
Hana meminta Nina untuk menunggunya bersama para pelamar kerja yang lain, sedangkan Hana bersama Lucas pergi meeting sebentar bersama tim menentukan siapa saja yang akan menginterview dan menginterview bagian posisi yang mana. sebenarnya Hana tidak usah turun tangan langsung dalam perekrutan ini tapi ia tahu ini hanya alasan Lucas agar dirinya membantunya untuk mempekerjakan Nina kembali.
"Han... kamu tidak menyuruh Nina membuat cv? "tanya Lucas.
"Tidak... "jawab Hana polos.
"Terus bagaimana caranya dia mau di interview?"Lucas bingung.
"Lu... dia kan pegawai lama mu, tidak perlu cv lagi wawancara saja langsung, toh dia sebenarnya sudah di terima juga, terutama di terima di hati mu cie.... "Hana meledek.
"Apaan sih bisa nggak kamu ini profesional sedikit kawan".
"Akh... aku lupa kamu bukan Lucky yang bisa di ajak bercanda hahaha"Hana tetap tidak serius.
"Hana... "Lucas mulai kesal.
"Eh... iya.. iya maaf, begini saja untuk mendata dia biar dari formulir pelamar saja cvnya nyusul"
"Ya sudah biar geraldo nanti yang menginterview dia"
"Memangnya dia mau di tempatkan di tempat Geral yang kosong kan ditempat kamu posisi dia,ya kamu lah yang interview dia"Hana protes.
"Tapi Han..."
"Katanya profesional...kok masih tapi... tapi..."Hana membalikan kata-kata Lucas.
"Baiklah... aku berusaha profesional"
Hana tertawa tanpa suara,dia membayangkan orang yang menginterview dan yang di interview sama-sama gugup, bukan karena diterima atau tidaknya bekerja tapi karena masalah pribadi mereka.
Waktu interview pun di mulai semua pelamar di interview satu persatu,Hana menunggu ditempat lain karena dia tidak ikut menginterview,para pelamar yang datang sesekali melihatnya yang sedang asik menonton live streaming pertandingan bulu tangkis Hana berharap meeting dengan timnya cepat selesai hingga ia bisa menonton langsung pertandingan suaminya.
Ada bisik-bisik dan gumam-gumam menanyakan siapa Hana sebenarnya dia berada di kumpulan orang-orang yang menginterview tadi tapi tidak ikut menginterview malah asik menonton ponsel.
Kini giliran Nina yang di interview langsung oleh Lucas.
"Perkenalkan dirimu"seperti biasa gayanya kaku.
"Nama saya Nina,usia saya 23tahun,saya pernah bekerja di posisi ini sebelumnya di restoran yang anda pimpin Tuan".
"Apa alasan mu saat itu berhenti? dan apa alasan mu ingin kembali bekerja disini dan di posisi yang sama".
"Alasan saya saat itu berhenti bekerja adalah karena saya mempunyai urusan pribadi yang memang mengharuskan saya harus mengundurkan diri, dan alasan saya kembali itu karena anda"suara Nina mengecil hanya dirinya sendiri lah yang dapat mendengar perkataan terakir yang dia ucapkan kan.
"Bisa kau keraskan suara mu saat bicara?"Lucas memancing sebenarnya dia mendengar ucapan terakhir Nina tapi dia ingin memastikan sendiri kalau telinganya itu tidak salah mendengar.
Nina tertunduk.
"Hei... kau aku bicara pada mu lihat ke arah ku kenapa malah tertunduk"Suara Lucas meninggi Hana mendengarnya hingga menoleh padanya dia langsung menaruh ponselnya di tasnya lalu menghampiri Lucas.
"Lu... ada apa"Tanya Hana santai.
"Orang ini di interview tidak terdengar suaranya dan di tanya malah menunduk".
"Coba sini aku lihat formulirnya"Hana berpura-pura melihat formulir yang telah diisi Nina.
Dia tidak mau bertindak seenaknya hanya karena dia owner dari restoran ini, dia mencoba profesional di hadapan pelamar pekerja yang lain.
"Baiklah nanti kami akan menghubungi mu lagi lewat telpon bila kamu diterima untuk saat ini saya rasa interview dengan mu sudah cukup"
"Hana... "Lucas ingin protes karena Hana seenaknya saja menyuruh Nina pergi sementara dirinya belum selesai mewawancarainya.
