
Pagi ini Hana melakukan aktifitas seperti biasnya hanya kali ini sedikit berbeda dia tidak menyiapkan sarapan untuk suaminya. setelah sarapan ia langsung bersiap pergi menemui Dini.
Mamah Bitha yang melihat menantunya sudah rapih bertanya.
"Mau kemana kamu pagi-pagi sudah rapih"
"Hana mau pergi ke yayasan mah, mau lihat laporan dari teman,semalam Hana sudah minta ijin sama Bintang dan dia mengijinkan"
"Oh... begitu ya sudah hati-hatilah,Kamu di antar pak Anang saja ya"
"Tidak usah Mah Hana naik ojek saja"
"Hei... suami mu bisa marah melihat mu berboncengan dengan tukang ojek sudah di antar pak Anang saja"Mamah Bitha sewot.
Iya juga sih kalau dia tanya aku pergi menemui Dini diantar siapa dia pasti ngambek kalau aku bilang aku naik ojek.
Fikir Hana.
Hana pun menuruti saran Ibu mertuanya,dia meminta bantuan Pak Anang untuk mengantarnya.
Mobil pun melaju Hana menatap layar ponselnya dan melihat sebagian laporan yang dikirim ke emailnya.
"Buka minimarket?"gumam Hana saat membaca laporan Dini ada yang mengajukan kerjasama membuka mini market.
Hana lalu menelpon Dini.
"Halooo Din aku ke tempat mu ya... oia aku baca ada yg mau kerja sama buka mini market? "
"Maaf aku tolak karena buka mini market itu prosesnya nggak mudah,modalnya juga nggak sedikit,kelihatannya saja mewah tapi repot ngurusnya mending buka sepuluh warung sembako dari pada mini market"
Pak Anang mendengar percakapan istri tuan mudanya.
Si Enon hebat euy... diam-diam punya bisnis, Den Bintang nggak salah pilih ini mah, udah baik sukses lagi.
Fikir pak Anang.
"Pak berhenti di gang itu ya"Hana menunjukan sebuah gang sempit.
Mobil pun berhenti di depan gang sempit itu.
"Pak. kalau Bapak bosan menunggu saya Bapak bisa pulang dulu nanti saya telpon bapak kalau urusan saya sudah selesai soalnya saya agak lama disini"Hana tersenyum.
"Iya Non nggak apa-apa saya nunggu saja"
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya pak"Hana pamit pada pak Anang.
"Duh... udah cantik, baik, sopan sukses beuhhhh... pantes Den Bintang cinta mati sama si Enon"gumam pak Anang saat melihat Hana pergi.
Hana sampai didepan rumah Dini yang sekarang sudah misah dari orang tuanya.
"Asalamuaikum "Hana memberikan salam.
"Walikumsalam"Dini menyahut dari dalam dan langsung membukakan pintu.
"Aaaaa Hana kangen iiihhh"Dini langsung memeluk Hana.
"Aku juga kangen sama kamu"
"Ayo masuk "Dini mengajaknya masuk.
"Suami mu ada?"tanya Hana.
"Bang Sam masih di pasar"
"Oooo"Hana pun duduk di kursi.
Dini menyediakan minum dan cemilan untuk Hana.
"Giman kandungan mu? "
"Sudah masuk 4bulan sudah berkurang mualnya"
"Ooo bagus deh... sehat-sehat terus ya dek... "Hana berbicara dengan perut Dini.
"Semoga kamu juga secepatnya bisa menyusul ku Han... "Dini mengelus perutnya sendiri.
Hana tersenyum sambil memegang gelas minumnya.
"Ya... doakan saja"Hana cuek seperti biasanya.
Mereka pun membahas laporan yayasan dan masalah kerja sama yang lain, tapi Hana tetap tidak menyetujui pembukaan mini market.
"Ya sudah kalau kamu tidak setuju"Kata Dini.
"Ooo iya nanti ada pertemuan sebentar di yaysan kamu ikut?"tanya Dini.
"Ya ikut aku sudah minta ijin suami ku semalam dan dia mengijinkan"
"Ooo iya mana dia tidak ikut bersama mu? "Dini baru menyadari Hana datang sendirian.
"Ke asrama? Memangnya dia sudah sembuh total? "
"Belum tapi coach Yoga menyarankan seperti itu biar bisa dipantau kondisinya, disana kan ada tim medis dan pelatih yang bakalan ngawasin perkembangan cideranya"
"Sabar ya Han... aku. senang saat mendengar kamu sudah menikah dengan Bintang disana tapi aku menangis saat tahu bagaimana keadaan Bintang, semua pasti berat buat mu"Dini memegang tangan Hana.
