
Chloe bertanya dimana King membawa Putrinya, namun Gavin menggelengkan kepala, tidak mengetahui King membawa Queen kemana. Yang ia tahu King akan menjaganya.
Tubuh Chloe lemas. Berharap dapat melihat wajah putrinya, namun semuanya pupus sudah. Tidak ada harapan untuknya bertemu hari ini.
"Nyonya tenang saja, Queen pasti akan kembali." ucap Gavin menenangkan.
.
.
.
Beberapa bulan kemudian.
Queen yang di bawah pelatihan Lucifer langsung kini menjadi lebih tangguh lagi. Ia hari ini resmi akan di nobatkan menjadi ketua baru menggantikan King di Mafia THE GOLD HOLD. Saat ini King membawa Queen ke markas besarnya. Semua anggota THE GOLD HOLD berkumpul untuk menyambut ketua baru mereka, cucu dari tuannya.
King membawa Queen ke tempat dimana ia menduduki kekuasaannya. Di sana King dengan lantang mengumumkan bahwa dirinya resmi pensiun dan akan di gantikan oleh cucu perempuannya.
"Hari ini, aku mengumpulkan kalian semua karena ada yang ingin ku sampaikan. Usia ku sudah tidak muda lagi, tidak memungkin kan untuk ku memimpin kalian semua. Maka dari itu mulai hari ini aku akan berhenti menjadi pemimpin kalian dan akan ku berikan tanggung jawab kepemimpinan ini pada seseorang yang berhak memimpinnya, dia adalah cucu perempuan ku, Queen Serena.....Menjadi ketua baru THE GOLD HOLD. Berharap atas kepemimpinan nanti membawa kelompok kita menjadi terkuat dan maju,"
Semua anggota THE GOLD HOLD bersorai, mereka menyambut pemimpin baru mereka. Mereka tidak menolak keputusan tuannya, karena tidak meragukan lagi kekuatan Queen, bahkan pernah sekali Queen melawan 20 orang sekaligus dan semuanya kalah di tangannya.
Queen yang melihat anggota THE GOLD HOLD menerima dirinya menjadi ketua baru, tersenyum. Ia tidak akan mengecewakan mereka semua.
Queen mengangkat tangannya, meminta semuanya untuk diam.
"Akan ku buktikan bahwa aku mampu memimpin kalian semua. Percayalah, dalam kepemimpinan ku akan ku buat semua tunduk pada kita, termasuk THE EAGLE."
Huuuuuu......
Semua bersorak, dan malam itu di markas melakukan pesta besar-besaran penyambutan ketua baru mereka. Dan dua hari setelahnya akan langsung memulai aksi mereka, menghancurkan kelompok-kelompok yang mencari masalah denhan THE GOLD HOLD.
Di tempat yang lain, tepatnya masih di Negera R, Damian yang mendengar kabar tentang ketua baru Mafia THE GOLD HOLD, memukul meja dengan keras.
"Ketua baru? Heh, dia pikir dengan mengganti ketua baru dia akan menang. Tidak semudah itu. Akan ku buktikan bahwa kalian hanyalah semut di mataku dan bersiaplah untuk ku injak-injak dengan kaki ku ini," geramnya tidak sabar menghancurkan Mafia THE GOLD HOLD. "Katakan siapa ketua baru itu?" tanyanya pada orang kepercayaan nya .
"Dia adalah cucu dari King sendiri, tuan."
"Cucu? Ho...Ho...Ho....Jadi dia anak dari Sena?"
"Benar tuan,"
"Heh, seorang wanita memimpin sebuah kelompok, benar-benar cari mati. Apa di tidak tahu dunia mafia itu sangat kejam? Dia pikir ini seperti main rumah-rumahan? Konyol sekali," ucapnya meremehkan sambil berdecak. "Aku sudah tidak sabar untuk membuat wanita itu tunduk di bawah kaki ku. Akan ku buat dia menjadi pelayan setia ku, hahaha," tawanya menggelegar di dalam ruangan.
Damian tidak tahu, untuk menaklukkan wanita bernama Queen tidak semudah itu. Bahkan mungkin saja sebelum Damian menjadikan Queen pelayannya, Queen lebih dulu menjadikan tubuh Damian makanan peliharaan kakek nya.
