
Malam hari Ponsel Hana berdering di lihatnya layar ponsel menunjukan nama Bintang,dia bimbang ingin di angkat atau tidak karena dia masih malu dengan kejadian tadi pagi.Akhirnya dia angkat juga telpon tersebut.
"Asalamualikum Bi..."Hana berusaha senetral mungkin berbicara,padahal jantungnya berdetak tak karuan.
"Walikumsalam sedang apa kamu?"Bintang berbasa basi.
"Hemmm sedang menggambar"
"Oh...aku ganggu ya?"
Astaga aku sudah seperti ABG saja.(Bintang).
"Tidak kok,ada apa telpon"
"Tidak ada apa-apa aku hanya ingin dengar suara kamu saja"
Aaaa gila sejak kapan aku jadi pandai nggombal begini,eh tapi ini termasuk gombalan bukan ya? (Bintang bingung sendiri).
Hana di sebrang telpon tersenyum.
"Oia minggu depan aku ada pertandingan di luar negeri,kemungkinan aku tidak bisa datang ke pernikahan Dini tolong sampaikan maaf ku padanya ya"
"Oh...iya nanti aku sampaikan padanya,kalau tidak salah turnamen minggu depan itu di negara x kan ya?"
Suasana mulai mencair di antara mereka berdua.
"Ya...oia itu negara tempat Lucas ya?"Bintang antusias.
"Iya,ayah ku juga ada disana sekarang ini"Hana terdengar kurang semangat.
"Ayah mu?"Bintang ragu.
"Iya sudah dua tahun beliau tinggal disana,ah sudah lah tak perlu di bahas,oia semangat terus dan jaga kesehatan mu ya"
"Kenapa kamu masih menutupi masalah keluarga mu pada ku,aku serius dengan mu kapan aku bisa menemui orang tua mu"
Haha kamu lucu Bi kamu saja masih banyak pertandingan yang tidak bisa di tunda gimana cara mu mau melamar ku haha.
Hana tertawa dalam hatinya.
"Kapan kau akan libur?"Hana bertanya iseng.
"Masih ada tiga turnemen lagi bulan ini,mungkin bulan depan aku baru bisa libur"
Nah...kan kamu saja sibuk hehe ya wajar sih namanya juga sudah profesinya begitu.
"Ya nanti saja tunggu kamu libur ya,baru bertemu dengan orang tua ku minta restu mereka"
"Ya kamu yang sabar ya"
"Iya..."
"Baiklah sudah dulu ya jangan tidur terlalu malam,aslamualikum"
"Walikumsalam"
Telpon pun terputus.
Bintang yang habis menelpon terlihat senyum-senyum sendirian,Maxi jadi tertarik untuk menggodanya.
"Hadeuh...kamar ini jadi banyak bayangan bunga dan gambar hati nih terutama di sekeliking mu Bi"
Bintang menoleh pada Maxi.
"Apaan sih"Bintang langsung melempar bantalnya ke arah Maxi.
"Hahaha"Maxi tertawa keras.
"Memangnya hanya kamu yang boleh jatuh cinta aku juga boleh dong"Bintang senyum meledek.
"Nanti habis turnamen bulan ini aku ingin segera menikahinya"
"Wow...nggak perlu penjajakan dulu?"Maxi sedikit terkejut dengan pernyataan Bintang.
"Kan kami sudah kenal Max buat apa penjajakan lama-lama takut khilaf dan malah bikin dosa hehe"
"Astaga sahabat ku ini ternyata sudah tidak sabar ya untuk hahaha"Maxi sudah berfikir jauh.
"Hus...berisik tahu dari tadi suara ketawa mu itu bisa mengundang teman yang lain kesini"
Maxi akhirnya menutup mulutnya yang masih tertawa hingga badannya gemetar semua.
...***...
Pagi ini Hana berencana pulang menemui Ibunya,selain karena kemarin kakanya menyuruhnya pulang ia juga ingin meminta ijin Ibunya untuk pergi ke negara x ia ingin menemui ayahnya disana,sekalian ia ingin melihat perkembangan restoran yang di kelola oleh Lucas.
Hana tidak mau memberitahukan hubungannya dengan Bintang pada Ibunya,ia akan memberitahu hubungan mereka bila Bintang sudah mendapatkan libur pertandingan.