"Dia begitu karena aku Din... "Hana tertunduk sedih.
"Maksud mu? "Dini bingung.
"Seandainya aku kesana tidak menemui dia kecelakaan itu nggak akan terjadi Din"Hana mulai menangis.
Dini langsung memeluk sahabatnya.
"Ada rivalnya Bintang yang menginginkan aku, Bintang menjaga aku agar tidak terlibat oleh orang itu,tapi orang itu menyewa orang lain untuk mencelakai Bintang, aku sungguh sial untuknya Din... seharusnya aku tidak usah menemui dia waktu itu disana ya Din pasti Bintang sekarang masih sehat-sehat saja"Hana masih menagis.
"Hana kamu nggak boleh bilang begitu, kamu itu keberuntungan untuk Bintang, bukan kesialan"Dini mengleus punggung sahabatnya.
Hana memutar-mutar cincin pernikahannya.
"Aku sempat berfikir untuk lari dari nya bila dia sudah sembuh total,agar dia tidak tertimpa kesialan lagi, tapi kenapa semakin hari aku semakin berat meninggalkan dia cinta ini seperti pohon yang di sirami air dan di beri pupuk semakin hari semakin tumbuh besar"
"Kamu kenapa mau ninggalin Bintang, jangan bicara seperti itu Hana itu tidak baik, kamu harus. kuat ini cobaan,mungkin allah memang mengatur perjodohan kalian seperti ini, mungkin kalau Bintang tidak celaka kalian mungkin belum menikah karena dia pasti sibuk bertanding, atau seumpamanya tidak. ada. kecelakaan tapi kalian menikah kalian juga tidak bisa menghabiskan waktu bersama selama ini ya kan ambil hikmahnya jangan menyalahkan diri sendiri kawan"Dini menasehati.
Hana terdiam, tak lama ponselnya berdering dilihat layar ponselnya ternyata suaminya ingin video call. dengannya.Hana membersihakan wajahnya agar tidak terlihat seperti habis menangis.
"Ya... sayang... "Hana menjawab dengan senyuman.
"Kamu sudah bertemu Dini? "tanya Bintang.
"Ya... ini Dini disamping ku"Hana menarik tangan Dini agar mendekat.
"Hai... Din... gimana kandungan mu? "Bintang bertanya.
"Alhamdulilah baik dan sehat"
"Oooo bagus lah"
"Sayang... kenapa mata mu merah"Bintang menyadari ada yang aneh dengan istrinya.
"Ooo tadi mata aku kena debu sayang jadi merah nanti aku obati"
"Bohong kamu pasti habis menangis, Dini kenapa istri ku memangis"
"Nggak Bi Hana nggak nangis dia benaran kena debu tadi"
"Kenapa kalian kompak sekali sih untuk berbohong"
Kenapa dia sulit sekali sih di bohongi,lagi kenapa sih dia harus video call. kenapa tidak telpon saja.
Hana kesal dalam hatinya.
"Ayo mengaku kenapa kamu menangis apa yang membuat mu menangis"
Hana bingung harus menjawab bagaimana.
"Sayang... kenapa? "Bintang bertanya lembut.
"Iya aku menangis tapi aku menangis karena bahagia sayang,aku bahagia karena komik ku berhasil dicetak yeay... "Hana memasang senyum semerekah mungkin.
"Iya... Bi... ini komik pertamanya yang berhasil di cetak mangkanya dia terharu saat cerita sama aku"
"Oooo begitu... sayang....jangan menangisi aku terus doa kan aku agar aku lekas pulih dari cidera ku, dan agar kamu bisa menyusul Dini"
"Hah... apa sempat-sempatnya kamu berfikir seperti itu"
Dini tertawa terpingkal mendengar ucapan Bintang.
"Sudah dulu ya sayang muach"Bintang langsung mematikan video call mereka.
"Eh.. hei... tunggu,akh...." Hana kesal dan membanting ponselnya di meja.
Dini masih tertawa.
"Bisa-bisanya dia berfikir begitu"Hana cemberut.
"Hei... nggak apa-apa kali sob... kalian sudah suami istri ini".
"Ihhh kamu kenapa jadi memihak sama dia sih"Hana kesal.
Bintang tertawa biasanya Hana yang selalu seperti itu di telpon mematikan panggilan saat mereka sedang bicara sekarang Bintang mambalasnya Bintang membayangkan wajah kesal istrinya hingga ia tertawa sendirian.
Bintang tidak sadar ada yang diam-diam memperhatikannya di ujung lorong gor,seseorang yang telah lama jatuh hati padanya.
...***...