
Sore itu setelah selesai mengantar Clara sampai rumahnya Lucky langsung menuju asrama atlet,dia tahu kalau Bintang pasti sudah sampai disana.Sesampainya dia disana dia meminta ijin untuk bisa bertemu Bintang dengan mengandalkan kartu wartawannya hingga ia bisa masuk dengan mudah ke dalam asrama.dia pun berjalan di lorong kamar para atlet di temani penjaga untuk menunjukan kamar Bintang.
Penjaga pun mengetuk pintu kamar,dan tak lama terbukalah pintu oleh seseorang dia adalah Maxi teman sekamar Bintang.
"Ada wartawan yang nyari mas Bintang"kata penjaga tersebut.
Maxi melihat kedalam kamarnya memberitahu Bintang ada yang mencarinya,Bintang pun keluar di lihatnya ternyata itu Lucky.
"Kau ada perlu apa?"wajahnya sudah malas melihat kedatangan Lucky.
"Bisa kita ngobrol sebentar"Lucky terdengar serius tak seperti biasanya yang selalu konyol.
Bintang pun akhirnya mengajak Lucky keluar Bintang pun hanya memakai pakaian santai celana pendek dan baju kaos.
Mereka mengobrol di halaman depan asrama,mereka memilih duduk di rerumputan.
"Tang..."Lucky memanggil Bintang dan Bintang menoleh kecut.
"Kau panggil aku apa?"Bintang protes"Tang?memangnya aku alat buat memutuskan kawat apa!"Bintang tidak suka dengan panggilan dari Lucky.
"Oke...oke...Bi..."Lucky meralat panggilannya.
Dia suka sekali di panggil itu karena Hana memanggilnya seperti itu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan"Bintang masih kesal wajahnya cemberut.
"Tentang Hana,maafkan dia karena tadi dia bersikap seperti itu,dia juga pasti tidak nyaman bersikap seperti itu pada mu"
Bintang yang mendengar hal itu terlihat bingung.
"Kenapa,kenapa dia jadi begitu padahal semalam kami baik-baik saja"
"Bi...sebaiknya kamu fokus latihan beberapa hari ini akan ada pertandingan kan?fokus lah kesitu dulu baru kamu fikirkan Hana".
"Gue nggak mau temen gue disalahin karena membuat lu jadi nggak konsentrasi sama karir lu"
"Ada benarnya juga kata-kata mu" Bintang berbicara sambil menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal.
"Oh...iya nanti gue juga pasti ngikutin pertandingan lu,jadi jangan bosen ya ketemu sama gue"
Bintang tersenyum.
"Oia Luc tadi siang kenapa ramai sekali tukang dagang di depan rumah Hana,dan aku nggak sengaja dengar pas tukang bakso sama tukang sayur ngobrol katanya Hana memberikan modal untuk mereka tanpa harus di kembalikan,sebenarnya usaha Hana apa sih selain berjualan dikantin"Bintang penasaran.
Lucky menggaruk-garuk tengkuk kepalanya,dia bingung harus menjawab atau tidak pertanyaan Bintang.
"Luc...kok kamu diam jawab dong"Bintang semakin penasaran.
"Huffff"Lucky meniup udara ke arah atas.
"Luc..."Bintang mendorong pundak Lucky.
"Lu yakin nggak kecewa tepatnya kaget sih setelah gue kasih tahu"
"Nggak aku yakin nggak"Bintang yakin.
Lucky pun akhirnya bercerita kalau Hana itu sebenarnya adalah seorang milyader,itu berawal dari bakat Hana yang suka menulis dan menggambar,Hana mempunyai profesi lain yang jarang di ketahui orang lain jagankan orang lain orang tuanya sendiri pun tidak tahu kalau Hana adalah seorang penulis komik,uang bayaran hasil dia membuat komik dia kumpulkan dan saat ada yang membutuhkan ia beri hasil jerih payahnya pada orang tersebut dan ia tidak mengharapkan untuk di kembalikan.
