My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 94. Tian dan King



Beberapa jam kemudian, Queen sudah di tempatkan di ruang perawatan. Semuanya menjaga secara bergantian karena tidak bolehnya semua berada dalam satu ruangan, takut mengganggu pemulihan Queen.


"Gavin kamu pulanglah dulu, bawa Davin dan Devan untuk istirahat di rumah," ucap Jaeden tidak tega melihat Devan dan Davin yang kelelahan karena sebelumnya di sekap oleh Laura.


"Baik, tuan," jawab Gavin mengangguk, karena ia juga tidak tega melihat kedua putranya yang terlihat lelah.


"Jangan panggil tuan, panggil Daddy seperti Queen dan Tristan," pinta Jaeden dan Gavin diam, engan untuk memanggil seperti yang pinta Jaeden. "Pergilah," sambung Jaeden yang melihat Tristan dim, tidak ingin memaksa Gavin memanggilnya dengan panggilan Daddy. Jaeden yakin setelah Queen sadar dan mereka bersama Gavin pasti akan memanggilnya Daddy.


"Baik tuan, kalau begitu kami permisi dulu," ucap Gavin berpamitan dan Jaeden pun mengangguk .


"Hati-hati di jalan," pesan Jaeden dan yang lainnya. Gavin, Davin dan Devan akhirnya pergi meninggalkan mereka untuk kembali ke rumah.


.


.


.


Keesokan paginya, Gavin, Devan dan Davin bersiap untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Queen yang masih belum sadarkan juga. Saat mereka bertiga sampai, mereka melihat dua orang lainnya, mereka adalah King dan Tian yang juga telah sampai di Negara J.


Semuanya nampak sunyi, tidak ada pembicaraan sedikit pun karena dua pria tua itu seolah memancarkan aura persengitan. Tian dengan tatapan dinginnya dan King tak kalah juga dengan tatapan dinginnya. Dalam hati mereka menginginkan Queen, dan tidak akan membiarkan Queen tinggal bersama di antara mereka berdua.


"Jangan harap kau mengambil Cucu ku, Albern," batin Tian tidak akan mengizinkan King merawat Queen lagi, karena menurutnya kini giliran dia yang akan merawat Queen.


"Queen milik ku, dan tidak akan ku biarkan pria tua sialan ini mengambilnya dari ku. Dia adalah penerus ku maka Queen harus bersama ku," batin King harus mempertahan kan Queen bersama nya .


Chloe, Jaeden dan yang lainnya yang melihat mereka hanya bisa menghela nafas. Sejak kedatangan mereka semuanya nampak mencekam dan beruntung Davin dan Devan datang secara bersamaan.


"Sayang sini," tarik Chloe padanya. "Kalian akhirnya datang, Oma sangat merindukan kalian," sambungnya mencium pipi mereka bergantian.


Davin yang merasakan ciuman itu nampak risih, ia mencoba mengelak. Namun Chloe tetap memaksa dan membuat wajah Davin merah padam, kesal. Berbeda dengan Devan yang sangat menikmati, karena menurutnya itu adalah kasih sayang dari Omanya padanya.


Jaeden hanya tersenyum melihat raut wajah Davin, ia tahu putranya itu tidak senang. "Nyonya, bagaimana keadaan Queen?" tanya Gavin yang mengelus lembut kepala Queen yang berbaring masih dengan mata terpejam.


"Keadaannya sudah stabil, tapi dia masih belum sadarkan juga," jawab Chloe sedih.


Dua anaknya kini di rawat di rumah sakit dan keadaannya sama-sama belum sadarkan juga. Baik Tristan maupun Queen sepertinya mereka mengalami koma dan itu membuat semuanya sangat-sangatlah sedih. Mereka berharap ada keajaiban dan keduanya bangun secara bersamaan.


Tian yang melihat dua anak kembar yang memiliki sikap dan sifat berbeda itu terus menatapnya dengan diam. Mungkinkah dua anak itu putra Queen, yang berarti cicitnya?


"Kemarilah," pinta Tian pada mereka berdua.


Davin dan Devan yang belum pernah melihat Tian, diam. Menatap dengan pandangan rumit. Tian yang mengetahui tatapan itu menjawab, "Aku kakek dari mommy kalian," jawab Tian dan mereka paham. Kedua nya pun mendekat dan berdiri di depan Tian.


"Davin dan ini Devan," jawab Davin dengan nada dingin.


"Davin, Devan. Em...nama yang bagus," jawab Tian menatap mereka bergantian. Tapi yang membuatnya tertarik adalah Davin yang memiliki sikap dingin. Sungguh mirip dengannya.


King yang melihat arti tatapan Tian, mendengus. Ia tahu Tian tertarik dengan Davin dan yakin bahwa Tian menginginkan Davin untuk bersamanya.


"Jangan harap kau bisa memiliki nya," jawab King membuat Tian menoleh, menatap sinis.


"Apa kau memiliki pemikiran sama dengan ku? Tapi maaf, tidak akan ku biarkan kau mendapatkannya," jawab Tian membuat semuanya tidak paham dan hanya King yang paham maksud yang di katakan Tian.


"Percaya diri sekali kamu,"


"Tentu saja, karena bagaimanapun harus menjadi milik ku," jawab Tian tidak akan melepaskan Davin untuk menjadi penerusnya.


.


.


.


Setelah cukup lama mereka berada disana, dan Tian masih ada yang harus di lakukan, Tian terpaksa berpamitan lebih dulu kepala mereka semua.


"Daddy pergi dulu. Jika Quesha dan Tristan sudah sadar hubungi Daddy," ucap Tian dan Chloe mengangguk.


"Em, akan ku kabari jika mereka telah siuman,"


Tian pun melangkah keluar dari ruangan itu, tapi suara seseorang menghentikannya. Ya, siapa lagi jika bukan King.


"Mau kemana?"


"Ingin bersenang-senang," jawab Tian membuat King mengerutkan kening. Bersenang-senang? "Apa kau ingin ikut bersenang-senang bersama ku untuk menghibur diri?"


Semuanya nampak bingung dengan kata bersenang-senang yang di maksud Tian. Bersenang-senang seperti apa maksudnya. Mereka sungguh tidak paham dengan apa yang di katakan. King beranjak sri tempatnya dan menjawab. "Baiklah, ayo kita bersenang-senang," jawabnya dan pergi meninggalkan seribu pertanyaan di kepala orang-orang yang menunggu Queen.


.


.


.


bersambung