My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 27. Penjahat.



Gavin sungguh bingung, dua anak yang belum mengetahui siapa dirinya kini menatapnya dengan tidak suka lantaran Queen berbicara dengan nada dingin padanya. Ingin dekat tapi sepertinya tidak akan mudah.


"Tidak bisakah kamu menawarkan ku untuk duduk," ucap Gavin membuat Queen memicingkan mata.


"Tidak! Aku takut jika kau duduk kau akan betah berada disini. Dan jika tiba-tiba wanita mu itu datang, aku takut dia akan menuduh ku mengambil miliknya," ucap Queen menohok hati Gavin.


Gavin sadar saat terakhir kali bertemu, Queen pasti melihat Laura memeluknya. Gavin tidak ingin Queen salah sangka padanya, ia mendekat dan meminta Queen untuk mendengar penjelasannya, seolah menganggap mereka memiliki hubungan dekat.


"Tidak seperti itu. Aku tidak men____," belum juga Gavin berbicara, Davin dan Devan yang ada di sana memukul kaki Gavin menggunakan sapu.


"Aduh....!" Gavin melihat ke arah bawah, di lihatnya keduanya sedang memukulinya menggunakan sapu. "Apa yang kalian lakukan?"


Davin mendongak, menatap tajam Gavin. "Apa yang anda lakukan? Jangan dekat-dekat dengan mommy. Dia milik kami. Jangan harap anda bisa menyentuh mommy ku. Dan tak akan ku biarkan anda mencium nya," Davin marah saat Gavin hendak menyentuh tangan Queen, ingin menjelaskan.


Gavin dan Queen yang mendengar terbengong. Apa maksudnya, mencium? Apa nya yang mencium. Sungguh pemikiran yang sangat jauh.


Gavin berjongkok, tepat di depan dua anak itu. Davin dan Devan memberikan tatapan tajamnya, tidak senang dengan pria asing di depannya. Mereka mundur, sedikit menjauh. Tidak ingin dekat-dekat dengan pria yang menurutnya aneh.


Gavin yang melihat menghela nafas. "Kenapa menjauh?"


"Kami takut, jika sebenarnya kamu adalah pria jahat,"


"Mana ada. Apakah wajah ku nampak seperti penjahat?" tanyanya pada dua putranya yang mengemaskan itu


"Penjahat tidak di lihat dari tampangnya. Tapi niatnya. Sekarang banyak penjahat yang memiliki wajah tampan, contohnya seperti anda. Penjahat cabul," ucap Davin membuat Gavin benar-benar terkejut. Apa katanya tadi? Penjahat cabul.


Gavin ingin teriak saat putranya sendiri mengatakan dirinya cabul. Ingin sekali ia menjitak kepala putranya itu. Bagaimana bisa mengatakan ayahnya sendiri pria cabul. Dan di lihat dari mana dirinya nampak seperti pria cabul.


.


.


.


Di tempat Laura berada, Laura yang mengetahui Gavin pergi ke tempat Queen sangat marah, ia membanting gelas yang saat ini di pegang nya.


"Dasar wanita ja-lang! Beraninya dia mencoba merebut pria ku," marahnya dengan nafas memburu. Wajahnya yang putih terlihat merah. Orang suruhan yang mengabarkan diam, hanya bisa menunduk.


"Bawa aku ke tempat wanita ja-lang itu," perintah nya ingin melabrak Queen.


Saat mereka hendak pergi, Arno yang melihat menghentikannya. "Mau kemana?" tanyanya melihat putri nya buru-buru.


"Aku ingin membunuh wanita ja-lang itu! Beraninya dia menggoda pria ku,"


Arno yang bersama Ryan saling pandang. Apakah Gavin saat ini bersama dengan wanita itu, pikirnya dalam hati.


"Apa Gavin bersama wanita itu?" tanya Ryan memastikan apa yang di pikirkan.


"Benar, om. Gavin saat ini sedang bersama dengan wanita ja-lang itu," jawab Laura dan pergi tanpa memperdulikan dua pria tua itu memanggilnya.


Setelah kepergian Laura, Arno juga berpamitan. Pergi ke suatu tempat yang tak lain adalah markas mafianya, ZAPATA.


