MY IDOl Is MY HUSBAND

MY IDOl Is MY HUSBAND
Bab 28 Dilema Hati



Tok...tok...tok...suara ketukan pintu membangunkan Hana dari duduknya ia masih mengerjakan komik,dan belum tertidur dilihatnya jam di layar ponselnya ternyata pukul 09.00 malam.


Siapa yang datang malam-malam begini.


Fikirnya.


"Hana...hana...ini aku Dini"kata Dini dari balik pintu.


"Dini mau apa dia datang malam-malam"Gumam Hana sambil membuka kunci rumahnya.


Saat pintu rumah terbuka Dini langsung merangsek masuk kedalam rumah,Hana bingung dengan kelakuan sahabatnya.


"Tutup pintunya Han cepat"


Hana bingung tapi menuruti apa yang di katakan Dini.


"Kamu kenapa?"tanya Hana bingung.


"Aku nginep di rumah mu ya malam ini"Kata Dini yang langsung merebahkan badannya di kasur.


"Ya sudah aku nggak ngelarang,tapi kamu kenapa kok gelisah begitu?"Hana masih bingung dengan tingkah sahabatnya.


"Itu Bapak sama mama ku mau ngejodohin aku sama si Bagas anak juragan daging"


"Hah..."Hana melongo.


"Tuh kan kamu ajah bengong begitu,apa lagi aku"Dini terlihat kesal dengan keputusan orang tuanya.


"Tapi apa kamu nggak coba jalanin ajah dulu Din?"Saran Hana.


"Nggak aku nggak mau"Dini ngotot.


"Apa kamu menyukai orang lain?"


Pertanyaan Hana langsung tepat sasaran,ternyata Dini menyukai orang lain selama ini.


"Ya kamu bilang saja sama Bapak mu kalau ada orang lain yang kamu sukai"


"Masalahnya aku suka sama orang itu tapi aku nggak tau dia suka apa nggak sama aku"Dini mulai merengek.


"Ya...repot juga kalau begitu"gumam Hana.


"Emang siapa sih orangnya itu juga kalau aku boleh tahu"Hana berusaha memancing Dini.


"Itu...dia itu...si..."


Hana menanti jawaban Dini yang malu-malu akan menyebutkan siapa orang yang dia sukai.


"Dia itu...Samudra"Dini berkata malu-malu.


"Sa...mud...ra..."Hana ragu menyebutkan nama itu"Samudra tukang ayam di pasar langganan kita"Hana berteriak saat menyadari siapa orang yang dimaksud Dini.


Dini hanya mengangguk saja.


"Pantesan kalau kamu beli ayam disitu kita bisa dapat lebih banyak komposisinya,hebat kamu Din...aku rasa dia juga suka sama kamu"Hana berusaha membangkitkan kepercayaan hati Dini.


"Masa sih?"Dini masih tersipu malu.


"Iya Din...apa perlu aku selidiki"


Dini hanya terdiam.


"Ya dah kamu nginap saja malam ini disini,aku masih mengerjakan komik nih,kamu istirahat saja dulu ya"


Tapi Dini tiba-tiba membahas masalah Bintang,hingga Hana jadi ingat kejadian tadi siang di gor.


"Gimana hubungan mu sama Bintang?"


Hana terdiam saat Dini menanyakan perihal hubungannya dengan Bintang.


"Han..."Dini tak melanjutkan kata-katanya karena melihat Hana yang langsung fokus dengan ipadnya.


Mata dan tangan Hana memang fokus pada ipad tapi tidak dengan fikirannya dia teringat kejadian tadi siang saat Lucky memintanya mengambil ipadnya yang ia serahkan tadi,saat Hana ingin mengambil ipadnya menuju tempat yang Lucky tunjukan padanya lewat pesan tak tahunya ipadnya sedang dipegang oleh Bintang yang saat itu ada disana.


"Eh...Bi...kamu lihat Lucky?"tanya Hana saat sampai ke tempat yang di tunjukan Lucky.


Ternyata itu adalah area belakang gor,yang tidak di sangka oleh Hana kalau disana juga ada Bintang.


"Oh...Lucky tadi katanya mau ke toilet dan menitipkan ini untuk mu"Bintang menyerahkan ipadnya pada Hana.


"Oh...terima kasih ya"Hana menerima ipad tersebut dan langsung memasukannya kedalam tas ranselnya.


"Aku permisi dulu ya Bi...masih banyak kerjaan" Hana beralasan,dia lalu membalikan badannya dan mulai melangkah,tapi langkahnya terhenti ketika Bintang bertanya sesuatu padanya.


Han menoleh pada Bintang dan tersenyum ragu.


"Maaf Bi...aku tidak berani"


"Kamu tidak berani apa Han?tidak berani mencintai ku?"


Pertanyaan Bintang membuat Hana menjadi serba salah.


"Aku permisi Bi..."Hana langsung berbalik badan dan meninggalkan Bintang sendirian disana.


