
Hampir setiap hari Hana disibukan dengan menggambar komik.hari ini dia memilih menggambar di gor bulutangkis,rencananya dia akan menggambar sekalian melihat Bintang bertanding,tapi apa yang terjadi Hana asik menggambar di ipad nya hingga ia lupa dengan pertandingan Bintang ia baru sadar dirinya ada di gor saat riuh suara sporter meneriakan nama Bintang berusaha menyamangati.
"Ya ampun aku ke asikan menggambar smpai lupa aku mau nonton Bintang bertanding"Hana langsung memasukan ipadnya ke tas ranselnya dan berlari ke dalam gor ia berdiri di samping lapangan di lihatnya papan skor Bintang sudah tertinggal jauh setengah angka dari lawannya.
Mulut Hana yang melihat itu tidak bisa di kendalikan ia langsung berteriak dari pinggir lapangan.
"Ayo....Bi...kamu bisa"teriak Hana dari sisi pojok lapangan.
Bintang mendengar suara Hana suara yang ia tunggu dari kemarin,entah kenapa diantara riuhnya suara sporter yang ada suara Hana jelas terdengar di telinganya.
Tapi karena Hana berteriak di sisi lapangan dia pun diaman kan oleh petugas keamanan.
"Fokus Bi...Fokus..."Gumam Hana yang terus melihat ke arena padahal tubuhnya di paksa untuk keluar dari sisi arena oleh petugas keamanan.
Lucky yang melihat Hana di paksa meninggalkan sisi lapangan oleh petugas keamanan hanya menggelengkan kepalanya,Lucky tak bisa membantu Hana karena dirinya sedang sibuk meliput pertandingan Bintang.
"Ya...allah berikan lah Bintang tenaga dan energi yang kuat agar ia bisa menghadapi lawannya dengan baik"Hana berdoa dalam hatinya.
Pertandingan pun berjalan dengan sengit dan ketat hingga Bintang dapat menyusul angka demi angka dan menyamakan poin.
"Terus Bi...terus kejar terus fokus Bi..fokus"Hana masih bergumam di sisi pojok lapangan yang di anggap aman oleh petugas keamanan karena Hana terlihat memakai id wartawan di lehernya jadi petugas hanya memintanya berada di area yang sudah di sediakan jangan melewati area yang sudah diberikan batasnya.patugas memberikan peringatan pada Hana dan ia pun mengerti dan meminta maaf karena sudah melewati batas area yang sudah ditentukan.
Dan akhirnya pertandingan pun dapat di menangkan Bintang dalam tiga set dengan angka yang sangat ketat.
Selesai bertanding saat di ruangan para atlet mata Bintang beredar mencari keberadaan Hana.dan ia terperanjat karena Hana menegurnya dari arah belakang.
"Selamat ya...Bi..."kata Hana di belakang Bintang.
Bintang yang terperanjat mengelus dadanya karena kaget.
"Kamu ngagetin ajah"Bintang masih mengelus dadanya.
"Oh...kamu kaget ya maaf ya"Hana tersenyum.
Saat melihat Hana tersenyum Bintang terpesona denga senyum tersebut dia melihat ada cahaya berkilau di sekeliling tubuh Hana.
"Kamu tadi dimana aku tidak melihat mu dimana-mana saat di lapangan kamu teriak dari mana tadi"Bintang bertanya.
"Hehehe itu aku..."
"Dia di amanin petugas keamanan karena berteriak di samping lapangan"Lucky tiba-tiba langsung memotong perkataan Hana.
Bisa ya dia ngebedain teriakan Hana di suara riuhnya suporter yang berisik banget tadi...ckckck apakah itu yang dinamakan cinta.
Fikir Lucky heran.
"Hah..."Bintang terkejut.
"Hehehe sudah...sudah...itu semua sudah berlalu"Hana berusaha menenangkan Bintang.
"Sekarang sebaiknya kamu istirahat besok kan masih harus bertanding"saran Hana.
Saat Hana menyarankan Bintang kembali keruangan atlet untuk beristirahat tiba-tiba sekelompok remaja perempuan berjumlah empat orang menghampirinya dan meminta foto dan tanda tangan,Hana yang melihat itu berfikir ini adalah kesempatannya pergi dari Bintang sebelum Bintang mengintrogasinya.
Tapi saat ia melangkah tangannya ada yang menarik,Hana terkejut ia langsung menoleh ke arah tangan yang memagangnya.
"Mau kemana kamu"Bintang langsung memegang tangan Hana ketika melihatnya ingin pergi dari hadapannya.
"Ih...Ka Bintang ini pacar kaka ya"kata salah satu remaja permpuan itu.
