MY IDOl Is MY HUSBAND

MY IDOl Is MY HUSBAND
Bab 29 Sam dan Dini



Pagi ini Hana kepasar sendirian untuk menemui Samudra tanpa sepengetahuan Dini,ia melihat Sam sedang berjualan seperti biasanya,ketika Sam sudah selesai melayani pelanggannya,Hana menghampirinya.


"Bang...Sam..."Sapa Hana sambil tersenyum.


"Eh...Hana udah lama nggak kelihatan"sapa Sam sambil celingukan seperti mencari seseorang.


"Nyari Dini?"Tanya Hana langsung.


Sam hanya tersenyum keki.


"Bang ini nomor Dini,abang hubungin dia ajah langsung kalo abang kangen"Hana memberikan secarik kertas pada Sam.


Sam pun menerima kertas yang di berikan Hana.


"Bang Dini nunggu abang,untuk abang hubungin,kalo abang serius sama teman saya hubungin dia dan ajak dia bicara serius bang,saya tahu abang orang baik dan pastinya punya niat baik juga sama teman saya,tapi lebih baik kalau niat baik itu di segerakan bang jangan di tunda-tunda nanti takut di ambil orang"


Sam yang mendengar kata terakhir Hana hanya melongo.


"Udah ya bang Hana pamit dulu ada banyak kerjaan nih"Hana langsung berlalu dari hadapan Sam.


Sam hanya melihat secarik kertas yang bertuliskan nama Dini dan deretan nomor,Sam akhirnya menyimpan kertas tersebut di dompetnya.


...***...


Sesampainya di rumah Hana,Dini yang tak melihat Hana sejak tadi pagi dan baru melihatnya kembali dari luar bertanya dari mana dirinya pagi-pagi,Hana hanya menjawab dia sedang berkeliling mencari inspirasi untuk menggambar.


Hari ini Hana akan pergi ke gor lagi,selain untuk menemui Lucky ia juga akan menyaksikan pertandingan Bintang hari ini adalah pertandingan final,jadi tanpa alasan apa pun dia pasti akan datang ke gor untuk menykasikan pertandingan,Hana mengajak Dini dan Dini pun ikut dengan Hana menuju gor.


Pagi menjelang siang Hana sudah ada di parkiran gor bersama Dini menunggu Lucky datang,tak lama mobil Lucky muncul dan ia pun keluar dari dalam mobil bersama rekannya Hana dan Dini pun menghampiri mereka,Hana menyerahkan hasil kerjanya semalam dan dia bicara pada Lucky dirinya akan mengerjakan tugasnya lagi nanti setelah melihat pertandingan final Bintang,Lucky pun mengiyakan saja perkataan Hana.


Ponsel Dini tiba-tiba berdering ia berpamitan pada Lucky dan Hana untuk menerima telpon agak jauh dari mereka.


Di lihat layar ponselnya tertera nama Sam,ya...sebenarnya sebelum Hana memberikan nomor Dini pada Samudra mereka sudah lama bertukar nomor ponsel tanpa Hana tahu bahkan mereka sering bertemu di luar tanpa Hana mengetahuinya,hanya yang belum Samudra tahu adalah Dini akan di jodohkan oleh anak juragan daging di daerah rumahnya.Hana pun tidak memberitahukan hal itu pada Samudra,Hana takut bila ia memberitahukan kalu Dini akan di jodohkan Samudra jadi salah faham dan mereka malah tak bisa menjalin hubungan.


"Ya...Bang...ada apa tumben telpon?"Dini menjawab telpon dari Samudra.


Samudra mengajak Dini untuk ketemuan siang hari ini di tempat biasa mereka bertemu.Dini pun mengiyakan permintaan Samudra hingga ia berpamitan pada Lucky dan Hana lebih dulu untuk meninggalkan gor.


"Mau kemana?"tanya Lucky dan Hana berbarengan.


"Mau ada perlu jadi maaf gue nggak bisa nonton pertandingan,semoga Bintang juara itu doa gue,udah ya gue pergi dulu di tungguin sama orang soalnya"Dini terlihat buru-buru,tidak memperhatikan wajah kedua sahabatnya yang mangap-mangap ingin bicara tapi tak bisa karena Dini nyerocos tak berhenti dan langsung meninggalkan mereka berdua dengan mulut yang masih pada menganga.


"Kenapa sih tuh anak,siapa sih yang mau di temuin sampe buru-buru kaya orang kebelet pipis begitu"Lucky asal bicara.


"Hehe kita semua kan punya urusan masing-masing jadi ya sudah lah mungkin ini penting untuknya ya kan?"Hana menepuk bahu Lucky.


Sepertinya gue tahu siapa yang akan di temui Dini,semoga semuanya lancar dan berhasil ya sob...


...***...


Dini menuju taman air mancur tempat dia biasa bertemu Samudra disana,Dini melihat Samudra sedang duduk menunggunya di bangku taman,dia pun menghampiri Samudra.


"Bang...ada apa tumben ngajak ketemu?"tanya Dini yang berdiri di hadapan Samudra.


"Duduk lah"Samudra menyuruh Dini duduk di sampingnya.


Dini pun duduk di sampingnya.


"Kamu sudah makan?"Samudra berbasa basi.


"Sudah bang,abang sendiri sudah makan belum?"Dini bertanya balik.


Samudra hanya mengangguk menandakan dirinya juga sudah makan.


"Din..."Samudra gugup ia sampai menelan air liurnya sendiri,Dini menunggu Samudra berbicara.


Dia ini kenapa sih Dini bingung dengan tingkah Samudra yang sedikit aneh dari biasanya.


"Din..."Samudra menatap Dini lekat"Kamu mau nggak kalau abang ajak serius"


Dini bingung.


