MY IDOl Is MY HUSBAND

MY IDOl Is MY HUSBAND
Bab 52 Pernikahan



Malam itu setelah Bintang sadar,Ayah meminta berbicara pada kedua orang tua Bintang.Ayah membicarakan tentang mempercepat pernikahan mereka berdua,agar mereka segera menikah walau itu harus dilakukan di ruang rawat rumah sakit.


"Tapi Tuan Math...sebaiknya kita tanyakan dulu kepada mereka berdua apa mereka setuju atau tidak melakukan pernikahan di ruang rawat rumah sakit"Kata Mamah Bitha.


"Ya Mamah benar sebaiknya kita tanya mereka dulu"Papah Adam menyetujui pendapat Mamah Bitha.


Mereka masuk kedalam ruangan disana ada Hana dan Bintang juga dr. Akam yang sedang menonton acara tv.Bintang sedang makan di suapi oleh Hana.sungguh adegan yang romantis tapi adegan ini membuat ayah menjadi semakin ingin mempercepat pernikahan mereka.


"Bintang bagaimana keadaan mu nak?"tanya Papah.


"Sudah lebih baik pah,semua karena Hana"Bintang menatap Hana.


Hana tersipu malu.


wah sepertinya ide Tuan Math menikahkan mereka secepatnya adalah ide yang bagus,Hana memberikan pengaruh positif pada Bintang.


Fikir Papah Adam,saat melihat Bintang lebih baik dari saat ia sadarkan diri.


"Bintang...Hana..."Papah Adam mulai bicara lagi.


Bintang dan Hana mendengarkan,begitu pun dr.Akam.


"Maukah pernikahan kalian di percepat?"Papah berhati-hati saat bicara.


"Maksud Papah?"Bintang bingung.


"Maksud Papah maukah kalian secepatnya menikah sekarang juga disini"Papah ragu.


"Hah"Bintang,Hana dan dr. Akam terkejut berbarengan.


"Pah...papah bercanda kan papah lihat keadaan Bintang sekarang pah"dr. Akam protes.


"Papah tahu tapi sekarang ini yang bisa merawat Bintang itu hanya Hana,Bintang merasa nyaman dan tenang bila di sampingnya"


"Tapi pah...".


"Sekarang lihat kondisi adik mu bergerak saja sulit dia pasti membutuhkan seseorang untuk membantunya mengganti pakainnya misalnya,masa kamu mau membiarkan Hana yang belum menjadi istri sahnya melihat tubuh adik mu saat membantunya,itu sama saja tidak baik Akam"Papah menjelaskan pada dr. Akam.


"Iya juga sih...papah ada benarnya,dia tidak mungkin mau bila tubuhnya di sentuh orang lain,terserah Papah lah aku ikut saja"dr. Akam langsung setuju dengan ide Papahnya.


Bintang melihat pada Hana.


"Hana...apa kau mau menikah dengan ku di tempat seperti ini dan dengan kondisi ku yang seperti ini?"Bintang bertanya pada Hana dan Hana hanya mengangguk.


"Apa kamu tidak akan menyesal bila suatu hari tangan dan kaki ku tidak bisa kembali normal seperti dulu bahkan aku tidak bisa bermain bulutangkis lagi?"Bintang bertanya lagi.


"Aku tidak akan menyesal apa pun keadaan mu ku terima kamu apa adanya karena aku sayang kamu"terdengar suara Hana lirih air matanya mulai menetes di ujung matanya.


Mamah Bitha lalu melepas cicin berlian yang ia pakai.


"Gunakan ini sebagai mas kawin kalian"Mamah Bitha memberikan cicin itu ketelapak tangan Bintang.


"Baiklah kita mulai"ayah lalu menjabat tangan Bintang untuk memulai ijab.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan anda saudara Bintang Putra Adam bin Adam Sujaya dengan putri saya yang bernama Hana Biantoro binti Math Biantoro dengan mas kawin sebuah cicin berlian di bayar tunai"Ayah lalu menghentak tangan Bintang untuk mengucapkan kabulnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Hana Biantoro binti Math Biantoro dengan mas kawin sebuah cincin berlian di bayar tunai"dengan lancarnya Bintang mengucapkan kabul pernikahan tanpa rasa gugup dan canggung.


"Bagaimana saksi..."ayah bertanya kepada beberapa orang yang hadir saat di ruangan.


"Sah..sah..sah..."ketiga saksi yaitu dr.Akam dan dua orang perawat yang bertugas di ruangan tersebut menjadi saksi pernikahan mereka.


"Alhamdulilah"semua yang ada di ruangan tersebut mengucapkan alhamdulilah bersama-sama.


Lalu ayah pun membacakan doa-doa dan mempersilahkan Bintang memakaikan cicin pernikahan di jari manis kiri Hana.