"Sudah kamu itu hanya harus menginterview dia bukan mempermalukan dia"Hana kesal.
Hana kesal dan pergi dari ruang meeting dia mengejar Nina.
"Nina... tunggu maafkan Lucas ya"
"Tapi dia juga seharusnya tidak bersikap seperti itu tadi"Hana kesal.
"Sudah Nona saya pamit pulang"
"Kamu jangan pulang sekarang,rencana ku belum berjalan lancar, kamu menginap saja bersama ku di kamar ku, aku kesepian karena biasanya aku tidur dengan suami ku sekarang hehe harus pisah kamar"
"Nona... anda baik sekali"
"Ini kunci kamar ku kesana lah aku ingin pergi dulu menonton pertandingan suami ku".
"Biar aku temani Nona, anda sedang hamil tidak baik bepergian sendiri"
"Oke baiklah"
Hana lalu menelpon Lucas mengabari kalau dirinya langsung pergi ke gor untuk menonton pertandingan suaminya. Lucas tak mencegahnya karena Hana memang tidak terlalu dibutuhkan dalam perekrutan pegawai.
Nina dan Hana tiba di depan gor Hana menunjukan id wartawan kepada penjaga hingga ia bisa leluasa masuk kedalam ruang atlet dan bisa menemui suaminya. Bintang terkejut melihat istrinya ada di sana bersama Nina.
"Sayang...kamu datang meetingnya sudah selesai? "Bintang menghampiri istrinya.
"Hehe iya sudah aku boleh pergi duluan dengan tim ku mereka tahu suami ku sedang bertanding dan menyuruh ku mendukung mu hehe"Hana berbohong.
"Ooo begitu"Bintang percsya saja "hei Nina apa kabar? "sapa Bintang saat melihat Nina.
"Baik Tuan muda"
"Bi... giliran mu sebentar lagi bersiap-siap lah"kata coach Yoga.
Bintang pun pamit pada istrinya untuk bersiap-siap menuju arena.
Lucky yang melihat Hana langsung menghampirinya dan menyerahkan pekerjaannya pada kawannya.Lucky penasaran dengan tingkah Saudara kembarnya pada Nina.
Nina yang melihat sosok Lucky begitu mirip dengan Lucas jadi sedikit gugup. tapi Lucky cuek saja.
"Gimana tadi"tanya Lucky.
"Dia kaku seperti biasa nggak ada respon,malah hampir mempermalukan Nina"Hana kesal.
"Loh kok bisa? "Lucky bingung.
Hana akhirnya bercerita kejadian tadi saat di hotel.
"Tuh... kan bener apa kata gue dia kalo udah kecewa susah mau bangkit lagi"
Perkataan Lucky membuat Nina terpojok.
"Apa kita buat dia cemburu ajah Luc... kita pancing emosi dia pura-pura Nina kencan sama cowo lain Luc dan sengaja kita ketemuin mereka kita lihat reaksinya gimana"rencana Hana.
"Rencana elu sih bagus tapi serius gue nggak yakin bakalan berhasil karena elu tahu lah dia,dia tuh pinter banget nyimpen perasaannya".
"Sama kaya elu, cuma kalo eku pinter nyimpen perasaan ditutupi kekonyolan elu kalo dia nyimpen perasaannya dengan diem"
"Hehe elu bisa ajah"
"Emang iya kan? "
"Iya sih hehe...eh suami lu dah bertanding tuh elu nggak mau lihat"Lucky meninggalkan Hana dan Nina menuju tempat dia meliput lagi.
Hana dan Nina pun ke tribun penonton dan melihat Bintang bertanding. tapi kali ini Hana tidak bisa leluasa berjingkrak-jingkrak mensuport suaminya karena dirinya sedang mengandung dia hanya sesekali berteriak memberikan semangat pada suaminya.
"Nina tenang saja biar nanti malam kita pancing si kaku itu biar dia cemburu,kamu setuju kan ya... nanti biar aku minta bantuan pada teman suami ku untuk mendukung rencana ini"
Nona apa ini akan berhasil mengingat perkataan Lucky tadi aku jadi ragu.
...***...