
Argh....
Teriak Arno kesakitan. Darah mengucur dari lengannya yang patah. Wajahnya menjadi pucat dan itu membuat Queen memiliki kesempatan. Queen memegang pedang nya dan menendang tubuh Arno hingga terjatuh.
Sadar didepannya ada Queen yang siap membunuhnya, Arno mundur dengan wajah pucat takut mati di tangan Queen.
"Jangan mendekat," serunya masih mundur hingga mentok di tembok.
Tatapan Queen begitu dingin dan mengerikan. Mengangkat pedang panjangnya dan siapa untuk menebas Arno.
Arno yang melihat tubuhnya berkeringat dingin. Ia tidak menyangka jika akan mati di tangan seorang wanita yang belum lama di singgung hanya karena putrinya yang tidak terima tentang Gavin membatalkan pertunangan. Andai saja waktu itu Arno tidak melakukannya, mungkin saja tidak akan terjadi hal seperti ini.
"Tidak.....!!!"
Teriak Arno terlambat karena pedang itu terlanjur lebih dulu menebas leher Arno hingga terpotong.
Tak hanya memotong bagian leher Arno, Queen mencincang tubuh itu layaknya memotong daging ayam. Queen seperti dirasuki setan karena marah dengan pria tua itu yang selalu mengusik nya dan kedua putranya. Tanpa ampun Queen terus meluapkan emosinya pada tubuh yang tidak bernyawa itu. Dan setelah puas, Queen menendang beberapa bagian tubuh itu sembarang arah membuat anak buah Lucas yang melihat ada muntah karena darah yang begitu banyak mengalir di lantai.
Gavin dan anak buah Lucas yang masih bertahan dengan luka mereka terkejut dengan kesadisan yang di lakukan Queen. Kejam, itu lah yang di pikirkan. Tapi Gavin tidak mempermasalahkan kekejaman Queen, menurutnya apa yang di lakukan Queen benar dan itu memang pantas untuk Arno.
Tanpa merasa takut karena telah membunuh Arno, Queen berbalik badan dan menghadap sisa anak buah Lucas yang masih bertahan dengan tubuh terluka.
"Majulah kalian," ucap Queen malah membuat mereka gemetar, takut Queen akan melakukan hal itu kepada mereka, membunuhnya dengan sangat sadis.
Tidak ada seorang pun yang berani maju, mereka tetap diam di tempat tanpa bergerak sedikit pun, begitu pun dengan Gavin yang diam di tempat nya, tidak berani mendekati wanita yang saat ini sedang marah.
Sedangkan dari balik dinding berlubang, Laura yang mengintip kakinya bergetar, tidak menyangka Queen akan membunuh papanya dengan sangat-sangat sadis. Tubuh Laura luruh di lantai, air matanya menetes di pipi. Dan kini hanya tinggal dirinya lah yang tertinggal. Namun semua itu tidak membuatnya menyerah, Laura malah semakin menjadi, ingin menghancurkan Queen. Ada dua anak di tangannya, dan itu akan di gunakan untuk mengalahkan Queen Serrena.
"Ya, dengan anak ini akan ku buat kau menyesal telah membuat ku seperti ini wanita ja-lang," gumam Laura dan menghampiri Devan dan Davin.
Devan dan Davin yang di sekap oleh Laura kini wajahnya menjadi pucat, dari kemaren mereka tidak makan dan minum, karena niat Laura menyiksa mereka berdua agar tidak memiliki tenaga untuk berteriak dan mengoceh.
Devan sudah tidak kuat, tidak ada tenaga untuk nya berbicara. Sedangkan Davin mencoba kuat, dan berkata. "Mau apa kau?" tanya nya melihat Laura mendekati mereka.
"Tentu saja menyiksa kalian," cengkeramnya pada rahang Davin membuat anak kecil itu merintih kecil. "Bagaimana jika aku membuat kalian terluka bahkan membuat kalian mati di tangan ku. Aku ingin melihat bagaimana reaksi wanita ja-lang itu saat melihat anaknya mati di depan matanya, pasti sangat menyedihkan dan itu sangat membuat ku senang. Hahaha.....Ya, akan ku lakukan, tidak sabar aku melihat nya kacau dan menangis di depan ku." ucap Laura sendirian layaknya wanita gila karena ingin melihat kacaunya Queen kehilangan anaknya.
Laura melepas ikatan itu dengan kasar tanpa mempedulikan perintah Lucas. Laura seolah lupa dan hanya ingin melakukan apa yang ingin di lakukan. Dan setelah itu menarik paksa tubuh Davin dan Devan, membawanya keluar dari tepat itu dari pintu lain.
Lucas tidak mengetahui hal itu. Yang hanya di pikirkan nya saat ini adalah kelompok Lucifer yang mengacau semuanya.
Brak....
Pukul Lucas pada meja di depannya, tidak tahan diam saat mengetahui Hazel kini bertarung dengan kelompok asing yang tidak di kenal.
"Kumpulkan semuanya dan selesaikan mereka," seru Lucas dengan suara keras.
Semua anak buah Lucas berkumpul menjadi satu. Jika sebelumnya di tempat kan menjadi beberapa kelompok untuk menyergap kelompok Chloe, ini tidak, mereka akan melawan kelompok Lucifer yang ternyata memiliki kekuatan besar walaupun jumlah mereka lebih sedikit dari kelompoknya.
Semuanya pun bersiap untuk membantu Hazel melawan kelompok Lucifer. Dengan senjata di tangan mereka siap maju dengan dipimpin langsung oleh ketua mereka.
Namun saat mereka keluar dan ikut bergabung dengan kelompok Hazel, saling berhadapan dengan Lucifer. Sekelompok besar datang dengan di pimpin langsung oleh Chloe Dominic, membuat tempat itu semakin mencekam.
.
.
.
.
Bersambung