
King dan Tian kini pergi ke suatu tempat dimana Tian memberi perintah pada bawahannya untuk menawan Lucas dan Beno. Dan setelah menempuh perjalan beberapa menit mereka berdua akhirnya sampai di tempat tujuan.
Seorang pengawal membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Silahkan, tuan,"
"Hm...apa mereka baik-baik saja?" tanya Tian tentang Lucas dan Beno.
"Mereka belum mati tuan, Tuan Samuel tidak membiarkan mereka mati begitu saja sebelum tuan datang," jawab bawahan tersebut, dan Tian mengangguk.
"Bawa aku kepada mereka,"
Bawahan itu pun membawa Tian dan King ke tempat dimana Lucas dan Beno berada. Dan setelah sampai di ruangan itu, Samuel langsung menyambutnya.
"Selamat datang tuan," sapa Samuel yang sama sudah tuanha.dengan Tian. Samuel sebenarnya sudah pensiun menjadi bawahan Tian, hanya saja ia di ajak oleh Tian untuk mengurus orang tersebut dan mau tidak mau ia pun menyetujui.
"Kenapa masih memanggil ku seperti itu? Kita ini keluarga," jawab Tian menepuk bahu Samuel dan Samuel hanya tersenyum kecil.
Samuel menatap pria yang bersama dengan Tian. Tian yang tahu tatapan itu memperkenalkan diri pria tua yang bersama dengan nya.
"Dia Albern Morenes, atau biasa di panggil King," jawab Tian dan Samuel mengangguk, ia tahu siapa orang yang di panggil King, hanya saja belum pernah melihatnya secara langsung.
"Selamat datang di Negara J, tuan Albern,"
Hm...King mengangguk dan mengikuti Tian.
Tian, King dan Samuel kini berada di sebuah ruangan yang sedikit gelap. Hanya terdapat pencahayaan yang minim. Tian menghampiri dua orang yang terikat dengan tubuh babak belur, mengangkat dagu pria itu dan menatapnya.
"Hm...apa kau yang membuat mereka seperti ini?" tanya Tian tentang wajah kedua yang lebam dan memar.
"Bukan tuan, tenaga saya tidak memadai jika harus membuatnya babak belur seperti ini."
"Ternyata kau benar-benar sudah tua, Samuel,"
Samuel hanya nyengir saja. Bukankah mereka sama, sama-sama sudah tua? Mungkinkah tuannya berpikir, bahwa dirinya masih muda, sehingga mengatainya seperti itu. Tapi karena tidak ingin menyinggung tuannya, Samuel pun menjawab dengan anggukan.
"Saya memang sudah tua tuan, Bakan saya sudah memiliki beberapa cucu."
Tian yang mendengar langsung menoleh, menatap Samuel dengan tajam. "Kamu kira hanya kau saja yang memilik cucu. Aku pun sama, malah kini aku sudah memiliki cicit," jawab Tian tak mau kalah.
King yang berada di sana hanya memutar bola mata nya malas, Tian sungguh menyebalkan.
"Dia cucu ku, jangan harap mengambilnya dari ku," Jawab king tak mau kalah.
Suasana menjadi mencekam hanya karena masalah cucu. Dan Samuel pun menengahi, mengganti topik agar mereka tidak berdebat.
"Tuan, apa yang akan kita lakukan dengan mereka berdua?"
"Lepaskan mereka dan bawa ke Moza," jawab Tian meminta Samuel membawa Lucas dan Beno ke tempat Moza, hewan peliharaan Tristan, harimau putih.
"Moza?"
"Hm...aku tunggu disana," Jawab Tian dan pergi ke tempat pertunjukan. Tian tidak menyiksa secara langsung mereka karena dirinya terlalu malas. Bukan hanya karena malas juga, tubuhnya memang sudah tidak sekuat dulu lagi mengurus dua orang sekaligus. Huh, sekarang ia tahu bagaimana lemahnya sebuah tubuh.
Tian dan King kini duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan. Mereka menatap bawah, dan melihat Moza yang berjalan di dalam kandang, menunggu makanan nya. Beberapa bawahan Tian menarik paksa tubuh Lucas dan Beno, membawanya masuk kedalam kandang.
"Lepaskan aku!" teriak Beno tidak mau mati menjadi santapan harimau besar. Sedangkan Lucas pasrah, karena tubuhnya yang lemah.
"Seret dia, dan paksa," perintah Samuel dan bawahan itu memaksa menarik tubuh Beno yang terus memberontak untuk di lepaskan.
"Diam!!" Samuel yang kesal membentak Beno agar diam, karena menurutnya Beno terlalu berisik.
Beno dan Lucas di lempar di dalam kandang Moza dan bawahan itu mengunci pintu agar mereka tidak bisa keluar.
"Lepaskan aku!" teriaknya dengan keras, memukul-mukul besi kandang. Namun usahanya sia-sia karena permintaan itu sama sekali tidak di gubris oleh mereka. Dan malah mereka menunggu pertunjukan itu.
Goar.....
Auman Moza menggelegar di tempat itu, membuat Lucas dan Beno menoleh, dan panik. Mereka ketakutan saat melihat tubuh Moza yang besar berjalan menghampirinya.
"Jangan mendekat," ucap mereka berdua mundur.
Lucas yang tubuhnya lemah, sekuat tenaga menghindari harimau itu. Ia tidak ingin mati di tangan harimau besar yang sepertinya sudah sangat lapar.
Lucas menatap atas, di lihatnya Tian menatapnya dengan senyum seringainya.
"Lepaskan aku badjingan!" ucap Lucas sekuat tenaga meninggikan suara.
"Aku ingin menonton pertunjukan, bagaimana bisa aku melepaskan mu." jawab Tian santai, seolah sebuah nyawa tidak berarti baginya.
King yang ada di sampingnya menatap Tian dengan pandangan rumit. Ternyata rumor itu benar, raja dari kerajaan Dominic Memang sangatlah kejam. Dan pertunjukan pun di mulai.
Moza langsung langsung melompat kearah mereka dan membuat Beno berlari menghindari seringan itu. Sedangkan Lucas yang berguling, tapi sialnya tubuhnya terkena cakaran kuku Moza dan membuat punggungnya robek dan darah mengalir deras.
Moza yang mencium bau darah mengamuk dengan keras, semangat untuk memakan mangsanya semakin berkobar dan Moza pun kembali menyerang untuk menyantap makanan yang di berikan tuannya.
Goar....
Argh.....!
Teriak Lucas kembali saat kakinya terkena cakaran.
Lucas dan Beno sekuat tenaga menghindari harimau itu. Tapi sialnya, Lucas yang kalah dan manjadi santapan harimau yang kelaparan.
Srek....
Tubuhnya terkoyak oleh cakaran dan gigitan taring Moza membaut Lucas mati seketika. Beno yang melihat Lucas mati di makan Harimau putih, ketakutan. Tubuhnya berkeringat dingin, dan nafasnya memburu.
.
.
.
.
Bersambung
Hai hai..Author mau bagi-bagi hadiah Ya. Ya, walaupun tidak banyak karena sebelumnya author tidak pernah kasih Giveaway sekalipun.
Beberapa episode lagi mungkin novel ini akan tamat, jadi untuk ranking umum 1, 2, 3 sampai 5 akan author kasih hadiah pulsa.
Hadiah pulsa 1, 2 dan 3 mendapatkan pulsa 50k.
dan untuk 4 dan 5 pulsa 25k.
Jangan lupa dukungannyaπππππ. Setelah novel ini tamat akan author umumkan pemenangnya.πͺπͺπͺπͺ