Hana pergi ke terminal bus,ia menaiki bus ke kota tempat tinggal ibunya.6 jam perjalanan membuatnya pegal,pegal punggung,pegal bokong,pegal leher,tapi pemandangan hijau di perjalanannya menemaninya dalam perjalanan hingga rasa pegal yang di rasakannya bisa sedikit berkurang.
Hana pun tiba di terminal terakhir tempat tujuannya yaitu kampung halaman ibunya.setelah ia turun dari bus antar kota ia pun menaiki ojek menuju rumah Ibunya.ojek pun tiba di depan rumah Ibu.suara motor yang berhenti di depan rumah membuat Ibu menengok keluar rumah,dilihatnya seorang gadis baru turun dari motor tersebut dan membayar sejumlah ongkos.
Ibu menunggu gadis itu masuk kehalaman rumahnya dengan wajah marah ia menyambut kedatangan anak gadisnya Hana,sudah beberapa bulan dia baru kembali lagi kerumah Ibunya.
"Asalamualikum..."Hana memberi salam saat memasuki halaman rumahnya.
"Ibu..."Hana terpaku melihat Ibunya sudah ada di depan pintu rumahnya menatapnya dengan penuh kemarahan.
Hana pun mencoba meraih tangan Ibunya untuk menyalaminya,tapi Ibunya menepis tangan Hana ,Ibu tak membiarkan tangannya di cium anaknya tapi Ibu langsung memeluk anak gadisnya Ibu menangis memeluk Hana,Ibu marah tapi rasa rindunya lebih besar dari pada rasa sedihnya.
"Kemana saja kamu...nggak pulang-pulang apa kamu lupa masih punya oranga tua"Ibu histeris.
"Maafin Nana Bu...Nana takut pulang takut Ibu masih marah sama Nana"Hana pun menangis.
"Iya Ibu marah sama kamu,Ibu marah sangat marah sama kamu karena kamu lebih mengikuti jejak ayah mu,tapi biar bagaimana pun kamu itu tetap anak Ibu bagaimana Ibu bisa benci sama kamu walau bakat ayah mu menurun pada mu nak"ibu membelai pipi Hana,mengusap air mata yang menetes di pipi anaknya.
Ibu membawa masuk Hana kedalam rumahnya.Hana melihat semua yang ada di dalam rumah tidak ada yang berbeda masih sama seperti dia dulu meninggalkan rumah itu.Ia masuk ke dalam kamarnya tatanan didalam kamr pun tak ada yang berubah,Hana fikir Ibunya akan membakar buku-buku komiknya yang di simpannya di dalam lemari kaca,dan akan menurunkan poster-poster yang terpajang di kamarnya,tapi semua itu tidak dilakukan Ibu karena ibu tahu itu semua berharga untuk Hana,oleh karena itu ibu tetap menjaganya seperti yang Hana lakukan.Karena ibu yakin anak gadisnya akan kembali lagi menghuni kamar tersebut.
Flash back
"Nana...sudah ibu bilang berapa kali sama kamu jangan ikuti jejak ayah mu untuk menulis komik"Ibu marah saat melihat Kamar Hana yang berantakan karena banyak kertas bergambar berserakan dimana-mana.
"Tapi Nana bisa menghasilkan uang bu dari membuat komik"
"Bukan masalah uangnya Nana...kamu tahu kan apa yang kamu gambar itu bisa jadi nyata?Ibu takut bakat mu itu di ketahui orang dan disalah gunakan oleh orang jahat"
"Bu Nana sudah dewasa Nana bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar,nggak mungkin Nana menggunakan bakat Nana untuk kejahatan"Hana berdebat dengan ibunya.
"Kalau kamu masih menggambar lebih baik kamu susul ayah mu di luar negeri sana tinggal saja dengannya"
"Tapi bu..."
"Kamu pilih ibu atau ayah mu"bentak Ibu.
"Kenapa aku harus memilih, kaliankan belum bercerai ibu masih di nafkahi ayah walau ayah jauh"
Plak....tangan Ibu melayang di pipi Hana.
Hana memegang pipinya,lalu menatap tajam ibunya.
"Aku tidak akan memilih ayah atau Ibu aku bisa hidup mandiri,akan aku buktikan sama Ibu kalau dengan menggambar aku bisa berhasil dan sukses"Hana ketus.
Hana lalu merapihkan semua barangnya dan pergi dari rumah ibunya,dan kembali ke kota yang membesarkannya,dan yang mempertemukannya kembali dengan Bintang.
flash back off.
...***...