
Hana pamit kepada orang tua Bintang dan Ibunya yang ikut menunggu operasi Bintang,Hana ijin keluar sebentar bersama ayahnya,tak ada yang tahu Hana pergi kemana bersama ayahnya.yang tahu tujuan mereka hanya mereka berdua saja.
Ayah mengendarai mobilnya dan menuju ke kantor polisi yang menahan penabrak Bintang.Mobil tiba di kantor polisi ayah berbicara dengan salah satu polisi yang ayah kenal disana,ayah meminta ijinnya untuk menginterogasi pelaku penabrak Bintang karena dirasakan ada keganjilan dalam kasus ini.
Pelaku penabrak Bintang pun di bawa keruang interogasi,disana Hana sudah duduk di hadapan orang asing tersebut.
Hana langsung memasang wajah dingin pada orang tersebut.
"Apa Anda yang menabrak suami saya?"nada Hana dingin.
"Iya benar"orang itu menjawab santai.
"Apa ada orang lain yang menyuruh anda melakukan itu?"
"Tidak itu terjadi karena saya sedang mabuk"
"Anda di bayar berapa untuk membungkam mulut anda"
"Tidak ada yang membayar saya nona itu semua murni kecelakaan tunggal"
Hana melihat sebagian wajah pelaku ini lebam-lebam mungkin polisi yang menginterogasi sempat memukuli wajahnya tapi dia tidak mau mengakuinya.
Hana akhirnya mengeluarkan kertas dan pensil dari tas ranselnya meletakannya di atas meja ia lalu menggambar sebuah telapak tangan di kertas diatas meja tersebut.
"Baiklah apa setelah ini anda masih bisa bungkam"selesai Hana menggambar tangan tersebut Hana menggoreskan gambar tangan tersebut goresan kecil dan dalam.
Dan tiba-tiba pelaku itu mengerang kesakitan memegang tangannya.pelaku itu bingung kenapa tangannya bisa sesakit ini,Hana lalu menggambar goresan itu dan mewarnainya seperti warna darah dan tiba-tiba keluar darah segar dari tangan sipelaku yang kesakitan.
Pelaku itu melihat tingkah Hana dan melihat keadaannya sendiri dia berfikir bagaimana bisa dia sedang menggambar tangan yang terluka tapi kenapa tangannya ikut merasakan kesakitan dan terlihat persis luka yang digambarkannya dengan luka yang di alaminya.
"Apa anda masih bungkam"Hana lalu merobek kertas itu menjadi bentuk tangan lalu menekuk satu jari di gambar tersebut menekuk keatas hingga jari orang tersebut pun ikut menekuk keatas orang itu berteriak kesakitan dia kesakitan sekaligus ketakutan dengan apa yang di lakukan Hana.
"Aku bisa merobek salah satu jari digambar ini dan anda tahu apa yang akan terjadi bila aku merobeknya dan membuangnya"tatapan Hana dingin dan menakutkan.
"Bila digambar ini hilang satu jari berarti jari anda pun akan ikut hilang"Nada Hana pelan tapi menakutkan.
Orang itu ketakutan,Hana menancapkan pensilnya di tengah-tengah gambar telapak tangan itu dan orang itu mengerang kesakitan lagi.
"Katakan siapa yang menyuruh mu menabrak suami ku"Hana mulai emosi"Atau kau lebih memilih kehilangan beberapa jari mu dengan cara yang menyakitkan dan tidak masuk akal"
Ya bila difikir orang itu perbuatan Hana memang tidak masuk akal tapi ini bisa terjadi tanpa menimbulkan jejak,wanita yang menakutkan fikir pelaku.
"Baik...baik aku mengaku Alex yang menyuruh ku dia membayar ku dengan bayaran yang besar hingga aku mau menutup mulut ku"orang itu ketakutan.
"Apa ada bukti lain yang bisa menjebloskannya kepenjara?"suara Hana tetap dingin ia masih menekan pensilnya di gambar itu,hingga membuat pelaku kesakitan lagi.
"Aaaaaa ada dia beberapa kali menelpon ku nomornya ada di ponsel ku yang di simpan oleh petugas polisi mungkin bila di cek ke bagian operator telpon masih ada rekaman pembicaraan kami"pelaku masih memegang tangannya yang kesakitan.
