
Saat makan malam Ibu,Hana dan Aslan makan bersama,tadi sore Ibu dan Hana yang telah memasak bersama.dan Aslan baru ada di rumah tadi sore karena seharian bekerja.Mereka pun menyantap makan malam bersama di meja makan kecil dan sederhana.
Setelah makan malam dan merapihkan meja makan,Hana menonton tv di ruangan depan sambil duduk di kursi dan Ibu duduk di kursi sebrang,sedangkan Aslan masuk kedalam kamarnya.Hana akhirnya berbincang dengan Ibunya yang berujung perdebatan.
"Bu...boleh nggak aku ke negara x,nemuin ayah"
Ibu langsung melotot.
Hadueh reaksinya seperti dugaan.
"Nana bakalan bawa pulang ayah Bu Nana janji"
"Kalau orang itu mau dia pulang sendiri nggak usah kamu jemput-jemput"Ibu sewot.
"Bu..."
Ibu langsung mengangkat tangan,menandakan Hana jangan bicara mengenai ayahnya lagi.Ibu langsung pergi kekamarnya.
"Bu...memang ibu udah nggak cinta sama ayah"Hana masih membahas ayahnya walau Ibunya sudah di dalam kamar.
Didalam kamar ibu menangis menatap foto pernikahannya dengan laki-laki yang paling di cintainya yaitu ayah dari kedua anaknya.
Aslan keluar dari kamarnya.
"Sudahlah Na sekarang ini bukan saat yang tepat membahas ini"
"Tapi ka...mau nggak mau ayah harus kembali kesini"
"Ada apa kenapa kamu mau jemput ayah jauh-jauh kesana?"Aslan penasaran.
"Ka...memangnya kaka nggak rindu dengan keluarga yang utuh?"
"Rindu"Aslan menjawab singkat.
"Ya itu alasan ku aku ingin keluarga kita tuh utuh dan harmonis lagi seperti dulu"
"Kaka peercaya ada yang kamu sembunyikan di balik semua ini"
"Apaan sih ka"Hana jadi sewot.
"Bagaimana hubungan kamu sama Bintang?"tiba-tiba Aslan bertanya.
"Baik"Hana menjawab singkat,ia lalu berdiri dari bangku dan ingin menuju kamarnya.
"Hei kaka sedang bicara sama kamu kok malah mau kamu tinggal"
"Hehe bicaranya besok saja ya ka aku ngantuk mau tidur dulu"Hana langsung membuka pintu kamarnya yang tak jauh dari ruang tv.
"Betul-betul anak ini"Aslan hanya menggelengkan kepalanya.
Di dalam kamar Hana melamun melihat poster Bintang yang terpajang di kamarnya.
"Hehe apa kau merindukan ku?"gumamnya sambil melihat ke arah poster.
Tiba-tiba ponsel Hana berbunyi di lihat layar ponselnya tertera nama Bintang,di angkatnya telpon tersebut.
"Asalamualaikum..."Sura Bintang terdengar.
"Walikumsalam"jawab Hana.
"Sedang apa kamu?"tanya Bintang.
Hehe aku nggak punya kata pembuka yang lain ya?selain bertanya sedang apa kamu.
Bintang merasa konyol sendiri.
"Aku sedang melihat mu"
"Hah apa?"Bintang bingung.
"Eh...maksud ku aku sedang melihat mu dari layar ponsel ku hehe"
"Oh...aku sampai bingung tadi aku kira kamu benar-benar melihat ku,sampai ku fikir kamu ada di sekitar sini"
Hana tersenyum mendengar penjelasan Bintang.
"Nana...kamu sedang bicara dengan siapa?"suara Ibu terdengar ada di depan kamar Hana.
Hana yang kaget langsung bangun dari tempat tidurnya meninggalkan ponselnya di kasur tanpa mematikan panggilan dari Bintang.
"Kamu bicara dengan siapa?"Ibu penasaran sampai celingukan kedalam kamar.
