My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 49, Sisi Lain Queen



Arno yang mendengar kabar terjadi sesuatu dengan Laura dan istrinya langsung bergegas kembali ke rumah sakit. Sebelumnya ia pergi karena urusan yang mendesak tentang perusahan yang tiba-tiba ada masalah. Ia tidak tahu siapa yang melakukannya hingga data perusahaan di bobol oleh orang tidak di kenal.


"Badjingan siapa yang berani ingin menghancurkan perusahaan ku," marahnya pada anak buahnya yang melaporkan hal tersebut.


"Masih kami selidiki, tuan,"


"Cari sampai ketemu. Jangan biarkan dia menghancurkan hasil jerih payah ku,"


"Baik, tuan."


"Oh ya, kamu sudah menemukan pelaku yang menyiksa putriku?"


"Sudah tuan, dia adalah Queen Serrena,"


Mendengar nama Queen lagi, Arno benar-benar kesal dan marah. Kenapa selalu saja wanita itu.


"Baiklah, urus masalah ini. Cari tahu sampai dapat siapa yang membobol data perusahaan. Aku harus secepatnya ke rumah sakit,"


"Baik, tuan."


Setelah menempuh perjalan hampir 20 menit, Arno kini sampai di rumah sakit dan langsung menuju kamar Laura di rawat. Sesampainya di sana, beberapa dokter dan polisi berdiri di depan kamar putrinya, bingung, sebenarnya apa yang terjadi.


"Tuan Arno," sapa dokter yang menangani Laura.


Arno mengangguk dan menatap satu persatu mereka semua. "Ada apa ini? Kenapa berkumpul di depan kamar putri saya?"


Dokter dan seorang polisi pun menjelaskan semuanya. Arno yang mendengar mengepalkan tangannya, marah. Beraninya melakukan itu saat dirinya tidak ada. Dan tanpa berkata, Arno masuk kedalam ruangan tersebut, melihat keadaan keduanya. Dan betapa terkejutnya melihat dua orang berharga dalam hidupnya kini berbaring lemah di atas ranjang.


"Istri ku, putri ku," Arno menyentuh wajah istrinya, tidak percaya mengalami hal seperti ini.


Dokter pun menghampiri dan menjelaskan apa yang terjadi dengan kondisi Fanny dan Laura dan Arno yang mengetahui benar-benar sangat marah.


Di dalam tubuh Nyonya Fanny terdapat racun yang mematikan. Racun itu adalah Botox, racun yang dapat melumpuhkan otot dan saraf. Sedangkan di tubuh nona Laura tidak terlalu bahaya. Mungkin dia hanya bisa tidak berjalan kembali," jelas Dokter tersebut.


Nafas Arno memburu, ia sangat-sangat marah. Entah kenapa pikirannya saat ini adalah Queen si pelakunya. Dokter yang melihat, menenangkan. Dia akan berusaha untuk melakukan yang terbaik, menyembuhkan Laura, tapi tidak dengan Nyonya Fanny karena menurutnya racun itu butuh waktu lama untuk menghilangkannya, atau mungkin saja tidak bisa di sembuhkan, alias nyonya Fanny lebih dulu mati akibat racun tersebut.


"Apapun caranya harus di sembuhkan. Berapa pun biayanya aku tidak peduli. Asalkan mereka selamat, harta ku pun akan ku pertaruhkan semuanya,"


"Baik tuan Arno. Kami akan berusaha semaksimal mungkin,"


Dokter itu pun pergi meninggalkan Arno yang banyak pikiran. Istri dan anaknya dalam keadaan tidak baik, musuh hanya satu tapi membuat nya kalang kabut dan menguras otak.


"Apa yang harus ku lakukan?" gumamnya memikirkan cara. Tiba-tiba teringat dengan Leonard putranya. Ia pun menghubungi mengatakan jika ibu dan adiknya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Arno meminta Leonard untuk kembali membantunya dalam menyingkirkan wanita yang membawa nasib buruk pada keluarga nya.


"Pulanglah, papa membutuhkan bantuan mu,"


Leonard yang di kabari bahwa ada kejadian seperti itu langsung berangkat ke Nagara C, dimana saat ini keluarganya ada disana. Sedangkan Queen tersenyum kemenangan karena akhirnya ia bisa membuat Arno dalam keadaan frustasi.


