
Nyonya Tania, Davin dan Devan malam itu akhirnya menginap di keluarga Tesla atas perintah Jaeden dan Affandra. Sedangkan Chloe sedari tadi hanya diam, terus memperhatikan dua anak kembar yang matanya mirip dengan Daddy mereka.
Di dalam kamar, Chloe menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, sambil berbincang mengenai keluarga Menzies.
"Siapa orang yang berani membuat mereka seperti ini, sampai tega ingin menangkap anak kecil."
"Aku tidak tahu sayang, itu urusan mereka. Kita tidak bisa ikut campur. Mungkin saja itu musuh bisnis mereka," Chloe mengangguk mengerti, di dunia bisnis apapun bisa di lakukan, bahkan membunuh pun di halalkan.
"Tapi aku hanya tidak menyangka anak kecil pun ingin mereka lenyapkan," Jaeden mengangguk, membenarkan ucapan istrinya. "Sayang, menurut mu mata dua anak itu mirip dengan Daddy tidak?" tanyanya apakah suaminya memiliki pemikiran yang sama dengannya atau tidak.
"Ya, mata itu seperti dengan Daddy, mata yang di miliki Davin," Chloe mengangguk, ternyata bukan hanya dirinya yang merasakan, suaminya pun juga merasakan apa yang di pikirkan nya. "Tidur lah ini sudah malam," elusnya di kepala itu dan menciumnya dengan lembut.
.
.
.
Pagi hari, Davin dan Devan telah bangun. Dia sudah nampak begitu tampan setelah mandi. Duduk di kursi tamu dengan anteng sambil matanya melihat ke arah pintu terus, seolah menunggu kedatangan seseorang.
Chloe dan Jaeden yang baru turun dari kamarnya, melihat keberadaan mereka berdua, saling pandang. Dan Jaeden mengangguk, meminta Chloe untuk mendekati mendekati mereka berdua.
"Kalian kenapa? Kenapa melamun?" tanya Chloe duduk di samping mereka.
Davin dan Devan yang melihat kedatangan Chloe menoleh, menatapnya dan menjawab. "Kami menunggu Daddy dan Mommy."
"Daddy dan Mommy? Em...Apa kalian sudah mengatakan jika kalian ada disini?"
"Belum, kami belum menghubungi Daddy dan Mommy," jawab Devan memang belum mengabari Daddy dan Mommy nya, karena ponsel Omanya hilang saat di hutan.
Davin dan Devan diam kembali, rindu dengan orang tuanya. Melihat wajah mereka diam kembali, Chloe mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada mereka.
"Hubungi orang tua kalian, agar mereka tahu kalian ada disini," ucapnya tersenyum kecil, sungguh menyukai dua anak kembar itu.
Davin dan Devan menatap Chloe, menelisik, apakah itu benar atau hanya untuk menyenangkan mereka. "Kami tidak hafal nomor Daddy dan Mommy," jawab Davin, dan setelah itu membuang muka. Dalam hati, ia berkata Chloe orang yang baik. Dan seluruh keluarga pemilik Mansion adalah orang yang baik. Jadi dirinya tidak perlu khawatir akan keselamatan mereka.
Chloe tersenyum melihat hal itu, ia mengelus kepala Davin yang sikap nya acuh dan datar. Davin yang di perlakukan seperti itu dalam hati mendengus kesal, tidak menyukai di sentuh seperti itu. Namun karena sadar dirinya, adiknya dan Omanya di selamatkan oleh keluarga ini, ia akhirnya hanya bisa diam. Sedangkan Devan tertawa dalam hati, tahu Davin tidak menyukai sentuhan itu.
"Aku akan mencarikan nomor milik Daddy mu. Serahkan pada ku," ucap Chloe dan memerintah anak buahnya untuk mencari nomor milik Gavin Menzies. Tidak perlu waktu lama, kini Chloe telah mendapatnya.
"Nah, sekarang hubungi nomor Daddy mu," Davin dan Devan menatap dengan kening berkerut. Secepat itukah, batin mereka. "Ambillah," pinta Chloe untuk mengambil ponselnya dan secepatnya untuk menghubungi Gavin.
Davin mengambilnya dan berkata, "Anda benar-benar ingin secepatnya kami pergi dari sini," jawabnya dengan datar dan berhasil membuat Chloe tertawa. Sungguh anak berani.
"Apakah itu tawa istri mu?" Jaeden mengangguk, sepertinya memang benar itu tawa Chloe. "Apa yang di lakukannya sampai membuatnya tertawa lepas seperti itu?"
"Entahlah, hanya saja saat ini dia bersama dengan si kembar."
Affandra mengangguk, mungkin si kembarlah yang membuatnya tertawa lepas. "Sepertinya kehadiran mereka merubah perasaannya,"
Jaeden diam. Jika memang mereka berdua adalah sumber bahagia Chloe yang lama hilang, Jaeden tidak tahu setelahnya jika dua kembar itu akan kembali bersama keluarganya dan tidak bersama mereka lagi.
Hah, Jaeden menghela nafas, matanya menatap punggung Nyonya Tania yang membantu ibunya memasak untuk sarapan pagi. Berharap tidak secepat itu untuk mereka pergi.
.
.
Di ruang tamu, Davin kini menghubungi nomor Daddy nya. Dan Gavin yang kini sedang menjadi keberadaan mereka bertiga, melihat nomor asing menghubungi nya, mengerutkan kening, siapa pikirnya dalam hati. Gavin pun mengangkatnya dan betapa terkejutnya saat mendengar suara yang di kenalnya, putranya.
"Daddy,"
Gavin seakan tidak percaya jika yang menghubungi nya adalah Putranya. Rasa haru karena ternyata putranya baik-baik saja, membuat matanya berkaca-kaca.
"Putranya ku, kalian baik-baik saja? Kalian dimana? Apa terjadi sesuatu dengan kalian? Cepat katakan dimana kalian sekarang? Daddy akan menjemput kalian,"
Devan yang mendengar suara panik Daddy nya tersenyum. Ternyata Daddy nya sangat menghawatirkan keadaan mereka. Sedangkan Davin tetap tanpa ekspresi, namun dalam hati bahagia daddynya menghawatirkan mereka.
"Kami baik-baik saja Dad. Kami saat ini ada di____," Davin bingung tidak tahu ada di tempat siapa.
Chloe yang tahu kebingungan mereka menjawab, memberitahukan bahwa saat ini mereka ada di keluarga Tesla.
"Keluarga Tesla Dad," jawab Davin dan Gavin terkejut, benarkah apa yang di dengarnya. Ia takut apa yang di dengarnya salah.
Keluarga Tesla? Bagaimana bisa putranya ada di keluarga Tesla? Mungkinkah mereka yang menolong ibu dan anaknya?
Gavin yang mengetahui keberadaan Devan, Davin serta ibunya langsung mengabarkan kepada Papanya tentang keberadaan mereka. Dan mereka pun langsung berangkat menunju tempat kediaman Tesla yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari kediamannya.
.
.
.
Bersambung