"Aku sedang menelpon bu"
"Oh...menelpon siapa?pacar mu?kamu punya pacar tidak di bawa kerumah?jangan pacaran terlalu lama usia mu ini biasanya sudah punya anak dua,jangan terobsesi sama si Bintang atlet bukutangkis itu terus kalau begitu terus kamu nggak dapat-dapat jodoh"
"Ibu apaan sih"Hana frustasi karen dia ingat saluran telpon belum ia matikan pasti Bintang mendengar apa yang di katakan Ibu fikir Hana.
"Tuh...lihat tuh posternya yang sebesar lemari saja kamu pajang tepat menghadap kasur kamu,biar mimpi ketemu dia terus begitu kamu"Ibu terus nyerocos.
"Ternyata dia sekarang di rumah orang tuanya"gumam Bintang yang masih setia mendengarkan ocehan ibunya Hana.
"Ibu...sudah ya bu Nana mau tidur Nana capek,ceramahnya besok lagi ya bu"
"Kamu ini ingat pesan ibu kalau punya pacar di bawa kerumah jangan terobsesi sama idola mu itu terus"Ibu masih mengoceh sambil berjalan ke arah kamarnya.
"Iya bu...iya..."Hana langsung menutup pintu kamarnya setelah melihat ibunya kembali ke kamarnya.
Hana langsung meraih ponselnya,dilihatnya panggilan masih terhubung.
Bintang pasti mendengar semua yang ibu katakan hadeuh...apa yang harus aku katakan padanya.
"Hana kau masih disana?"suara Bintang membuat Hana terperanjat hingga ia melempar ponselnya di atas kasur dan mengambilnya kembali.
"Ya..Bi"
Jangan bilang kau mendengar semua ocehan ibu ku jangan....
"Jadi sekarang kamu di rumah orang tua mu?"
Ah kan dia pasti dengar semuanya.
"Hehe iya kemarinnya kan ka Aslan menyuruh ku pulang ya aku pulang" Hana gugup.
"Kamu pajang poster ku di kamar mu?segitu sukanya kamu sama aku"Bintang menggoda Hana.
"Hehe kamu dengar semuanya ya?"Hana malu.
"Ya begitulah"Bintang cengar cengir hatinya sangat bahagia mendengar kenyataan dari ibunya Hana.
"Jangan terobsesi dengan ku nanti bisa-bisa kamu tidak dapat jodoh hihi ya kalau dengan orang lain mungkin tidak berjodoh tapi kalau dengan ku gimana?"Bintang masih meledek.
"Gimana apanya?"Hana sewot.
"Gimana kalau jodoh mu itu adalah idola mu sendiri"
"Nana kamu masih menelpon katanya mau istirahat"teriak Ibu dari kamarnya.
"Bi...sudah dulu ya madam ngomel tuh"Hana mengecilkan suranya dan langsung mematikan saluran telponnya tanpa memberikan salam.
"Dia ini kebiasaan pintar sekali menghindar"kata Bintang sambil menatap ponselnya.
Bintang jadi tersenyum sendiri mengingat omongan Ibunya Hana.
Dia merebahkan dirinya di atas kasur.
Jadi penasaran dengan isi kamar dia.
Bintang gemas sendiri hingga memeluk guling dan mengusap-usap wajahnya dengan guling tersebut sambil senyum-senyum sendiri.
Maxi yang melihat tingkah teman sekamarnya yang aneh membuatnya takut tapi penasaran.
"Bi...kamu baik-baik saja kan?"tanya Maxi sedikit takut.
"Hem...ya...aku baik-baik saja"masih dengan senyum sumringah.
"Ya...ampun cinta membuat mu jadi seperti orang gila begini sobat"Maxi mengangkat kedua tangannya seperti orang membaca puisi.
"Kalau tidak gila bukan cinta namanya"Bintang langsung menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Maxi yang melihat itu jadi sesak nafas sendiri ia jadi memegangi dadanya sendiri.
Apa dia bisa bernafas di bawah bantal seperti itu?dia benar-benar gila sekarang semoga dalam turnamen nanti kegilaannya tidak kumat.
...***...