"Ini belum seberapa. Tapi setelah ini akan ku buat kau menyesal karena berani menganggu ku dan putra ku. Tidak hanya membuat orang terdekat mu sengsara, tapi akan ku buat mereka mati mengenaskan di hadapan mu,"


Queen benar-benar tidak akan berbelas kasih kepada keluarga Patrice, baginya keluarga Patrice adalah keluarga yang harus di binasakan, agar kelak tidak membawa hal buruk pada keluarga. Queen pun pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Setelah itu akan menghubungi kedua putranya yang saat ini lagi bersama Daddy mereka.


Beberapa menit perjalan Queen sampai di rumah, tak lupa ia mencuci tangannya terlebih dahulu agar bersih karena baru saja memberikan sesuatu kepada Laura dan Fanny. Setelah selesai dan mengganti pakaian, Queen menghubungi Gavin, mencari nomor pria yang seenak nya jidat memanggilnya sayang.


Gavin yang baru selesai mandi dan melihat panggilan masuk dari Queen tersenyum senang. Ia dengan cepat mengangkatnya dan memberikan senyum manisnya pada wanita pujaan nya, ibu dari dua putranya.


"Sayang, akhirnya kamu menghubungi ku,"


"Berhentilah memanggil ku seperti itu, itu membuat ku muak,"


"Tapi sebelumnya kamu tidak menolak sedikit pun jika aku memanggil mu seperti itu," Queen memutar bola matanya malas, malas berbicara panjang penuh penjelasan. Berdebat pun tidak akan guna, dan akhirnya Gavin tetap seenaknya sendiri.


Queen menatap Gavin dengan tatapan datar. Matanya menyipit saat mengetahui jika Gavin tidak mengenakan pakaian, "Apa yang kau lakukan?"


Gavin bingung, memang apa yang di lakukan nya? "Aku tidak melakukan apapun,"


"Lalu kenapa kau tidak memakai pakaian?"


Sadar bahwa dirinya hanya mengenakan handuk di pinggangnya, ia tersenyum menggoda. Apalagi saat melihat Queen yang nampak sedikit malu melihat bentuk tubuhnya.


"Aku habis mandi, belum sempat berpakaian,"


"Cepat lah pakai baju mu. Itu membuat mata ku tidak sehat," Gavin tersenyum, ia bukannya memakai pakaiannya, tapi malah mengusap rambutnya yang basah. Dan itu sangat mempesona.


Queen yang melihat bersemu. Gadis dari Zaman Kuno yang tidak biasa melihat tubuh pria yang bukan suaminya membuang muka. Malu sendiri dengan apa yang di lihatnya. "Tidak tahu malu," gerutunya dengan pipi memerah,


"Kenapa?" tanya Gavin memang sengaja menggoda wanitanya itu.


"Pakai pakaian mu, jika tidak___"


"Jika tidak apa?" ucapnya menyela perkataan Queen.


"Aku akan membunuh mu,"


Gavin tertawa keras melihat wajah Queen yang malu. Jarang melihat wajah Queen seperti itu. Karena setiap kali bersama dan melihat, Queen akan menampilkan wajah datarnya. Sungguh pemandangan yang menyenangkan.


"Benarkah?"


"Diam!" bentak Queen kesal. Entah kenapa melihat tubuh bagus Gavin membuat wajahnya panas. Ada apa sebenarnya dengan nya. Tidak seperti biasa dirinya merasakan hal seperti ini. Dia akui itu benar-benar sangat menggoda.


"Sayang,"


Queen menghela nafas mendengar panggilan lembut itu. "Sialan!" umpatnya kesal merasakan tubuhnya berdesir hanya mendengar panggilan sayang dari ayah kedua putranya.


Sedangkan Gavin tidak menyia-nyiakan momen itu. Jarang sekali ia berhasil menggoda ibu dari anaknya. Dan itu menjadi hal baru untuknya. Ternyata wanitanya sebenarnya adalah wanita yang pemalu saat melihat tubuhnya. Dan mengerikan saat melihat musuhnya.


.


.


.


Bersambung