
Jaeden dan Chloe saking pandang dan tersenyum. Dan Jaeden pun bertanya tentang apa yang di pikirkan nya tentang ucapan Gavin sebelumnya yang meminta bantuan padanya, karena orang bernama King.
"Sebelumnya kamu mengatakan kepada ku tentang orang yang meminta mu untuk menghubungi ku jika terjadi sesuatu dengan kedua anak mu. Jika boleh tahu siapa King itu?" tanya Jaeden dan Chloe penasaran. Pasalnya mereka tidak mengenal orang memiliki nama King selama ini.
Gavin diam, bingung mau menjawab apa. Soalnya dirinya pun tidak mengerti kenapa King memintanya untuk meminta bantuan pada keluarga Tesla. Gavin menghela nafas membuat Jaeden dan Chloe saking pandang, bingung dengan pria muda di depannya.
"Ada apa?" tanya Jaeden.
"Tidak," jawab Gavin cepat. "Saya hanya mengingat pesan kakek king saja," sebelum menjawab pertanyaan itu, Gavin menatap sepasang suami istri itu secara bergantian, wajah mereka berharap meminta penjelasan. Dan akhirnya dirinya pun menjelaskan semua nya pada mereka berdua.
"Sebenarnya saya juga tidak mengetahui siapa Kakek King ini dan tidak tahu dari mana asalnya. Dia hanyalah tetangga ibu dari anak-anak saya yang baik pada mereka. Beberapa minggu ini, ibu dari putra saya mengalami hal buruk, dia hendak di bunuh oleh sekelompok yang tidak kenal. Karena lukanya yang parah, Kakek King pun membawa nya ke negaranya. Dia pun juga tidak mengatakan dimana asal negara nya berada. Dia hanya berpesan, jika terjadi sesuatu dengan kedua putra saya, saya di minta untuk meminta bantuan kepada keluarga anda. Karena suatu saat anda akan mengerti tentang pesan nya akan Davin dan Devan." jelas Gavin panjang.
Jaeden dan Chloe yang mendengar bingung, siapa sebenarnya King ini. Kenapa dia berkata seperti itu? Seolah ada sesuatu yang di sembunyikan nya.
"Apa kamu benar-benar mengenalnya dan mengetahui hal lebih tentangnya?"
Gavin menggeleng, ia memang tidak mengenal jauh Kakek King ini. Jaeden dan Chloe menghela nafas. Ternyata tetap tidak mengetahui siapa King ini. Rasa penasaran akan pria tesebut, membuatnya ingin menyelidiki. Tapi saat mengingat siapa pelaku yang membuat putranya berbaring koma, ia harus menghancurkan nya dan membalas apa yang mereka lakukan.
"Oh ya, apa kau tahu siapa pelaku yang menyerang kedua putra mu?" tanya Chloe.
"Tidak, nyonya," jawab Gavin memang belum mengetahui, karena yang mengurus mereka adalah anak buah wanita yang ada di depannya ini.
"Mereka adalah anak buah dari Arno Patrice, mantan calon tunangan mu,"
Gavin yang mendengar terkejut, ternyata mereka masih tidak berhenti untuk menyakiti keluarga nya.
"Badjingan itu benar-benar tidak menyerah untuk membunuh putra ku dan menghancurkan ku," ucapnya dengan geram, dan mengepalkan tangan dengan kuat.
Chloe tersenyum, ada sesuatu hal licik di otaknya dan dia pun menawarkan bantuan untuk menyingkirkan orang-orang tersebut.
"Jika kau mau aku bisa membantu mu menyingkirkan mereka semua dan meratakan markasnya." ucap Chloe membuat Gavin menatap Chloe. Benarkah apa yang di katakan-nya itu?"
"Apa anda sungguh-sungguh nyonya," tanya Gavin memastikan
"Tentu saja, aku akan membantu mu jika kau memang mau. Bukankah begitu sayang?" ucap Chloe pada Jaeden.
"Ya, kami akan membantu mu," jawabnya paham dengan apa yang di rencanakan istrinya. "Tapi dengan satu syarat,"
"Apa itu tuan?" tanya Gavin ingin tahu dan waspada, takut Jaeden menginginkan perusahaan nya.
