My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 59, Ingin Bertanya Tentang Siapa King



Door.....


Argh...!!!


Teriak seorang dari musuh yang tangannya tertembak peluru dari anak buah Chloe Dominic.


"Kurang ajar!" marahnya tidak terima. Namun anak buah Chloe seakan tidak peduli, mereka begitu santai berjalan mendekati Gavin, Davin dan Devan, bantunya.


"Anda tidak ada apa-apa, tuan?" tanya anak buah Chloe yang membantu Gavin berdiri.


"Saya tidak apa-apa. Terimakasih karena telah membantu kami," anak buah Chloe hanya tersenyum kecil. Mereka di perintah oleh tuan mereka, dan jika tidak menurut dan melaksanakan tugas dengan baik, nyawa mereka yang akan menjadi taruhan.


"Biarkan mereka menjadi urusan kami. Anda pergilah, dan bawa tuan kecil dari tempat ini," ucapnya tidak ingin seorang anak kecil melihat adegan membunuh.


"Baiklah, kami akan pergi. Sekali lagi terimakasih, dan jaga diri kalian," ucap Gavin dan mengajak Tio, membawa anak, ibu dan supir yang sedang terluka, meninggalkan anak buah Chloe yang kini berhadapan dengan kelompok tersebut.


"Siapa kalian? Kenapa ikut campur urusan ku,"


Anak buah Chloe tersenyum miring. Tanpa banyak berkata, langsung meminta kelompoknya untuk menghabisi mereka semua.


"Lakukan dengan cepat. Jangan buat Nyonya marah,"


Hm.....


Jawab semuanya dan langsung maju mengangkat senjatanya dan menembakkan nya kearah musuh.


Door.....


Door.....


Door.....


Tembakan beruntun cepat tanpa menunda membuat musuh itu terkejut, dan peluru bersarang mengenai tubuh.


Dalam sekali serang, beberapa orang langsung mati dan masih menyisakan 2 orang yang masih bertahan. Mereka berdua menatap tajam semua anak buah Chloe.


"Badjingan! Akan ku bunuh kalian," mereka berdua mengangkat pistolnya dan menembakkan nya ke arah anak Buha Chloe


Door....


Door....


Dengan begitu santai mereka mengindari tembakan dua orang tersebut.


"Maju, bunuh dua orang itu," perintah orang yang memimpin kelompok Chloe.


"Baik," satu orang maju, meremat tangannya, siap untuk membunuh dua orang tersisa dengan tangannya sendiri.


Sing,


Dua buah pisau di tarik dari sarungnya dan kini ada di genggamannya, sebuah pisau tajam melengkung yang siap menggores tubuh mereka.


Pria itu berlari ke arah dua orang yang kini tiba-tiba ketakutan, mencoba lari dari pria yang siap membunuhnya. Namun semuanya itu sia-sia. Anak buah Chloe dengan gerakan cepat berhasil mengejar mereka dan menggorok leher mereka hingga mati.


Ugh....


Tubuh dua orang itu luruh ke lantai dengan bersimbah darah. Dan setelah berhasil membunuh dua orang tersebut, ia kembali menyimpan senjatanya dan menghampiri rekan yang lainnya.


"Semuanya sudah beres,"


"Hm....Sekarang kita pergi tinggalkan tempat ini. Dan melaporkan kepada Nyonya, bahwa tugas telah selesai," semuanya mengangguk dan pergi.


.


.


.


"Davin, Devan, kalian tidak apa-apa kan?" tanya Gavin menelisik, melihat keadaan dua putranya. Menatap wajah mimik keduanya, apakah ada ketakutan atau tidak. Tapi saat melihatnya, seperti tidak ada rasa ketakutan di wajah mereka, membuat Gavin merasa lega


"Kami tidak apa-apa Dad, kami baik-baik saja." jawab Davin tahu Daddynya mengkhawatirkan keadaan mereka. Devan pun juga mengangguk, mengatakan juga baik-baik saja.


