MY IDOl Is MY HUSBAND

MY IDOl Is MY HUSBAND
Bab 68 Layang-layang



Satu minggu kemudian.


Pagi ini sudah jadwalnya Bintang untuk melakukan terapi psikilogi.Hana pun mempersiapkan semuanya jadwal pertemuan dengan dr. psikiater sudah di atur sejak kemarin,Hana meminta bantuan Lucas dan Nina untuk mengantar mereka ke rumah sakit yang letaknya lumayan jauh dari daerah rumah mereka.tepatnya di kota sebelah kota dimana terdapat hotel yang menjadi saksi bisu tentang kecelakaan Bintang.


Bell pintu berbunyi.


"Sepertinya Lucas dan Nina sudah tiba,ayo sayang kita keluar"ajak Hana merangkul lengan suaminya.


Hana membuka pintu,Lucas dan Nina sudah menanti mereka di depan pintu.


Lucas membantu Bintang masuk kedalam mobil di susul oleh Hana dan Nina duduk di samping kemudi Lucas.


Mobil pun segera berjalan dengan kecepatan sedang.Lucas melewati jalan yang berbeda agar tidak melewati hotel yang membuat Bintang trauma,perjalanan cukup jauh Hana dan Bintang melihat-lihat pemandangan kota tersebut,mereka melihat rumah yang berjajar di pinggir jalan dan toko-toko dan kafe-kafe yang berjajar di sepanjang jalan,sesekali Hana menoel Bintang menunjuk kesebuah toko baju atau kesebuah toko pernak-pernik yang terlihat lucu bahkan Hana sempat menunjuk toko buku yang ada di pinggir jalan.


"Sayang ada toko buku nanti setelah kita pulang dari rumah sakit kita mampir kesana ya"Hana antusias.


"Kamu mau membeli buku?"Bintang bingung.


"Hehe paling dia nyari komik Bi...sama novel fiksi fantasi"Lucas nyeletuk dari depan.


"Apa yang di bilang Lucas itu benar?"Tanya Bintang.


Hana mengangguk senang.


"Ya...ampun segitu cintanya kamu sama komik"Bintang ngambek seolah Hana lebih mencitai komik dari pada dirinya.


"Aku pecinta komik tapi cinta di hati ku hanya untuk kamu seorang suami ku"Hana iseng mencolek hidung suaminya.


Bintang tersenyum.


"Lakukan lah apa pun yang membuat kamu bahagia sayang,aku tidak marah kamu menyukai komik atau membuat komik,itu yang kamu sukai sama seperti aku menyukai bukutangkis"


"Terima kasih sayang...aku sayang kamu"Hana langsung mencium pipi Bintang.dia tak menyadari kedua insan di bangku depan masih jomblo hingga hati mereka berdua berteriak.


Aaaaaa Hana kenapa dia bisa-bisanya seperti itu sih apa dia tidak menyadari keberadaan aku dan Nina.


Hiks Nona anda sangat romantis sekali,begitu mesranya kalian hingga membuat ku iri hiks....


Bintang yang tiba-tiba di cium oleh Hana pun sebenarnya terkejut,karena tidak biasanya istrinya seberani ini apa lagi di depan orang.


"Sayang...kamu akhir-akhir ini sangat berani"Bintang tertawa kecil.


"Ehmmm maaf aku sangking senangnya"Hana malu wajahnya merona.


"Tidak apa-apa sayang,aku senang kok"Kata Bintang.


Dan itu membuat orang yang ada di bangku depan meronta lagi hatinya.


Grrrrr kenapa sih aku setuju membawa mobil mengantarkan mereka,seharusnya aku menyuruh yang lain saja tadi,kedua orang di belakang ini benar-benar tidak mengerti situasi.


keluh Lucas dalam hatinya.


Sedangkan Nina hanya diam,dia berusaha menutup telinganya dengan headset dan menyetel musik agar tak mendengar apa yang di bicarakan oleh penghuni bangku mobil di belakang.


Mobil pun tiba di parkiran rumah sakit,Bintang turun bersama Hana dan berjalan menuju ruang praktek dokter Psikiater,sampai di depan ruangan Hana pun di hampiri oleh asisten dokter dia sudah mengetahui kalau Hana dan Bintang sudah membuat janji,mereka pun di persilahkan masuk.


Bintang di persilahkan duduk di sofa yang menghadap bangku dokter,sedangkan Hana duduk di bangku penunggu yang telah di sediakan di dalam ruangan tersebut.


Dokter pun mengajak Bintang berbincang-bincang dahulu sebelum dia memulai terapi dan Bintang pun di minta mengisi formulir tentang riwayat penyakit agar dokter dapat mempelajari keadaan pasien.


Setelah selesai mengisi formulir,Bintang pun memulai sesi terapi,dokter memulai dengan pertanyaan yang tidak berhubungan dengan masalah kecelakaan.