"Izinkan kami untuk bertemu dengan kedua putra mu,"
Gavin tidak menyangka jika permintaan itu karena ingin bisa bersama kedua putranya itu. Dan tahu Davin dan Devan lebih aman dengan keluarga Tesla, Gavin pun mengizinkan mereka untuk bisa bertemu dengan Davin dan Devan sesuka hati
.
.
.
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Chloe sering memberi perintah pada supirnya untuk menjemput Davin dan Devan. Dan seperti sekarang ini, Chloe telah menghubungi Gavin, meminta izin untuk mengajak mereka berdua jalan-jalan bersamanya.
"Kalian harus hati-hati, jangan rewel disana. Dan ingat jangan buat susah Nyonya Chloe, mengerti?"
"Mengerti Oma," jawab Devan dan Davin hanya mengangguk saja.
Keduanya kini di jemput oleh supir Chloe, dan mereka pun masuk kedalam mobil mewah itu menuju tempat kediaman keluarga Tesla.
Davin yang memiliki pemikiran lebih dewasa, menatap keluar jendela. Pikiran nya melayang memikirkan wanita yang selalu ingin bertemu dengannya. Keluarga bukan, tapi entah kenapa ia merasa begitu dekat dengan nya. Dan ia sangat menyukai wanita itu.
Hari ini entah mereka akan di bawa kemana, yang pastinya akan di bawa ketempat yang mereka sukai. Davin tidak sabar untuk segera bertemu dengan Chloe, melakukan hal-hal yang di sukainya. Seperti kemaren hari, Chloe membawa dua anak itu ketempat balapan, dan itu sangat-sangat menyenangkan.
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di kediaman Tesla. Chloe yang sedari tadi menunggu, menyambut kedatangan mereka dengan senyuman.
"Selamat datang?" sapa Chloe langsung mendapatkan pelukan hangat dari keduanya. "Ayo kita masuk," ajak Chloe membawanya masuk kedalam rumah.
"Kalian sudah makan?"
"Sudah."
"Kalau begitu kita keruang om Tristan dulu, menjenguknya,"
Keduanya mengangguk dan mengikuti, masuk kedalam ruangan Tristan di rawat. Disana Tristan sedang berbaring dengan banyak selang yang menempel di tubuh. Sudah satu Minggu lebih tapi Tristan belum sadarkan diri juga.
Chloe duduk di samping Tristan, mengelus lembut wajah itu. Air matanya menetes. Davin dan Devan yang melihat mendekat dan mengusap pipi Chloe yang basah,
"Jangan menangis, Grand ma. Kami yakin Om Tristan pasti akan sembuh dan sadar," Chloe mengangguk, memang itu yang di harapkan. Chloe mencium wajah mereka berdua, begitu sayang dan sudah menganggapnya sebagai cucunya sendiri.
"Mommy harap kamu lekas sadar sayang. Dan akan Mommy kenalkan dengan cucu baru Mommy, Davin dan Devan."
"Hallo om, aku Devan. Dan ini Davin, kakak aku," ucap Devan memperkenalkan diri dan kakaknya yang berwajah dingin itu.
.
.
Setelah menjenguk dan mengajak mengobrol Tristan, Chloe membawa Davin dan Devan ke suatu tempat. Tempat yang menjadi markas nya di Negara J, setelah Negara N dan H.
Saat sampai di markas besar yang jauh dari tempat keramaian, mereka bertiga di sambut dengan beberapa anak buah yang berjaga. Memberi hormat dan mempersilahkan mereka masuk.
"Silahkan Nyonya, dan ____" jeda mereka tidak mengenal dua bocah yang memiliki rupa yang sama, namun beda sikap. Yang satu cuek dan satu murah senyum.
Melihat anak buahnya bingung dengan dua anak yang di bawanya, Chloe menjelaskan, bahwa dua anak itu adalah tuan muda kecil mereka. Dan dengan senang mereka pun menyambut tuan muda kecil mereka di markas kedua Mafia GEROGRE LORIDZ.
.
.
.
Bersambung