"Hana...kamu belum menjawab pertanyaan ku"Bintang bertariak karena Hana berlari saat Bintang ingin mengejar Hana Langkahnya terhenti karena Lucky yang sedari tadi bersembunyi langsung keluar dan menarik tangan Bintang.


"Bi...tahan bi...banyak wartawan nanti bisa timbul gosip dan ini tidak bagus untuk kalian berdua"


Perkataan Lucky langsung menghentikan langkah Bintang.


Sementara itu Lucky didalam kamarnya merebahkan dirinya di atas kasur,menatap ponselnya karena sudah berapa kali Clara menelponnya dan mengirim pesan padanya tapi belum sempat ia balas karena kesibukannya setiap hari sebagai seorang wartawan.


Bisa kah kau bertahan bila keadaannya begini terus?waktu ku tak bisa ku habiskan untuk selalu bersama mu kau tau itu kan?bila kau tak sanggup tak apa aku tak akan memaksa mu untuk bisa bersama ku,terima kasih atas semua perhatian dan kebaikan yang kau berikan pada ku.


Lucky pun akhirnya mengirimkan pesan seperti itu pada Clara,walau mungkin itu menyakitkan tapi ia tak ingin memaksakan kehendaknya karena ia mempunyai pengalaman ditinggalkan oleh wanita yang mengejar cintanya tapi mereka akhirnya pergi karena Lucky tak pernah mempunyai waktu untuk bersama mereka.ia takut kejadian itu terulang lagi pada Clara.


Dilihatnya ponselnya Clara tak kunjung membalas,di letakannya ponselnya di meja kerja ya yang ada dikamarnya dan ia pun melamun di jendela kamarnya.


"Ya sudah kuduga ini pasti terjadi tak akan ada yang sanggup untuk bertahan dengan keadaan seperti ini,terima kasih sudah mengisi hari-hari ku akhir-akhir ini"gumamnya dan menatap kelangit dilihatnya ada bayangan Clara yang tersenyum.


ketiga sahabat ini sedang mengalami dilema hatinya masing-masing.


...***...


Keesokan harinya pagi-pagi di area parkir mobil di gor terlihat seorang wanita memakai kaca mata hitam dan memakai topi yang menyatu dengan jaketnya berdiri di samping mobilnya,saat Lucky keluar dari mobilnya bersama rekan kerjanya,dirinya langsung di sergap oleh wanita tersebut.


"Kemari kau"wanita itu langsung menarik tangannya.


Lucky yang mengenal suara tersebut akhirnya mengikutinya,walau rekan kerjanya sempat khawatir tapi Lucky mengangkat tangannya mengisyaratkan dirinya baik-baik saja.


Wanita itu membawa Lucky kedekat mobilnya.


"Ada apa cantik"Kata Lucky seperti biasa.


"Kau bisa sesantai itu?"Clara kesal.


"Lalu aku harus bagaimana?"Lucky masih bersikap santai.


"Apa selama ini kau hanya mempermainkan ku,kau hanya menganggap aku ini lelucon begitu"Clara mulai tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Baiknya kita bicara didalam mobil mu saja,disini banyak wartawan bila mereka melihat mu bisa timbul gosip"


Clara pun membuka pintu mobilnya dan mereka pun berbicara di dalam mobil.


"Maaf bukan maksud ku mempermainkan mu,aku tak pernah mempermainkan mu"kata Lucky


"Bohong...buktinya semalam kau mengirim pesan seperti itu"Clara masih sewot.


"Aku tidak bohong Cla...aku serius aku tak pernah ada niatan untuk mempermainkan mu"


"Lalu maksud pesan mu semalam itu apa!"Clara mulai emosi hingga ia tak bisa menahan air matanya yang membendung di pelupuk matanya.


"Apa kau menyukai ku?benar-benar suka?"tanya Lucky ragu.


"Kenapa kau bertanya seperti itu harusnya aku yang menanyakan hal itu pada mu" Clara masih sewot.


"Kalau aku,aku memang menyukai mu entah sejak kapan tapi aku tak pernah ingin melihat mu menangis lagi,walau aku tahu aku hanya pelarian mu saja tapi rasa sayang ku ini tulus"


"Aku tak pernah menganggap kehadiran mu itu sebagai pelarian ku,entah kenapa aku bisa menyukai mu,rasa itu muncul sendiri bahkan saat aku menyukai Bintang pun aku tak pernah merasa seperti ini".


Emosi terkadang dapat membuat kejujuran terlontar begitu saja.


"Maaf membuat mu menangis,tak pernah aku bermaksud seperti ini,apa kau tak akan jenuh dengan ku yang tak bisa punya banyak waktu untuk mu bila kita bersma nanti?"


"Tapi walau sesibuk apa pun kamu,kamu selalu berusaha menghubungi ku selama ini bagi ku itu sudah seperti menghabiskan waktu bersama"


"Kau yakin?"Lucky bertanya serius.


Clara hanya mengangguk.


"Terima kasih atas pengertiannya,aku serius aku mencintai mu Clara Nadia"Mata Lucky serius menatap mata Clara.


...***...