My Mom Is My Super Hero

My Mom Is My Super Hero
Bab 23, Gavin Bertemu Queen.



Di sebuah restoran tepatnya di ruangan VIP, Queen saat ini menatap pria tampan di depannya. Queen akui pemuda di depannya sungguh sangat-sangat tampan. Hanya saja ia tidak tahu siapa pria itu sebenarnya.


"Siapa anda, dan mau apa anda bertemu dengan ku?" tanya Queen dengan nada tidak datar, malas bertemu dengan orang asing.


"Perkenalkan nama ku Gavin Menzies. Aku ingin bertemu dengan mu karena ada yang ingin ku bicarakan,"


"Katakan, aku tidak punya banyak waktu," jawab Queen benar-benar dingin, tidak ingin berlama-lama dengan pria asing di depannya.


Gavin yang mendengar diam, berpikir dari mana ia akan mulai berbicara. Sebelum berbicara, Gavin menghela nafasnya dalam-dalam dan mengambil sesuatu yang ada di saku jasnya.


Gavin meletakkan amplop coklat itu di depan Queen, dan memintanya untuk membukanya. "Bukalah, kau akan tahu maksud ku menemui mu,"


Queen menatap Gavin dan beralih ke amplop coklat tersebut. Penasaran isi di dalamnya. "Apa ini?"


"Bukalah dan baca,"


Queen pun meraihnya dan membukanya, membaca setiap kata di tulisan tersebut. Kening Queen berkerut saat mendapati angka 99% bahwa mereka adalah bertiga adalah anak dan ayah.


Queen menatap pria di depannya tidak percaya jika ayah dari kedua putranya adalah pria yang saat ini ada di hadapannya. "Apa ini?"


"Kau sudah membacanya, pasti aku yakin kau tahu maksud nya, bahwa disana tertulis Davin dan Devan adalah putra ku," ucap Gavin menjelaskan bahwa dua anak kembar itu adalah putra kandungnya yang selama ini tidak di ketahui.


Queen melempar amplop coklat itu di meja dengan kasar. Lalu mencondongkan tubuhnya tepat di depan Gavin. "Apa mau mu?" Tanya nya menatap datar pria di depannya yang saat ini hanya berjarak beberapa centi saja.


Wangi harum dari tubuh Queen langsung masuk di Indra penciumannya, membuatnya memejamkan mata, karena menurutnya wangi harum itu sungguh sangat menggoda.


"Aku hanya ingin kau mengetahui jika mereka adalah putra ku. Dan aku meminta mu untuk mengizinkan ku menemuinya." Jawab Gavin membuat Queen tertawa keras.


"Hahaha.....Kau ingin menemui mereka?" Gavin mengangguk, berharap Queen mengizinkannya. "Enak saja," jawabnya duduk, bersedekap. Menatap Gavin penuh intimidasi.


"Aku tahu aku salah. Tapi aku melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Jadi aku menemui mu selain meminta izin pada mu untuk bertemu dengan mereka, izinkan aku menebus semua kesalahan ku pada mu,"


Queen yang tidak ingat kejadian hal itu, dan apa yang di lakukan pria itu pada tubuh yang di tempati, menaikkan sebelah alisnya tidak peduli dengan semua yang Gavin bicarakan. Baginya sekarang bukan mempermasalahkan hal yang sudah lalu, melainkan menghadapi masalah yang ada di depannya yang penuh bahaya ini.


"Oh, kau ingin menebus kesalahan mu? Lalu dengan cara apa yang ingin menebusnya?" tanya Queen ingin tahu kesungguhan pria di depannya Walaupun Gavin tidak ingin bertanggung jawab sekalipun, Queen tidak peduli. Baginya dirinya cukup mampu melindungi kedua anaknya dan dirinya.


"Aku ingin menjaga kalian?"


Heh, sungguh Queen ingin tertawa. Bagaimana bisa Gavin melindungi diri nya yang penuh masalah ini. Di lihat dari wajahnya, Gavin bukanlah pria yang bisa di andalkan. Karena Queen yakin orang sekelas dan sekaya Gavin pasti hanya bisa mengandalkan bawahannya saja.


"Apa kau mampu mempertaruhkan nyawa mu untuk melindungi kami?" tanya Queen memberi tantangan. Gavin yang mendengar diam, mengingat apa yang di katakan bawahannya pada malam itu, saat Queen di kepung oleh beberapa orang bersenjata.