"Aku pergi dulu. Ada sesuatu yang harus ku urus," Ryan mengangguk dan Arni pun pergi.


Setelah melihat Arno pergi, Ryan mengambil ponselnya dan menghubungi putranya yang katanya saat ini bersama dengan Queen.


Drtt...


Drtt...


Gavin saat ini ada di depan tiga manusia beda usia. Tatapan ketiganya tak bersahabat sama sekali, mengintimidasi sampai membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.


Davin melirik ponsel yang berdering itu. "Siapa? Apakah itu rekan penjahat mu?"


Gavin melotot mendengar Davin tetap menganggapnya seorang penjahat. "Aku bukan penjahat seperti yang kalian pikirkan," jawab Gavin tidak terima.


Namun semua sanggahannya tetap tidak membuat mereka percaya, karena lagi-lagi Mommynya mengatakan jika Gavin memang seorang penjahat. Maksud nya dalam arti penjahat kela-min, karena Gavin pernah memperkosanya hingga ada Devan dan Davin.


"Penjahat tetaplah penjahat." ucap Queen bersedekap dada, tidak takut dengan Gavin yang memberikan pelototan.


"Kenapa kamu mengatakan aku seorang penjahat? Jangan membuat mereka menganggap ku seperti itu. Lagi pula kapan aku menyakiti kalian?"


"Kau tidak menyakitinya, tapi menyakiti ku," jawab Queen membuat Devan dan Davin menatap Mommynya. Benarkah pria asing di depannya pernah menyakiti mommynya?


"Kapan mommy di sakiti olehnya?" tanya Devan dan Davin bersama.


"Em....6 tahun lalu. Di sebuah kamar yang gelap," jawab Queen membuat Gavin tidak bisa berkutik, tahu maksud yang di katakan Queen. Seketika Devan Dan Davin langsung memberikan tatapan tajam pada Daddynya itu.


"Beraninya kamu menyakiti mommy!" mereka turun dari kursi dan langsung ke arah Gavin, memukul dan menggigit tubuh Gavin. Sedangkan Queen tersenyum menyeringai.


"Rasakan," batinnya senang melihat Queen di hajar oleh putranya.


Mata Queen beralih ke arah ponsel milik Gavin yang berdering. Ia mengambilnya dan mengangkat ponsel tersebut saat ada panggilan yang masuk.


"Gavin, dimana kamu?" tanya Ryan, namun yang nampak bukannya wajah Gavin melainkan Queen dengan tatapan dingin.


"Anda mencari putra anda?" Queen mengarahkan kamera belakang, dan terlihat Gavin sedang di gebukin oleh dua anak kecil.


Melihat Gavin yang di hajar oleh dua anak yang asing baginya, mengerutkan kening. Siapa anak itu? Mungkinkah itu anak Gavin?


"Gavin....!" panggilnya membuat mereka langsung berhenti. Menatap ponsel yang saat ini di pegang Queen.


Gavin mengambilnya dan berbicara kepada papanya di samping Queen, tanpa peduli Queen suka atau tidak. "Ada apa, pa?"


"Kamu bersama dengan mereka?" Gavin mengangguk, menatap Queen yang tatapan nya begitu galak. "Laura akan datang kesana. Barusan papa bertemu dengannya. Ia ingin membunuh wanita itu," ucapnya malas menyebut nama Queen


"Laura? Dia tahu aku ada disini?"


"Tentu saja. Apa kau lupa siapa dia? Dia itu anak Arno. Dan papa yakin kau tidak melupakan siapa Arno kan?" Gavin mengangguk. Tidak lupa jika Arno adalah seorang Mafia. "Bagus, papa akan kesana sekarang?"


"Ngapain papa kesini?" Pertanyaan Gavin tidak di jawab karena Ryan telah memutus panggilan.


Gavin menatap ponselnya dan setelah itu beralih ke arah Queen. "Laura akan datang. Kamu sembunyilah, biar aku yang mengurusnya."


"Sembunyi? Kau pikir aku takut dengan gadis manja itu?"


"Bukan seperti itu. Aku hanya tidak ingin dia membuat ulah, dan melukai kalian." Queen memutar bola matanya malas. Melukai? heh, jika wanita itu mampu, maka biarkan dia melakukannya.


.


.


.


Bersambung