"Hah, Gavin merasa lega. "Syukurlah jika kalian baik-baik saja. Daddy hanya takut____"


"Semula kami memang takut Dad saay mereka menyerang dan menembak ke arah mobil Oma. Tapi Davin yakin Daddy pasti akan menolong kami," jawab Devan menyela.


Gavin yang mendengar langsung memeluk mereka berdua. "Maafkan Daddy, maafkan Daddy tidak bisa melindungi kalian dan Mommy," sedih Gavin karena tidak bisa melindungi orang yang di sayangnya dengan kedua tangannya.


Anak kembar itu hanya diam, mendengar celoteh Daddynya yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi mereka. Dan tiba-tiba terdengar ponsel berdering dari balik saku celana Gavin, membuat Gavin melepaskan pelukannya.


"Daddy angkat telefon dulu," kedua nya mengangguk, mengizinkan Daddynya untuk mengangkat panggilan tersebut yang mungkin saja penting.


"Hallo, dengan siapa?" jawab Gavin tidak mengenal nomor yang menghubunginya.


"Saya Chloe, istri Jaeden. Bisakah kamu menemui ku sekarang?" tanya Chloe yang membuat Gavin terkejut, ternyata yang menghubungi nya adalah istri dari tuan Jaeden, nyonya yang baru saja menyelamatkan nyawa anak dan orang tuanya. Dan tanpa penolakan, Gavin pun menyetujuinya. Dan akan menemui Chloe Dominik di sebuah restoran tak jauh dari perusahan keluarga Tesla.


Setelah berpamitan kepada dua putranya, mengatakan jika adahal penting yang harus di lakukan, kini Gavin pergi ke tempat yang di janjikan dengan mengendarai mobilnya sendiri tanpa Tio di sampingnya, karena Tio sendiri telah kembali ke perusahaan untuk menghandle pekerjaan nya.


Tidak memerlukan waktu lama, kini Gavin sampai di restoran tersebut dan masuk menuju ruang yang sudah di beritahukan. Sesampainya di depan pintu ruangan tersebut, Gavin lebih dulu menghela nafas panjang dan masuk.


Chloe dan Jaeden yang menunggu kedatangannya menyambut Gavin, membuat Gavin tidak enak hati.


"Maaf membuat anda menunggu lama, tuan, nyonya,"


"Tidak masalah, duduklah," perintah Gavin dan Gavin pun duduk di antara mereka berdua.


Seorang pelayan kini melayani tamu mereka dengan baik. Dan setelah itu meninggalkan mereka bertiga di ruangan VVIP itu.


"Tuan, nyonya, terimaksih atas bantuan anda barusan. Tanpa adanya bantuan kalian, saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan keluarga saya," ucapnya membuat Chloe tersenyum.


"Hanya bantuan kecil, tidak masalah buat saya. Asal kalian baik-baik saja itu sudah membuat kami lega," jawab Chloe.


Jaeden menepuk bahu Gavin lembut, "Jangan sungkan." Gavin mengangguk, tidak enak sebenar nya dia meminta bantuan pada nyonya dan tuan dari keluarga Tesla.


"Oh, ya tuan, nyonya, jika boleh tahu apa yang membuat anda meminta saya datang kemari? Apakah ada hal penting?"


"Tentu saja," jawab Chloe tersenyum manis. Walaupun umurnya tidak muda lagi, namun kecantikan Chloe benar-benar masih terlihat jelas di wajahnya.


"Kami meminta mu datang kemari karena ada hal yang ingin kami tanyakan," ucap Jaeden.


Kening Gavin berkerut, apa itu? pikirnya dalam hati. Mungkinkah dia ada salah? "Katakan tuan, jika saya bisa menjawab, saya akan akan menjawabnya untuk anda,"


Jaeden dan Chloe saking pandang dan tersenyum. Dan Jaeden pun bertanya tentang apa yang di pikirkan nya tentang ucapan Gavin sebelumnya yang meminta bantuan padanya, karena orang bernama King.


.


.


.


.


Bersambung


Selamat membaca, jangan lupa like, komen dan votenya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