Malam itu Queen duduk sambil memegang anggur merah di tangannya, memutarnya dengan pelan sambil pikirannya melayang memikirkan dua anak kembarnya yang sudah lama tidak dia hubungi. Bagaimana keadaannya, Queen tidak tahu. Apakah mereka baik-baik saja atau malah sebaliknya.
Queen meletakkan gelas tersebut dan mengambil ponselnya yang lama tidak ia aktifkan. Queen pun mengaktifkan ponsel nya. Notifikasi pesan dan panggilan masuk begitu banyak ke nomornya dan di lihatnya ada beberapa nomor asing yang tidak di kenal. Queen mengabaikan, ia mencari nomor milik Gavin, ingin mengetahui keberadaan Devan dan Davin.
"Semoga saja mereka baik-baik saja," gumamnya berharap
"Kemana pria ini? Kenapa tidak mengangkat nya," kesal Queen dan menghubungi kembali.
Tiga kali Queen menghubungi, dan kini pemilik nomor akhirnya menjawab panggilannya.
"Kenapa tidak mengangkat panggilan ku," marah Queen dengan intonasi yang sedikit tinggi
Melihat wajah wanitanya marah, Gavin tersenyum kecil. "Maaf sayang, aku tadi lagi mandi," jawabnya menunjukan tubuhnya yang belum mengenakan pakaian.
Queen yang melihat melotot, wajahnya langsung bersemu, "Dasar pria mesum," rutuknya dalam hati. Wajahnya terasa panas hanya karena melihat tubuh telan-jang itu.
Gavin yang melihat wajah merona Queen, tersenyum kecil. Waktunya menggoda wanitanya itu. Gavin merebahkan tubuhnya di atas ranjang, mengangkat ponselnya tinggi-tinggi agar Queen dapat melihat tubuhnya sepenuhnya. Queen yang melihat semakin merona, ia tidak menyangka jika Gavin melakukan hal seperti itu.
"Apa yang kau lakukan? Cepat pakai pakaian mu?"
"Memang kenapa sayang, apa kamu tidak ingin melihat tubuh calon suami mu ini?"
"Siapa juga yang akan menjadikan mu calon suami ku,"
"Oh benarkah kamu tidak ingin menjadikan ku suami mu? Tidak menyesalkah jika tubuh ku di miliki wanita lain?"
"Tidak sama sekali," jawab Queen membuang muka. Sungguh wajahnya sudah panas sekali melihat pemandangan yang mengiurkan itu. Ia tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya. "Ada apa dengan tubuh ini? Kenapa panas sekali saat melihat tubuh itu," batinnya mengibaskan tangannya ke wajah, mengusir rasa panas di wajahnya.
Gavin yang melihat terkekeh, sungguh manis sekali wanitanya itu.
"Sayang..." panggil Gavin lembut dan berhasil membuat tubuh Queen berdesir.
"Badjingan sialan ini?" umpatnya dalam hati. Hah....Queen menghela nafas. "Dimana Devan dan Davin?"
"Mereka bermain dengan mama," jawab Gavin menatap wajah Queen yang cantik, tidak sedikitpun beralih dari wajah yang sudaj menguasai hatinya itu.
"Apa mereka baik-baik saja?"
Em...jawabnya mengangguk, tidak ingin menceritakan kejadian sebelumnya. Takut Queen khawatir. "Oh, ya kamu sudah benar-benar sehat sayang,"
"Seperti yang kau lihat,"
"Aku senang mendengarnya," Gavin merasa lega melihat Queen telah sembuh total. "Lalu kapan kamu akan kembali?"
Queen diam, ada sesuatu yang harus di lakukannya sebelum bersama dengan kedua putranya. Dan itu tidak bisa ia bicarakan dengan Gavin, takut pria itu akan khawatir padanya. "Aku tidak tahu pasti. Tapi ku minta kamu menjaga mereka selagi aku tidak ada bersama mereka. Aku janji akan kembali untuk kalian," ucap Queen sukses membuat jantung Gavin berdebar. Kalian? Bukankah itu juga termasuk dirinya. Gavin merasa senang, dan dia pun menyanggupi untum menjaga kedua putranya. Dan sabar menunggu kedatangan Queen kepadanya.
.
.
.
Bersambung