"Ih...kalian cocok banget ih...kami jadi iri"kata mereka berempat mereka berbarengan.
Bintang dan Hana yang mendengar itu langsung malu sendiri.
"Bi...aku pamit dulu ya mau kasih laporan sama Lucky"Hana beralasan.
Tapi Bintang tak kunjung melepaskan tangannya.
"Bi...bi...malu bi...lepasin tangan mu banyak wartawan bi...nanti bisa timbul gosip bi"Hana cemas sendirian.
"Ya sudah ikut aku"Bintang menarik tangan Hana menuju ruang atlet.
Walau banyak atlet yang menunggu disana tapi Bintang tak malu untuk tetap menggandeng tangan Hana disana.
"Kamu...ngapain bawa aku kesini?"Hana bingung.
"Aku ingin ngobrol sebentar sama kamu"
"Kemarin gimana hasil cek up mu"Bintang bertanya tetang luka di kepala Hana.
Oh...dia mau menanyakan itu,tapi kenapa harus memegang tangan ku terus sih...
"Oh...itu sudah tidak apa-apa,aku sudah lepas perban kemarin"Hana memegangi kepalanya yang memakai topi rajutan.
"Masih sakit?"Bintang terlihat sangat perhatian.
"Tidak"Hana menunduk,ia tak mau Bintang melihat wajah malu-malunya.
"Alhamdulilah kalau bagitu aku senang mendengarnya"
Aku ingin membelai kepalanya tapi takut menyakiti lukanya yang belum sembuh benar.
Batin Bintang
"Iya...Bi...aku permisi dulu ya masih ada kerjaan yang harus aku laporkan pada Lucky"Hana langsung melepaskan tangannya yang masih di pegang Bintang dan segera berlari keluar ruangan menuju lapangan.
Jantungnya berdegub kencang tak karuan bukan karena ia habis berlari tapi karena perhatian Bintang padanya.
Apaan sih ini kenapa ini jantung nggak karuan gini denyutnya,perasaan gue nggak habis makan atau minum sesuatu hingga buat jantung gue nggak karuan begini.
"Woi..."Teguran Lucky membuat jantung Hana malah ingin loncat dari dadanya.
"Astagfirullah,elu ngagetin ajah"Hana memukul lengan Lucky.
"Ku kenapa pucet begitu?"Lucky bertanya dan menyinggulkan senyum kecil disisi birbirnya.
"Masa sih"Hana panik sendiri memegangi wajahnya sendiri.
"Hahaha kayanya virus cinta sudah menyerang hati lu nih"ledek Lucky.
"Apaan sih"Hana kesal dan memukul keras lengan Lucky.
"Hahaha sakit..sakit"Lucky tertawa walau tangannya kesakitan di pukuli Hana.
Lucky langsung merangkul pundak Hana dan berbisik hal konyol di telinga Hana.
"Udah Chi lu jadian ajah sama Bintang nanti gue sama Clara"bisiknya.
"Udah gila lu ya!"Hana langsung melepaskan rangkulan Lucky dan pergi meninggalkannya.
"Woi...mana hasil kerjaan lu belum gue terima hari ini"teriak Lucky.
Hana menghampirinya dan menyerahkan ipadnya dan pada Lucky tanpa berbicara lagi dan langsung pergi dari hadapan Lucky.
Lucky tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya.
...***...
"Apa dia pacar mu?"tanya seorang atlet luar negri yang menjadi sahabat Bintang.
Bintang hanya tersipu malu saat sahabatnya bertanya seperti itu.
"Wah...wah...apa kau serius dengannya?"
"Aku serius dan selalu serius"Bintang menjawab tegas tapi bibirnya tersenyum ramah.
"Jadi kapan kalian menikah?"tanya sahabatnya lagi.
"Doakan saja secepatnya"Bintang tersenyum lagi.
Dan semoga secepatnya juga aku bisa menyatakan perasaan ku pada mu Hana.
Sementara itu Hana duduk melamun menatap awan dilangit,dia berfikir kenapa perasaannya menjadi seperti ini pada Bintang.
Hana...hana berani sekali kamu memercikan api cinta di hati mu untuknya,bersiaplah sakit dan terbakar kobaran api itu,bila kau tak ingin sakit hati maka padam kan lah api yang kau percikan ini.
Batinnya sambil menatap awan di langit
Hana entah kenapa dirinya tak pernah berani menganggal perhatia Bintang lebih dari idolanya,Hana pun tak pernah menyadari bahwa sebenarnya Bintang sangat mencintainya,karena dia tak ingin kecewa oleh karena itu dia tak pernah berani mengambil kesimpulan sendiri setiap Bintang memberikan perhatian padanya.
...***...