Lucky pun bercerita setelah seringnya dia memberi,hartanya bukan semakin berkurang malah semakin bertambah,dia pun akhirnya membatu beberapa teman untuk membuka restoran di luar negri,yang sekarang restoran tersebut sedang berkembang.
"Lalu kenapa dia masih tinggal di rumah kontrakan yang kecil itu dan kenapa orang tuanya tidak tahu kalau anaknya menjadi orang sukses?"
"Terus dia bilang apa jangan bilang uangnya habis karena dia bagi-bagi tanpa memikirkan dirinya sendiri"Bintang asal tebak.
"Dia bilang kalau dia tinggal di rumah besar sendirian dirinya bakalan repot membersihkan dan bebenah rumah"
Bintang tertawa mendengar penjelasan Lucky.
"Dia berkata seperti itu,padahal dia bisa menyewa petugas kebersihan atau asisten rumah tangga untuk mengurus rumahnya ya hadeuh...Hana...Hana kamu memang unik"Bintang tertawa dan menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa dia nggak kasih tahu orang tuanya kalau dia itu sukses?"
"Kalau itu masalah pribadi Hana gue nggak berani cerita dan gue harap lu jangan bilang kalau gue udah cerita siapa dia sebenarnya sama lu ya"
Bintang tersenyum.
"Mungkin kalau Mamah lu tahu Hana sebenarnya Mamah lu juga nggak bakalan nyuruh Hana buat ngejauhin lu dan nggak berteman lagi sama lu"
"Apa!"Bintang terkejut mendengar Lucky bicara.
Lucky mengangguk.
"Mamah aku bicara begitu sama Hana"Bintang seolah nggak percaya.
"Ya itulah kenyataannya,sudah jangan di fikirkan konsentrasi sama turnamen beberapa hari lagi,gue yakin Hana pasti ngedukung lu dia pasti dateng pas lu tanding"
Perkataan Lucky membuat semangat Bintang bangkit.
...***...
Sementara itu orang yang di bicarakan Lucky dan Bintang sedang rebahan dikamarnya bersama sahabatnya Dini.
"Hana...apa kamu tidak menyukai Bintang?"tanya Dini.
"Suka siapa yang nggak suka sama dia sih Din"kata Hana santai dan masih berbaring di kasurnya.
"Bukan suka seperti itu maksud aku tuh kamu itu cinta dan sayang nggak sama Bintang?"Dini menjabarkan.
"Hehe aku nggak seberani itu Din takut kecewa"
Ya ampun kapan sih kamu itu sadar Bintang itu sebenarnya cinta sama kamu,kenapa kamu takut kecewa karena Mamahnya tidak suka dengan mu,Hana...Hana...susah di tebak fikiran mu kawan.
"Kenapa kok bengong Din?"
Pertanyaan Dini membangunkan lamunan Dini.
"Kamu capek pulang lah istirahat atau mau nginap disini?"
"Nggak Han aku pulang saja,kamu juga masih butuh istirahat kan?"
"Ya...hati-hati lah dijalan"
Hana menatap layar ponselnya dia menatap foto Bintang dan dirinya waktu lima tahun lalu.
Sejak pertemuan yang tidak disengaja itu aku fikir kamu akan lupa dengan ku,bahkan saat kamu sudah sukses pun kamu masih ingat dengan ku,terima kasih karena kau selalu mengingat ku walau kita hanya sesekali bertemu waktu dulu,terima kasih kau sudah menganggap ku teman mu bahkan kau anggap aku sahabat mu walau kau belum tahu siapa aku yang sebenarnya.di anggap sebagai sahabat oleh mu saja sudah suatu keberuntungan untuk ku,aku tak akan mengharap lebih dari itu karena orang tua mu tidak suka bila aku dekat dengan mu lagi.tapi bagi ku kau tetaplah idola ku.
Ingin rasanya ia menangis tapi tidak bisa,mengingat apa yang harus di tangisi,hanya karena persahabatannya dengan seorang idola harus berakhir,itu semua hal yang wajar,karena idola seperti Bintang seharusnya berteman dengan satu kalangannya bukan dengan orang biasa seperti dia.
...***...