"Serius apa maksud abang?"


"Maksud abang selama ini kan kita cuma begini ajah,nggak ada kata pacaran atau temenan,tapi kali ini abang maunya serius sama kamu"


"Ya...maksud abang itu serius mau ngapain bang"Dini tambah bingung karena pria yang ada dihadapannya ini berbicara berputar-putar tidak langsung ke inti pembicaraannya.


Samudra menghela nafas dia kemudian mulai berbicara lagi.


"Maksud Abang itu"rasa gugup sudah menjalar ke bibir Samudra hingga ia berbicara dengan bibir yang gemetar dan keringat dingin sudah mengucur didahinya.


"Dini mau nggak jadi istri Abang"


Deg...jantung Dini langsung berdebar tak karuan,dadanya seperti tersiram air bunga warna warni tersa sejuk dan penuh warna,Dini tersenyum mengangguk tapi kemudian dia menggeleng karena teringat perjodohannya dengan Bagas anak juragan daging.


Melihat Dini menggeleng Samudra bingung dirinya pesimis kalau Dini tidak mau menjadi istrinya.


"Kamu nggak mau ya jadi istri Abang"Suara Samudra lemas.


"Oh...begitu"Samudra pesimis.


"Tapi Dini tolak bang,Dini sampe kabur dari rumah dan nginap di rumah Hana,Dini nggak mau di jodohin bang,kalau abang memang serius sama Dini abang tolong temui orang tua Dini buat ngelamar Dini,karena sejujurnya Dini sukanya sama Abang"karena kesal Dini akhirnya mengaluarkan semu isi hatinya.


"Jadi kamu mau jadi istri abang"wajah Samudra yang tadi terlihat pesimis sekarang berubah menjadi optimis.


Dini mengangguk"Tapi abang harus temui orang tua Dini bang kalau nggak mereka bakalan maksa Dini nikah sama orang lain bang"


Samudra meraih tangan Dini.


"Pasti abang akan datang ke rumah kamu dan ngelamar kamu meminta restu orang tua mu"


"Bener ya bang..."Dini mengusap air mata yang sedikit keluar di sisi matanya.


Samudra mengangguk pasti.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari taman dan menuju rumah Dini,Samudra tak ingin menunda waktu karena takut Dini keburu di ambil orang.


Saat di rumah Dini,kedua orang tuanya yang ada di rumah menyambutnya dengan wajah penuh kemarahan,mereka marah karena Dini kabur dari rumah dan sekarang pulang bersama seorang laki-laki.


"Dari mana saja kamu,kenapa pulang bersama laki-laki apa semalam kamu bersama laki-laki ini"suara Bapak Dini menggema memenuhi seluruh ruangan rumah Dini yang sederhana.


"Aku semalam di rumah Hana Pak nginap disana"Dini menahan kesal.


Dia kesal karena Bapaknya marah-marah.


"Terus kenapa kamu pulang sama laki-laki ini bukan sama Hana?!"Bapak masih emosi.


" Pak...sudah pak jangan marah-marah terus lebih baik kita dengar penjelasan Dini dulu"Ibu mencoba meredam emosi Bapak.


Bapak akhirnya duduk di kursi yang ada di ruang tamu.


"Duduk"Bapak menyuruh Dini dan Samudra duduk.


Dini dan Samudra duduk bersebelahan.


"Sekarang bilang sama Bapak kenapa kamu kabur semalam setelah di beritahu kamu bakalan Bapak jodohin sama Bagas"tanya Bapak tegas.


"Pak...Dini nggak mau di jodohin sama Bagas"Dini tertunduk.


"Apa!"Bapak mulai emosi lagi.


"Pak...pak...jangan emosi pak"Mama Dini berusaha menenagkan bapak dengan mengelus punggung bapak.


"Kenapa kamu menolak di jodohin Din?"tanya mama lembut.


"Apa karena dia?"Mama menoleh ke arah Samudra.


Dini hanya menunduk.


"Pak...Bu...sebenarnya kedatangan saya kesini itu"


"Apa kamu mau apa kesini,mau ngelamar anak saya"Bapak langsung memotong pembicaraan Samudra.


"Ya...pak itu memang maksud kedatangan saya kesini"Samudra menjelaskan dengan tenang.


"Apa!"Bapak emosi lagi."berani betul kamu memangnya kamu itu punya usaha apa?kamu jangan mempermainkan anak saya yang masih polos ini"


"Saya hanya tukang ayam potong pak di pasar"


"Apa!"


"Pak...Bang sam ini mandiri punya usaha sendiri nggak bergantung sama orang tuanya kaya bagas,Dini lebih memilih Bang Sam karena Dini yakin Bang Sam bisa tanggung jawab penuh sama Dini dalam berumah tangga nantinya"


"Tahu apa kamu tentang rumah tangga pacaran ajah nggak pernah"Bapak sewot lagi.


"Pak...niat baik harus di segerakan jangan di tunda-tunda"


"Apa maksud kamu mau ngajarin saya sebagai orang tua gitu"bapak sewot.


"Bukan begitu pak"Samudra serba salah dihadapan Bapaknya Dini.


"Saya mau melamar anak Bapak itu niat saya pak"


"Kamu nggak pernah datang kesini tiba-tiba ngelamar selama ini apa kalian pacaran di luar begitu?!"


"Kami memang nggak pacaran pak,kami hanya saling kenal tapi saya yakin kalau Dini ini adalah jodoh saya tulang rusuk saya pak".


Bapak terdiam dan menghela nafas.


"Beri saya waktu untuk memastikan kalau kamu itu menantu yang baik atau bukan untuk anak saya,saya harus minta petunjuk allah SWT karena ini menyabgkut masa depan anak sulung saya"


" Baik pak"


...***...