
Pagi ini Dini mendatangi rumah Hana.Dia mengantarkan undangan pernikahannya dengan Samudra,mereka telah mendapat restu kedua orang tua Dini.
"Wah...berapa hari nggak ada kabar dateng-dateng nganter undangan"ledek Hana.
"Hehe ya kamu cepat nyusul ya sama Bintang"
"Apaan sih"Hana mengelak.
"Aku sudah dengar dari Lucky Bintang melamar mu"
"Dasar ember bocor,bukan ngelamar dia cuma bilang mau nggak aku jadi istrinya".
"Ya berarti Bintang serius Han..."Dini antusias.
"Hehe"
"Malah ketawa aku serius tahu".
"Iya aku tahu kamu serius"Hana jadi malas membahas ini semua.
"Oia nanti tolong sekalian berikan ini sama Bintang ya,semoga dia bisa hadir di pernikahan aku"Dini memberikan undangan untuk Bintang pada Hana.
"Ya nanti aku sampaikan sama dia,semoga dia bisa datang ke pernikahan sahabat baik ku ini"Hana mengambil undangan itu.
"Terima kasih ya Han,oia aku pamit dulu ya aku masih harus membagikan undangan"
"Ya hati-hati maaf aku nggak bisa nemenin kamu,masih banyak kerjaan soalnya".
"Ya...nggak apa-apa".
Dini pun berlalu dari rumah Hana.
"Sepertinya aku harus ke gor untuk mengantar undangan ini".
Hana pun bersiap-siap dia merapihkan segalanya dan berangkat menuju gor bulutangkis,saat ia sedang mengunci pintu rumahnya Lucky tiba-tiba datang.
Tiinnnn suara klakson mobil mengagetkan Hana hingga ia terperanjat.Hana menoleh ke arah mobil ternyata itu Lucky.
"Mau kemana lu?"tanya Lucky dari kaca mobil.
"Mau antar undangan Dini"Hana menghampiri mobil Lucky.
"Buat siapa?"tanya Lucky penasaran.
"Buat Bintang"
"Buat gue mana?"tanya Lucky.
"Dia nggak nitip dia cuma nitip buat Bintang doang nih"Hana menunjukan kartu undangan yang di tunjukan kepada Bintang.
"Huh payah tuh anak nggak inget temen sendiri"Lucky sewot.
"Mungkin nanti dia antar sendiri undangan lu Luc,eh gue nebeng ya sekalian anterin ke gor"Hana langsung berlari ke arah pintu mobil yang di sebelah Lucky dan membuka pintu kemudian dia duduk di samping kemudi.
"Huh punya temen pada begini amat"keluh Lucky.
"Hehe udah jangan ngambek nanti Clara nggak demen loh"ledek Hana.
"Apa hubungannya"Lucky sewot.
Lucky lalu menjalankan mobilnya menuju gor bulutangkis.sesampainya disana Lucky lalu memarkirkan mobilnya di parkiran,dan mereka turun berdua dan berjalan beriringan ingin memasuki gor.
Saat mereka melangkahkan kaki dari parkiran tiba-tiba Hana melihat punggung Bintang yang terhalang sebuah mobil.
"Eh...Luc kayanya itu Bintang"tunjuk Hana saat melihat punggung Bintang yang terhalang mobil.
"Eh...iya kayanya lu samperin dulu lah gue mau kasih laporan kerja ke kantor dulu dari tadi temen gue kirim pesan mulu"
"Ya udah"dengan wajah ceria Hana menghampiri Bintang,tapi saat ia mendekati mobil tersebut ia melihat orang lain yang sedang di gandeng oleh Bintang.
Kedua tangan Bintang memegang kedua tangan seorang wanita cantik luar biasa badannya tinggi dan semampai,dia bukan seorang artis Hana tak pernah melihatnya selama ini.
Siapa dia.
Nyali Hana menciut melihat betapa mesranya Bintang memegang tangan wanita itu.Hana berbalik badan dia lalu menghampiri Lucky.
"Luc lu ajah nih yang kasih undangan ke Bintang gue balik dulu"Hana memberikan undangan pernikahan Dini pada Lucky.