Hana menghapus gambar tersebut dan orang itu pun tak merasakan kesakitan lagi dan darah yang sempat keluar dari tangannya pun tak berbekas sama sekali bersih sebersih kertas yang di hapus Hana,wajahnya terlihat masih terheran-heran dengan tindakan Hana.
"Kau pasti penyihir"fikir pelaku itu.
Hana hanya menyinggulkan senyum sinis pada pelaku.
"Terima kasih atas kerja sama anda Tuan dan selamat mendekam di penjara"Hana menatap tajam dan manakutkan.
Batinnya saat ia kembali kedalam sel penjara.
Hana,ayah dan petugas polisi pun langsung mengumpulkan bukti seperti yang di katakan oleh pelaku dan mereka mendapatkan rekaman telpon antara Alex dan pelaku.Hana geram mendengar rekaman tersebut.
Polisi pun menangkap Alex di rumahnya Alex sempat memberontak tidak mau di tahan dan tidak mengakui kesalahannya,tapi ketika ia bertemu dengan Hana di kantor polisi ia terkejut.
"Kamu...apa kamu yang menyuruh polisi menangkap ku?"
Hana menatap sinis pada Alex,dia marah benar-benar marah karena Alex mencelakai suaminya membuat suaminya jadi mengalami kesulitan.
"Alex jangan berurusan dengan wanita itu"pelaku penabrakan bertariak dari dalam sel.
"Dia itu penyihir yang berbahaya dan menakutkan"wajah ketakutan terlihat di wajah pelaku tersebut.
Alex lalu menatap Hana di lihatnya Hana memang sangat berbeda dengan Hana yang pernah ia temui,tatapannya begitu dingin dan menakutkan seperti seorang singa yang ingin memangsa buruannya.
"Siapa dia?"gumam Alex."
"Alex akui saja kejahatan mu jangan sampai kau di interogasi olehnya dia itu menakutkan Alex"pelaku penabrakan masih bertariak dari sel.
Alex masih bingung dengan yang di katakan pelaku penabrakan,Alex pun di interogasi oleh polisi dan Hana.
"Kenapa kau ikut menginterogasi ku apa kau sudah berubah fikiran untuk datang kepada ku dan meninggalkan suami mu yang cacat itu"
Perkataan Alex membuat Hana benar-benar marah.
"Katakan kenapa kau mencelaki Bintang"Hana mulai emosi.
"Nana tenanglah"Ayah berusaha menenagkan putrinya.
"Apa salah Bintang pada mu hingga kau berbuat sejahat itu padanya"Hana tetap emosi.
"Kesalahannya karena dia tidak mau memberikan dirimu pada ku"Alex berkata sinis.
Mendengar hal itu Ayah pun ikut emosi.
"Dasar tidak tahu malu"ayah ikut emosi.
Ayah lalu menggambar wajahnya lalu membuat goresan-goresan di gambar wajah tersebut dan Alex langsung mengerang kesakitan.
"Aaaaa wajah ku wajah ku kenapa tiba-tiba sesakit ini"Alex mengerang memegangi wajahnya.
"Ayah sudah lah dia sudah mengakui kejahatannya tadi kita tinggal serahkan semuanya pada pihak yang berwajib"Hana menghentikan Ayahnya karena dia tak mau ayahnya mengambil tindakan yang lebih buruk,karena goresan ayah lebih nyata dari pada goresan Hana,atau lebih tepatnya ayahnya lebih menakutkan dari Hana.
Ayah menghentikan tangannya menggambar dan meremas kertas yang ia gambar tanpa menghapus gambar tersebut.membuat Alex mengerang kesakitan lagi dan di wajah Alex sekarang terlihat beberapa goresan tertinggal disana.
Alex pun akhirnya ditahan dipenjara,Hana menghubungi Lucky untuk menghubungi salah satu media disini dan memasukan berita tentang penyerangan Alex pada Bintang.
Tragedi yang terjadi di penjara yang di lakukan ayah dan anak pun berakhir,mereka pun kembali kerumah sakit dan menunggu Bintang yang masih ada di ruang operasi.
...***...