Lalu di pertengahan sesi dokter mulai sedikit menanyakan pertanyaan tempat dimana Bintang mengalami kecelakaan.Bintang mulai gemetar,Hana mulai khawatir tapi dokter mengangkat tangannya mengisyaratkan tenang.


"Apakah ada kejadian yang baik disana selain kecelakaan itu?"dokter perlahan menanyakan hal tersebut karena melihat Bintang yang sudah terlihat tidak nyaman.


"Ada...ada dok"Bintang mulai sedikit tenang.


"Saat itu saya melihat istri saya dia berdandan sangat cantik dok,hingga saya hampir tak mengenalinya,bila dia tidak memanggil nama saya mungkin saya tidak mengenalinya saat itu dok"mata Bintang berbinar mengingat kejadian saat di area parkir saat dia dan Hana bertemu disana.


"Ya...itu hal yang bagus Tuan ingatlah kejadian manis itu,bila anda merasa takut ingatlah kejadian manis bersama istri anda disana"dokter memberikan suntikan emosi yang baik pada Bintang.


Hana lega melihat wajah suaminya berubah dari ketakutan menjadi wajah senang karena mengingat kejadian di area parkir saat itu.


Padahal itu kejadian memalukan dan gila menurut ku,karena aku mengejar-ngejarnya sampai tidak memakai sepatu,tapi syukurlah itu bisa membantu dia melupakan traumanya walau baru sedikit.


Fikir Hana saat mengingat kejadian itu.


Sudah 30 menit berlalu sesi terapi kali ini di akhiri dan minggu depan Bintang akan datang untuk melakukan terapi lagi,agar dia bisa melawan rasa takutnya yang membuatnya menjadi trauma.


Hana membatu Bintang berjalan,ia memeluk lengan suaminya,dokter dan asistennya merasa terenyuh melihat ke romantisan mereka berdua.


"Istinya sangat menyanginya"kata dokter.


"Ya dok anda benar"kata asistennya.


"Sayang...apa kamu lelah?"tanya Hana.


"Sedikit kenapa kamu mau membeli komik tadi di toko buku itu beli saja aku tak akan melarang mu".


"Bukan begitu aku lihat kamu lelah,tepatnya lelah fikiran sayang,bagaimana kalau kita refresing ke tempat yang lain,jangan ke toko buku itu bisa membosan kan untuk mu"


"Baiklah kamu ingin kita kemana?"tanya Bintang penasaran.


"Kita ke pantai saja sayang,kita main layangan...gimana kamu setuju nggak?"tanya Hana semangat.


"Boleh juga sayang seumur hidup aku belum pernah bermain layangan" Bintang antusiuas.


"Nanti aku ajari"Hana semangat.


"Hehe dari kecil kamu memang senang bermain layangan ya,hingga kaki ku terluka terkena benang layangan mu"Bintang mengingat saat pertama bertemu Hana.


"Kamu masih ingat hal itu?"Hana terkejut Bintang masih mengingat kenangan masa kecil mereka.


Bintang tersenyum.


Mereka berjalan sampai pintu utama rumah sakit,Lucas lalu menjemput mereka di depan pintu rumah sakit,Bintang masuk kedalam mobil lebih dulu kemudian disusul Hana.


Hana menutup pintu mobil.


"Lu...kita kepantai ya...suami ku butuh refresing karena habis terapi tadi"Hana meminta Lucas mampir dulu ke pantai.


"Oke...sekalian kamu lihat perkembangan resto geral disana"saran Lucas.


"Baiklah...tapi aku ingin bermain layang-layang dulu dengan suami ku urusan resto aku serahkan pada mu saja hehehe"Hana tidak mau ambil pusing urusan restorannya,yang terpenting sekarang ini adalah menghibur suaminya.


Lucas yang mendengar hal itu hanya menggelangkan kepalanya saja.


Mobil sampai di pantai,Lucas memarkirkan mobil di depan restoran geral,geral yang mengetahui kedatangan Lucas dan Hana langsung keluar dari dalam restoran,tapi yang dintemui geral hanyalah Lucas sedangkan Hana sudah berlari ke sebuah toko yang menjual layang-layang.


Geral terlihat bingung.


"Tidak usah bingung Nona Hana hanya ingin menghibur suaminya,dia sedang tidak memikirkan restoran dulu,mungkin meeting yang akan datang dia juga tidak akan datang seperti dulu-dulu menyerahkan semuanya pada ku"Lucas memberitahu Geral.


Lucas pun duduk di bangku yang ada di luar resto sambil melihat kedua pasangan itu bermain layangan.


Hana menerbangakan layangan berbentuk kalilawar berwarna merah,Bintang terlihat takjub melihat istrinya menerbangkan layangan.yang kini sudah mengudara di bawah awan.


"Mereka terlihat bahagia sekali,aku berdoa semoga kebahagiaan ini adalah selamanya"doa Lucas.


"Mungkin ini semua adalah hikmah dari kecelakaan itu ya...mereka bisa sering bersama melakukan hal yang akan sulit di lakukan bila Bintang masih sering bertanding"Fikir Lucas.


...***...