
Malam itu pertemuan keluarga di adakan di kediaman Oma Lina,kedua keluarga ingin membicarakan perihal hububungan Bintang dan Clara,keluarga Bintang masih belum mengetahui bahwa kedatangan Pak Andre dan keluarga adalah untuk membatalkan perjodohan antara kedua anak mereka,Bintang tidak bisa hadir malam itu dikarenakan lusa sudah mengikuti turnamen,Bintang sudah mengetahui pembatalan perjodohan ini dari Clara saat mereka berdua pergi kerumah Hana.
Waktu itu di mobil Clara sudah menjelaskan kepada Bintang bahwa ia sudah meminta Papahnya untuk membatalkan perjodohan mereka,karena Clara tahu Bintang tidak pernah mencintainya,dan sepertinya Clara pun sekarang ini menyukai orang lain orang yang sangat peduli padanya,orang yang ada dan menghiburnya bila dia sedang sedih.orang yang di maksud adalah Lucky tapi apakah Lucky memiliki perasaan yang sama terhadap Clara atau semua yang Lucky lakukan pada Clara itu hanya sebatas iseng.Lucky sendiri pun belum mengerti dengan perasaannya sendiri pada Clara hingga ia bersimpatik pada wanita cantik dan kadang sombong itu.
Kedatangan Keluarga Pak Andre di sambut hangat dan bain oleh Mamah Bitha,Papah Adam tidak ada beliau masih mengurus bisnis di luar kota,jamuan makam malam pun mereka sajikan dengan rapih dan mewah.
Saat selesai makan malam mereka pun mengobrol di ruang keluarga,semua ada disana termasuk dr.Akam kecuali Bintang yang tinggal di asrama.Pak Andre pun akhirnya ke inti permasalahannya datang ke kediaman Oma Lina dan Opa Jaya.
"Jadi begini Bu Bitha...maksud kedatangan kami kesini sebenarnya untuk memenuhi permintaan Nadia"
"Oh...begitu...apa Nadia mau mempercepat pertunangannya dengan Bintang?"Mamah Bitha terlihat antusias.
"Bukan tante"Clara langsung menyela"Aku bukan ingin mempercepat pertunangan tapi aku ingin membatalkan perjodohan ini"Clara dengan tegas mengatakan itu di hadapan semua keluarga Bintang.
"Apa!"Mamah Bitha terkejut bukan main"Nadia tante nggak salah dengar kan?"Mamah Bitha masih nggak percaya"apa yang membuat mu memutuskan ini apa Bintang yang meminta mu atau ada orang lain yang mengancam mu?"panjang Mamah Bitha bertanya.
"Tidak tante ini semua murni kemauan dari hati saya"
"Kamu bercanda kan sayang..."Mamah Bitha masih tidak bisa menerima keputusan yang Clara ambil.
"Tidak tante saya serius"Clara dengan tegas mengatakannya.
"Sudah lah Bitha kamu jangan memaksakan kehendak mu untuk anak mu dalam mencari jodoh biar anak-anak ini memilih jodohnya sendiri"ucap Opa Jaya lirih.
"Tapi Pah...ini sudah lama kita rencanakan"Mamah Bitha berusaha mengelak.
"Yang merencanakan ini hanya kamu,kami tidak memang mamah menginginkan Bintang cepat menikah tapi itu dengan pilihan hatinya sendiri"Oma Lina pun ikut berbicara dan Mamah Bitha jadi semakin terpojok.
"Betul Bu...biarkan anak-anak ini menemukan cinta sejatinya sendiri tanpa harus di jodohkan"Pak Andre berusaha meyakinkan Mamah Bitha.
Mamah Bitha menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya lagi.dan akhirnya bicara.
"Baiklah bila ini semua yang terbaik"walau dengan berat hati Mamah Bitha akhirnya menerima semua keputusan ini.
Keluarga Pak Andre pun pamit pulang,mereka diantar oleh Mamah Bitha hingga mereka menaiki mobil,saat mobil keluarga Pak Andre menghilang Mamah Bitha kembali kedalam rumah dia terduduk lemas di sofa,dia berfikir kenapa semua rencananya bisa gagal begini padahal semua sudah direncanakan sejak lama.
"Mah..."Akam tiba-tiba menegur Mamahnya yang sedang melamun.
Mamah Bitha sempat terkejut.
"Eh...kamu"
"Kenapa Mamah melamun,mamah masih kepikiran pembatalan perjodohan ini?"
