
Davin dan Devan kini masuk kedalam markas GEROGRE LORIDZ, mengikuti Chloe. Saat sampai di dalam, Chloe membawa mereka berdua ketempat latihan para bawahannya.
Mata Devan dan Davin terkejut, sungguh pemandangan yang takjub. Mereka menyukai hal itu. Chloe yang melihat binar mata dari keduanya tersenyum kecil. Sungguh manis sekali.
"Ayo," ajak nya dan menggandeng mereka, membawanya ketempat latihan tersebut, tempat latihan yang cukup berbahaya bagi anak kecil. Tapi entah kenapa Chloe suka, dan berharap mereka menyukainya dan tidak takut melihat alat-alat latihan tersebut.
Mata dua anak kembar itu melihat sekeliling, takjub. Dalam hati keduanya, bisakah mereka berdua seperti para orang dewasa itu, melakukan latihan yang menurutnya sangat keren. Tiba-tiba terbesit di pikirannya, mereka harus belajar demi melindungi mommy mereka. Ya, mereka harus belajar.
Davin menatap Chloe yang menggandengnya, menariknya pelan, "Grand ma, apakah Davin bisa seperti mereka?"
Chloe menunduk, menatap Davin yang jarang berbicara. Chloe berpikir, mungkinkah Davin tertarik dengan hal itu.
"Apa kau ingin seperti mereka?" Davin mengangguk.
"Ya, aku ingin menjadi kuat seperti mereka agar kelak bisa melindungi mommy dari orang-orang yang jahat," Chloe tersenyum mengusap kepala itu dengan lembut.
"Devan pun sama. Devan juga ingin belajar bertarung dan menembak, agar kelak bisa melindungi Mommy dan Davin,"
"Panggil Abang," protes Chloe tidak senang saat mendengar Devan memanggil Davin dengan nama panggilan saja.
"Dia hanya selisih beberapa menit dengan ku Grand ma,"
"Tapi tetap saja kau adik ku," protes Devan menatap dingin adiknya.
Devan tidak peduli dan itu berhasil membuat Chloe terkekeh kecil, sungguh manis sekali. "Panggil Abang, dan Grand ma akan mengizinkan mu belajar seperti mereka," tunjuknya pada anak buahnya yang sedang berlatih.
Devan diam. Dan cukup lama, Devan pun menyetujui, memanggil Davin dengan panggilan Abang, "Baiklah, Abang," jawab Devan berat.
"Bagus, itu baru anak pintar," ucap Chloe dan membawa keduanya ke tempat latihan khusus.
Chloe memanggil dua anak buahnya untuk membantu dan mengajari dua cucu barunya, bertarung dan menembak. Kedua anak buah itu mengangguk, siap untuk mendampingi mereka. Sedangkan Chloe duduk di kursi sambil memantau mereka dan menunggu informasi tentang anak buahnya yang mencari siapa pelaku yang membuat putra nya koma.
Tak lama, anak buah yang di perintahnya, menghubungi, dan dengan cepat Chloe mengangkatnya, ingin tahu apa hasil yang di dapatkan bawahan nya itu.
"Bagaimana?" tanya Chloe.
"Dari dugaan saya, ini ada sangkut pautnya dengan Mafia THE BLANCO, nyonya,"
"THE BLANCO?"
"Benar nyonya, ini hanya dugaan saya saja. Belum jelas kebenarannya, dan masih terus saya selidiki,"
"Baiklah, selidiki dengan jelas. Aku tidak ingin ada kesalahan,"
"Baik, nyonya," jawabnya dan panggilan pun berakhir.
Chloe menatap kembali dua bocah kembar yang berlatih dengan anak buahnya. Mereka berlatih dengan sungguh-sungguh, terlihat dari keringat yang membasahi tubuhnya. Senyum terbit di bibir wanita yang tak muda lagi itu, hatinya mengatakan tidak ingin kehilangan dua anak itu. Dan tiba-tiba terbesit ingatan tentang kejadian yang menimpa dua bocah itu beberapa hari lalu, kejadian yang ingin di bunuh oleh kelompok ZAPATA. Mengingat itu tangan Chloe mengepal erat, marah.
"Seperti nya aku melupakan kalian. Baiklah, akan ku buat kalian bermain dengan anak buah ku," ucapnya disertai senyum seringai yang mengerikan.