Gavin menatap Queen yang memiliki wajah sangat cantik. Ia menghela nafas. "Aku Memang tidak handal dalam berkelahi, atau memegang sebuah senjata. Tapi akan ku usahakan untuk bisa melindungi kalian,"


Queen yang mendengar menghela nafas, dan beranjak. "Jika itu yang ingin kau lakukan, lakukan saja. Aku tidak akan melarang. Hanya saja jangan pernah membawa masalah pada ku. Jika itu terjadi, jangan salahkan aku jika aku membunuh mu," ancamnya berjaga diri. Biasanya dari keluarga kaya raya pasti akan banyak konflik. Apalagi mengingat dirinya hanyalah rakyat kecil. Mungkin saja keluarga nya tidak akan mengizinkan nya untuk dekat dengannya.


Gavin yang mendengar tersenyum dan langsung beranjak mendekati Queen, menarik tangan itu dan membawanya kedalam pelukan.


Sing..


Sebuah pisau mengarah di perut Gavin, siap untuk di hunuskan. "Berani sekali kau memeluk ku!" ucapnya dengan nada dingin, dan penuh penekanan.


Rasa tusukan kecil di perutnya akibat pisau runcing tersebut membuatnya sadar. Ia dengan cepat melepas pelukannya dan menatap bagian perutnya yang ternyata ada sebuah pisau yang di pegang Queen, siapa untuk di tancapkan di perutnya.


Glek...


"Ma..maafkan aku," ucapnya mengangkat kedua tangannya keatas, menyerah dan meminta Queen untuk menyimpan kembali pisaunya.


Queen yang masih dengan tatapan wajah dinginnya, menyimpan pisaunya kembali. Ia berbalik dan pergi meninggalkan Gavin yang lemas karena ternyata ibu dari anaknya adalah wanita yang sangat mengerikan. "Sungguh menyeramkan sekali calon istri ku ini," gumam Gavin mengambil minumannya dan meneguknya sekali teguk karena haus akibat aksi yabg di lakukan Queen. Beruntung nyawanya tidak melayang karena kecerobohannya.


.


.


.


Queen yang baru saja keluar dari dari restoran tersebut dan hendak masuk kedalam Taksi, seorang pria menghampirinya dan memintanya untuk masuk kedalam mobilnya. Queen yang tidak mengenal tentu saja menolak. Tapi pria itu tetap saja ngotot, memintanya untuk menemui bos nya sebentar.


"Siapa kau ini?"


"Saya bawahan Tuan Ryan Menzies, nona. Tuan meminta anda untuk menemuinya sebentar. Beliau ingin berbicara dengan anda,"


Queen yang tidak mengenal tentu saja menolak. Ia tidak ingin berurusan dengan siapapun. "Aku menolak. Pergilah dan katakan pada tuan mu. Jangan pernah menemui ku, karena aku tidak ingin bertemu dengan nya," tolaknya dan hendak masuk. Namun belum juga dirinya masuk, orang tersebut menghentikannya karena tuannya menghubungi.


"Berikan ponsel nya pada wanita itu. Aku ingin berbicara dengan nya," perintah Ryan, meminta menyerahkan ponselnya pada Queen.


"Nona, tuan ingin berbicara dengan anda," serahkan nya ponsel itu pada Queen.


Queen mengambilnya dan berkata. "Siapa anda? Kenapa anda memaksa saya?"


"Temui aku di restoran Xx. Jika kau tidak datang, maka anak mu akan dalam bahaya," ancamnya agar Queen tidak menolak.


Queen yang mendengar ancaman itu langsung marah,berani sekali pria ini mengancamnya. Ia meremat ponsel itu dengan kuat, beruntung ponselnya tidak pecah. "Jika kau berani menyentuh mereka, maka akan ku pastikan kau mati saat ini juga," jawab Queen tak kalah berani.


Queen pun meminta orang tersebut untuk mengantarkannya ke tempat Ryan. Ia ingin melihat seperti apa pria yang berani mengancamnya. Tak jauh dari mereka, Tio yang baru saja dari toilet melihat Queen masuk kesebuah mobil yang di kenalnya dengan cepat menghubungi tuan mudanya, mengatakan jika mungkin saja Queen akan bertemu dengan tuan besarnya.


.


.


.


Bersambung