Mamah Bitha hanya mengangguk.
"Mah...mungkin Nadia memang bukan jodohnya Bintang,buktinya Nadia sendiri yang memutuskan perjodohan ini bukan Bintang"
"Ya...kamu ada benarnya juga"Mamah Bitha masih lemas.
...***...
Turnamen pun akhirnya dimulai begitu banyak wartawan dari media dalam negri maupun luar negri yang datang untuk meliput,para suporter juga tak kalah ramainya untuk datang mendukung idolanya masing-masing.
Begitu banyak stand aksesoris,makanan dan minuman hingga suasana turnamen begitu ramai,loket pembelian tiket sudah ramai sejak subuh padahal loket belum di buka,tapi antrian sudah panjang,sungguh turnamen yang luar biasa.
Hana dan Dini pun ikut mengantri di loket sejak subuh bahkan mereka pergi ke stadion sebelum adzan subuh.
"Wah...ramai sekali yang datang ya Din..."Hana melihat takjub kesekeliling yang penuh keramain.
"Iya padahal ini baru jam 5 pagi"
"Ya...ya..."jawab Dini malas.
Beberapa hari yang lalu bilang mau ngindarin Bintang sekarang bilang dukung Bintang mau nya apa sih kamu Hana...Hana...
Jam segini ajah kita udah disini apa lagi kalo bukan pengen lihat idola mu yang satu itu,tapi kalo di bayangin kalo kamu bisa nikah sama idola kamu gimana ya...
Dini mulai berhalusinasi hingga ia cengar cengir sendiri.
"Din kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri?"tanya Hana saat melihat sahabatnya cengar cengir sendiri.
"Oh...nggak aku nggak apa-apa kok cuma lagi inget kejadian lucu ajah"Dini berkilah.
Pukul 9 pagi Hana dan Dini yang sudah mendapatkan tiket,memilih istirahat dan mencari makanan untuk mengganjal perut mereka yang belum terisi sejak pagi.
"Din...makan itu ajah yuk"Hana menunjuk stand mie cup mereka pun membeli dan mencari tempat untuk mereka makan.
Ketika Hana ingin menyuap mie kedalam mulutnya,ponselnya berbunyi ditaruhnya cup mie dan dilihatnya ponselnya yang disimpan didalam tas kecilnya.
"Oh...Lucky,apa Luc"
"Lu dimana?"
"Lagi makan mie cup sama Dini duduk dekat pohon besar yang banyak orang kenapa emangnya?"
"Oh...ya dah gue kirim bahan ke email lu nanti malam ya habis gue selesai kerja"
"Oh...ya santai ajah"
"Oke thanks hati-hati lu berdua"Lucky langsung mematikan saluran telpon.
"Apa kata Lucky?"tanya Dini yang hampir menghabiskan mienya.
"Lucky dah punya bahan buat menulis tapi dia kirim nanti malam setelah dia selesai kerja"
"Kira-kira apa yang di tulis Lucky"
"Kayanya tentang perjalanan seorang atlet bulutangkis soalnya waktu itu dia sempet wawancara Bintang kan dan sekarang juga ngeliput turnamen ini"
"Oh...iya ya waktu wawancara kita juga kan ikut dengerin ya hehe gue lupa,gue kira dia wawancara Bintang buat artikelnya nggak taunya buat bahan tulisannya"
Hana menganggukan kepalanya dan Slurrrppp Hana menyeruput mienya hingga terdengar suara mie masuk kedalam mulutnya.
"Laper...aku fikir dengan kamu menonton Bintang bertanding nanti nggak akan buat kamu lapar hihihi"
Hana pun hanya tersenyum mendengar perkataan Dini.
Pasti nanti dia heboh banget deh didalam apa lagi kalau sampe Bintang poinnya tertinggal,hadeuh... Hana..Hana... semoga kamu bisa mengendalikan dirimu kawan.
Tling pesan masuk ke ponsel Bintang,dilihatnya pesan yang masuk itu dari Lucky.
Hana sudah di stadion sejak subuh tadi dengan Dini dia datang untuk mendukung mu pastinya.
Membaca pesan dari Lucky wajahnya berbinar-binar dan bibirnya tersenyum manis.
Terima kasih sudah datang Hana
Batinnya sambil menaruh ponselnya di dadanya tak lama ponselnya pun ia matikan karena sudah saatnya berangkat ke gor pertandingan dirinya harus fokus ke pertandingan dan tak ingin fokusnya pecah karena bermain ponsel.
...***...