Sebelum berbicara dan memberi perintah pada bawahannya, Chloe beranjak dan menghampiri Davin dan Devan yang begitu kelelahan, memberikan minuman untuk mereka.
"Minumlah," ucapnya menyerahkan minum kepada mereka berdua.
Davin dan Devan mengambilnya dan langsung meneguknya dengan cepat. Chloe yang melihat wajah mereka penuh keringat menyeka dengan handuk kecil yang di bawanya.
"Hmm....Tapi kami menyukai Grand ma. Kami akan belajar dengan giat agar bisa kuat dan handal seperti paman itu," tunjuk pada pria yang mengajarinya sejak tadi.
"Kalau begitu kalian tidak boleh bermalas-malasan. Dan oh ya, ingat jangan pernah katakan pada siapapun tentang semua ini." Keduanya mengangguk mengerti tentang maksud Grand ma nya itu.
Chloe meninggalkan keduanya bersama bawahannya yang melatih. Sedangkan Chloe kini duduk di sebuah kursi, menunggu kedatangan orang kepercayaan nya.
Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di kursi, jenuh karena harus menunggu bawahannya itu yang pergi entah kemana.
Dengan tergesa-gesa, orang kepercayaan Chloe datang, berdiri di depan nyonya nya yang menurutnya saat ini sangat mengerikan.
"Habis sudah. Pasti dia marah saat ini," batinnya yang melihat wajah suram bosnya
Matanya Chloe bergerak menatap pria itu, pria yang memiliki nama Calvin, cucu dari Samuel, Asisten Tian Dominic, di perusahaan Tyrend Crop's. Perbedaan Samuel dan Calvin sungguh sangat berbeda. Jika Samuel cekatan tidak dengan Calvin, cucunya. Calvin sendiri sering membuat nya sakit kepala karena ulahnya yang seenaknya sendiri. Tapi jika masalah pemimpin kelompok mafianya, dia pria yang tangguh dan bisa diandalkan
"Hah, Chloe menghela nafas. Ingin marah tapi tidak bisa marah.
"Selalu saja,"
"Hehe....maafkan saya bos. Saya tadi masih di kamar mandi," jawab Calvin beralasan, sedangkan Chloe tahu itu. Tapi entah kenapa ia tidak bisa marah pada Calvin yang umurnya seumuran dengan Quesha.
"Kau pikir aku percaya, Cal?" jawab Chloe menyipitkan mata.
"Jika anda tahu, jangan marah lagi ya bos. Saya tadi hilaf ga dengar." jawabnya cengengesan. "Em...jika boleh tahu, ada apa bos memanggil saya? Apakah ada hal yang penting?"
"Tentu saja, aku ingin kau memimpin pasukan untuk menghancurkan satu markas yang ada di negara ini," ucap Chloe membuat kening Calvin berkerut. Siapa yang ingin di hancurkan, batinnya bertanya-tanya? Apakah ada yang menyinggung bos mengerikan nya ini?
"Em...jika boleh tahu markas mana yang hendak anda minta untuk di hancurkan?"
"Mafia ZAPATA,"
"Mafia ZAPATA?" gumam Calvin tidak percaya bosnya meminta dirinya menghancurkan Mafia abal-abal itu. Tidak salahkan bosnya memintanya. Benar-benar kurang menantang. "Bos..."
Chloe menatap Calvin yang merengek. "Ada dengan wajah mu, itu sangat menggelikan," ucapnya yang melihat wajah Calvin enggan untuk menerima perintah itu.
"Tidak ada kah perintah lainnya selain menghancurkan Mafia abal-abal itu? Itu sangat membosankan, mereka sama sekali tidak menantang,"
Hah....Chloe kembali menghela nafas, sudah hapal dengan sifat Calvin.
"Jika aku sudah menemukan siapa musuh ku, akan ku perintah kau untuk maju paling depan. Tapi untuk saat ini, aku ingin kau membereskan orang yang ingin membunuh cucu ku."
Calvin yang mendengar kata cucu dari mulut bosnya, terkejut. Sejak kapan bosnya ini memiliki cucu. Mungkinkah Tristan menghamili anak gadis selama ini tanpa sepengetahuan nya.
Chloe yang melihat wajah berpikir Calvin menendang kaki itu sedikit kuat. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Atau aku akan memberi mu pelajaran," Calvin menggelang, membuang pikiran negatifnya, tidak ingin di bosnya menyiksanya.
.
.
.
Bersambung