"Kenapa kan itu orangnya lu tinggal kasih ajah apa susahnya".Lucky menunjuk ke arah Bintang.
"Elu Ajah ya yang kasih"suara Hana terdengar parau.
"Iya...gue baik-baik ajah tolong lu kasihin ya Luc,gue balik duluan"Hana langsung berlari dari arah parkiran kearah keluar gor.
Lucky berlari menghampiri Bintang.
"Bi...susul Hana dia lari tuh"Lucky panik.
Bintang langsung berlari menyusul Hana,di tariknya tangan Hana saat ia mendekat pada Hana.
"Mau kemana kamu?"
"Lepaskan aku"Hana marah.
"Tunggu ayo ikut aku"Bintang menarik tangan Hana.
"Lepasin aku,aku mau pergi,aku nggak mau lihat kamu"Hana marah benar-benar marah.
Ya ampun sepertinya dia benar-benar marah.
"Kamu kenapa sih marah-marah begitu sama aku,apa salah aku sama kamu?"Bintang pun terpancing marah.
"Bagaimana aku tidak marah, kemarin kamu bilang kamu cinta sama aku,kamu mau menjadikan ku istri mu,tapi tadi...tadi...aku lihat kamu bermesraan dengan wanita cantik disana"Hana marah nafasnya ngos-ngosan dadanya naik turun.
"Aku sadar aku tidak ada bandingannya dengan wanita itu,bahkan seujung kukunya pun aku tidak sebanding dengannya"air matanya menetes.
Bintang terkejut melihat itu.
"Ka...kamu menangis?"Bintang ingin menghapus air mata di pipi Hana tapi tangannya di tepis.
"Lepaskan aku"Hana berteriak.
"Tunggu kamu salah faham itu tidak seperti yang kamu fikirkan"Bintang tetap memegang tangan Hana tapi Hana memberontak terus agar Bintang melepaskan pegangannya.
"Apa kamu mau bilang apa kamu ingin menunjukan apa sama aku Bi,kamu mau menunjukan kalau aku ini bodoh mau saja percaya pada omongan mu kemarin begitu"
"Bukan...bukan itu Hana"Bintang bingung ingin menjelaskan pada Hana karena ia benar-benar tidak bisa di kendalikan.
"Maafkan aku karena sudah berani mencintai mu lebih dari idola ku,seharusnya aku tidak boleh seperti ini tapi..."
Bintang langsung menarik Hana dalam pelukannya,mengelus rambutnya,Hana memberontak agar Bintang melepaskan pelukannya.
"Hanya kamu wanita satu-satunya yang aku cintai Hana hanya kamu"Suara Bintang lirih.
"Bohong"Hana masih memberontak.
"Bintang..."wanita yang tadi bersama Bintang menghampiri mereka.
Hana terbelalak melihat wanita itu mendekat.
Bintang melepaskan pelukannya.
"Eh...ka Amel"kata Bintang saat melihat wanita itu mendekatinya.
Ka...amel siapa dia kenapa Bintang memanggil wanita cantik ini kakak.
Hana bingung.
"Hana kenalkan ini ka Amel istri ka Akam".
Apa istri dr.Akam berarti dia kakak iparnya Bintang dong.ya...ampun malunya aku mau di taruh dimana ini muka,aku marah-marah tanpa mendengar penjelasan Bintang dulu.
Hana jadi salah tingkah,ia menjabat tangan Amel,dan Amel tersenyum padanya.
"Maaf kan aku Bi aku sudah marah-marah pada mu"Hana tertunduk malu.
"Aku permisi dulu ya Bi...mau pulang hehe"Hana menggeser kakinya bersiap ingin pergi,ia tak tahan menahan malunya karena tingkah lakunya tadi.
"Mau kemana?"Bintang bingung.
"Hehe pulang"
Tiba-tiba ada mobil berhenti di belakang mereka.
"Mah...sudah selesai ayo pulang"wajah dr.Akam muncul dari jendela mobil teesebut,mengajak Ka Amel pulang bersamanya.
"Sudah pah...Bintang kaka pulang dulu ya,kalian baik-baik ya jangan bertengkar lagi"ka Amel langsung masuk kedalam mobil.
...***...