nya yang berada di Negara C langsung mencarikan tempat tinggal untuk tuan besarnya. Queen yang melihat rumah yang sebelumnya kosong dan kini di datangi banyak orang untuk di bersihkan, hanya memperhatikan saja. Tambah satu lagi tetangganya.
Rasa kesepian karena tidak adanya Davin dan Devan bersamanya membuatnya jenuh, bingung ingin melakukan apa. Queen mendongak menatap langit teringat kehidupannya di masa dulu. Teringat akan keluarga nya, ibundanya, ayahandanya, dan adik-adiknya. Queen menghela nafas dengan berat dan mencoba melupakan masa lalu, dan berjalan di masa depan. Namun saat mengingat hanya kedua anaknya yang di miliki, tanpa tahu siapa ayah dan ibu pemilik tubuh, lagi-lagi Queen menghela nafas.
"Sebenarnya dimana keluarga pemilik tubuh ini. Kenapa aku tidak mengingatnya? Apa aku harus mencari tahu ya? Tapi dimana?" bingung karena tidak memiliki petunjuk sama sekali.
Merasa pusing karena tidak menemukan sedikit pun ingatan pemilik tubuh. Queen menghubungi seseorang yang beberapa hari ini tidak nampak batang hidungnya.
Drtt....
Drtt....
"Hallo," jawab pria disana.
Queen yang mendengar suara asing menatap ponselnya. Ia merasa tidak salah menghubungi nomor yang di tuju, tapi kenapa suaranya menjadi seorang pria? "Tidak salah, benar kok nomornya ini. Tapi kenapa pria yang menjawabnya," batin Queen bingung
"Apa ini dengan nomor milik Sevana?" tanya Queen dan di benarkan oleh pria tersebut
"Em, Ada apa?" tanya pria itu begitu dingin.
Queen diam, ragu untuk berbicara. "Tidak ada apa-apa. Maaf menganggu," Queen memutus panggilan. Sedangkan pria yang menjawab itu melempar ponsel tersebut dengan kasar di atas tempat tidur dan membuat wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi berteriak keras saat melihat kakaknya melempar ponsel mahalnya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Sevana pada kakak sepupunya, Tristan. Dengan cepat mengambil ponselnya dan mengeceknya.
"Queen," gumamnya melihat panggilan masuk. "Apa tadi ada yang menghubungi mu?"
Em....jawabnya santai sambil memejamkan mata, lelah. Sevana yang melihat Tristan tiduran di kamarnya, mengambil bantal dan memukulkan nya dengan keras.
Kesal karena di abaikan, Sevana pergi meninggalkan kakaknya yang menyebalkan itu.
Aldrich yang melihat wajah kusut putrinya bertanya, "Ada apa?"
Sevana tidak menjawab, duduk di sampingnya dan menyandarkan kepala nya di bahu, kesal karena Tristan tidak memanggil nya saat Queen menghubunginya.
"Dad, apakah Queen benar-benar bukan Kak Quesha?"
"Dari hasil laporan Tes DNA mengatakan jika Queen bukanlah Quesha. Ada apa, kenapa bertanya tentang itu? Apa kau berharap dia benar-benar Quesha?"
"Tentu saja, aku berharap dia memang lah kak Quesha," jawab Sevana merasa kasihan kepada semua keluarganya yang terus mencari, namun hasilnya tetaplah nihil.
Sevana dan Aldrich saat ini tidak berada di Negara C, melainkan kembali ke negaranya. Di Kerajaan ZEPYRA Negara M. Ada suatu acara yang tidak bisa mereka tinggalkan, dan di perusahaan ADS Group semua urusan di serahkan kepada Jhon.
Walaupun sebelumnya Queen menghubunginya, Sevana juga tidak akan datang untuk menemuinya. Karena urusannya tidak bisa dia tinggalkan, menyangkut kepentingan kerajaan.
.
.
Queen yang sangat-sangat jenuh berniat keluar rumah. hari libur seperti ini biasanya dia akan menghabiskan waktu bersama dengan kedua putranya. Tapi tidak untuk saat ini, ia sendiri dan sangat kesepian.
"Lebih baik aku keluar untuk menghilangkan bosan," gumamnya dan menyambar jaketnya, tak lupa membawa senjatanya yang di simpan aman di balik celananya.
Baru saja dirinya keluar, datang sebuah mobil yang di kenalnya. Gavin, ya pria itu lah yang datang. Queen bersedekap dada, menunggu pria itu menghampiri nya.
Gavin keluar dari mobil dan menghampiri. Dua hari tidak bertemu membuatnya merindukan wajah dingin mommy dari anak-anak nya itu. Sebelumnya setelah mendapatkan izin dari Queen untuk membawa Davin dan Devan, Gavin dan Tuan Ryan kembali ke negaranya dan meningalkan Queen sendirian lantaran Queen tidak ingin ikut dengan mereka.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Gavin basa basi.
"Buruk," jawab Queen begitu santai membuat Gavin mengerutkan kening. Buruk? Pikirnya apakah terjadi sesuatu dengan Queen.
"Apa terjadi sesuatu saat aku pergi?" Queen mengangguk. Memang terjadi sesuatu dengannya, rasa kesepian itu lah yang terjadi padanya.
"Apa? Apa mereka sudah mulai bergerak untuk menyakiti mu?" Gavin memeriksa tubuh Queen apakah ada luka di tubuhnya atau tidak. Queen yang tubuhnya di putar-putar oleh Gavin memutar bola matanya malas, kesal karena Gavin seenaknya saja menyentuhnya.
"Lepas!" Tepis Queen pada tangan Gavin.
Gavin yang melihat wajah kesal Queen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maaf, jangan marah ya," pinta Gavin dan membujuk Queen untuk tidak lagi marah.
Gavin pun membawa Queen untuk jalan-jalan agar mood ibu dari anak-anaknya itu kembali ceria. Semua yang terjadi di antara mereka di lihat oleh beberapa orang yang saat ini membereskan rumah yang akan di tinggali oleh tuan mereka. Salah seorang merekam dan mengirimkannya kepada tuannya dan itu membuat sang penerima tersenyum kecil. Ternyata cucunya telah memiliki seorang pria.
.
.
.
Bersambung