Bintang pun memasangkan cincin berlian itu di jari manis Hana kemudian ia mengecup kening Hana.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri secara agama"Mamah terharu melihat hal tersebut hingga menitikan air mata di ujung matanya.


"Selamat ya Bi...nanti biar kaka yang urus agar pernikahan kalian bisa sah secara negara juga"


"Terima kasih ka"Bintang tersenyum.


"Hana tolong jaga dia"dr. Akam berbicara pada Hana.


"Ya...ka..."


"Ya...tante saya akan menjaga dan mendampinginya sepenuh hati".


"Loh kok tante panggil mamah dong kamu kan sudah menjadi istri Bintang sekarang"Mamah protes.


"I...iya mah"Hana malu.


Bintang pun tertawa kecil.


Tiba-tiba Hana teringat ibunya.


"Ayah...apa Ibu sudah tahu hal ini?"tanya Hana.


"Besok ayah akan memberitahunya,dan menyuruhnya datang bersama Aslan"jawab ayah santai.


"Ayah..."Hana menghentikan perkataannya karena ayah menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya.


Ibu bisa pingsan kalau tahu aku menikah disini dengan Bintang.


Keluh Hana dalam hati.


"Kenapa apa Ibu mu tidak setuju dengan hubungan kita?"tanya Bintang saat melihat wajah Hana berubah menjadi bingung.


"Hehe bukan bukan begitu justru ibu belum tahu hubungan aku dengan kamu,yang beliau tahu aku terobsesi dengan mu,dia bisa pingsan kalau tahu kamu sekarang menjadi menantunya"Hana tertunduk dan memainkan jari-jarinya.


Bintang tersenyum melihat itu di gemas dengan tingkah laku istrinya.


...***...


"APA...."Ibu berteriak menerima telpon dari ayah.


"Menikah?kamu menikahkan anak mu disana,kenapa kamu selalu seenaknya begini sih Math..."ibu marah.


"Hei...aku suami mu jangan panggil aku dengan menyebutkan nama ku saja Naila"Ayah membalas ibu.


"Dengan siapa dia menikah,apa seniman gila seperti mu juga"Ibu masih marah-marah.


"Bukan dia menikah dengan idolanya Bintang atlet bulutangkis itu"jawab ayah santai.


"Ap...apa Bi...bi...bintang jangan bercanda Math mana mungkin Math mereka kenal juga tidak"Ibu tidak percaya.


"Betul Naila mereka saling mencintai selama ini,susah lah menjelaskannya"ayah bingung menjelaskannya"mangkanya kamu besok datang kesini biar kamu lihat sendiri menantu mu itu siapa"ayah lalu mematikan saluran telpon.


Ibu bengong.


"Bu...ibu nggak apa-apa?"tanya Aslan yang sedikit khawatir melihat ibunya.


Ibu lalu berjalan membuka kamar Hana ia masuk kedalam kamar Hana dan menatap poster Bintang yang terpajang di kamar itu.Ibu menatap penuh tanya,benarkan orang ini menjadi menantunya.


"Padahal baru beberapa hari kemarin aku bilang pada Hana jangan terobsesi dengan orang ini terus bisa-bisa dia sulit dapat jodoh tapi ternyata jodoh anak ku adalah orang ini"kata ibu sambil menatap poster Bintang.


Aslan yang berdiri didepan kamar Hana melihat Ibunya sedang memandangi poster Bintang.


"As...benarkah semua ini,ayah mu tidak sedang bercanda kan As?"tanya ibu yang masih menatap poster Bintang.


"Betul bu ibu nggak salah dengar dan ayah pun nggak bercanda Aslan jadi saksinya kalau Bintang sangat mencintai Hana"


Ibu menoleh ke arah Aslan.


"Sejak kapan kamu tahu adik mu menjalin hubungan dengan pria ini"Ibu menunjuk poster Bintang.


"Waktu aku cari Hana dikota,aku menemukannya di gor saat ada turnamen disana,dan saat itu sempat terjadi kesalah fahaman Bintang fikir aku pacarnya Nana,tapi saat Nana memperkenalkan kalau aku kakanya Bintang terlihat malu bu hehe kalau ingat itu lucu bu"Aslan tersenyum dan tertawa sendiri.


"Kenapa kamu tidak bilang pada Ibu"ibu kesal dan memukul lengan Aslan.


"Sudah siap-siap besok kita kesana kamu pesan tiket online saja As"ibu berjalan menuju kamarnya.


"Terus paspor Ibu?"tanya Aslan.


"Kan ada kemarinnya kamu buat kan untuk menyusul ayah mu,kata mu takut Nana tidak bisa membawa ayah mu pulang kita yang akan menyusul kesana".


"ooo iya aku lupa,untung aku kemarinnya sudah mempersiapkan hal seperti ini ya bu hehe"


...***...