
Bintang yang tahu Hana menginap di hotel yang sama dengannya membuatnya memikirkannya terus,sebenarnya dia ingin sekali menghampiri kamar Hana tapi,dia berfikir takut ada skandal nantinya bila dirinya nekat melakukan itu.
"Nggak jangan Bi...tahan jangan cari masalah ini masih dalam pertandingan"Bintang bicara sendirian.
"Kamu kenapa bicara sendirian begitu?"Maxi bingung melihat Bintang yang bicara sendirian di atas kasurnya.
"Ah...hehe nggak apa-apa"Bintang cengar-cengir.
"Baru ketemu tadi udah kangen ajah"ledek Maxi.
"Apaan sih kamu Max"Bintang mencoba menyembunyikan wajah malunya dengan memalingkan wajahnya kearah lain.
"Hahaha"Maxi hanya tertawa.
Mereka pun akhirnya tidur dengan fikiran masing-masing.
Ke esokan paginya,pintu kamar Hana ada yang mengetuk,di bukanya pintu tersebut,ternyata itu Lucas dan Nina yang mengantar barang-barang Hana.Hana pun mempersilahkan mereka berdua masuk kedalam kamarnya.
"Terima kasih maaf sudah merepotkan kalian"Hana mengambil koper kecil yang di bawa Nina.
"Kapan kau akan ke rumah ayah mu?"tanya Lucas saat masuk ke dalam kamar Hana.
"Nanti aku beritahu,aku juga nggak akan lama-lama berada disini".
"Oke baiklah kamu sudah sarapan?kita sarapan yuk"ajak Lucas.
"Oke"mereka pun langsung berjalan menuju restoran hotel.
Di restoran mereka bertemu Lucky.
"Hai...Luc..."Sapa Lucas.
"Eh...kalian disini lagi?"Lucky bingung.
"Ya...gue nginep disini mau lihat pertandingan"Hana nyeletuk.
"Ya...ampun...segitu fanatik apa sangking cintanya elu sama dia sampe kemana pun dia tanding di ikutin"ledek Lucky.
"Apaan sih lu gue kebeneran ajah pas disini ya udah sekalian ajah kan nonton"Hana mengelak.
Mereka berempat pun duduk di meja yang sama.sarapan bersama mereka hanya memakan roti lapis dan meminum teh manis.
Tak lama rombongan atlet pun datang ke restoran untuk sarapan pagi,Bintang melirik meja tempat ke empat orang itu berkumpul.
Bintang memperhatikan Lucas dan Lucky yang duduk bersebelahan.
"Mereka mirip sekali sulit membedakannya"Gumam Bintang saat memperhatikan Lucas dan Lucky.
Bintang pun sarapan dengan timnya,selesai sarapan Bintang menghampiri meja mereka berempat.
"Hei...Bi...lu udah sarapan?"tanya Lucky.
Hmmm ini pasti Lucky (kata Bintang dalam hatinya).
"Sudah tadi bareng sama tim"
Nina tiba-tiba berdiri dan mempersilahkan Bintang duduk di samping Hana.
"Tuan silahkan duduk"Nina menggeser bangku,lalu berpindah kesamping Lucas.
"Ah...iya terima kasih"Bintang langsung duduk di samping Hana.
Hana masih memakan roti lapisnya,ia tersenyum pada Bintang.
"Hana maaf"Bintang langsung mengambil tisu dan mengusap saus yang menempel di ujung bibir Hana.
"Eh..."Hana keki.
Dan mereka bertiga dengan fikiran masing-masing.
"Huh udah kaya anak kecil ajah makan blepotan"keluh Lucky.
sementara Lucas menyembunyikan senyumnya di balik secangkir teh yang di seruputnya.
"Gue kan makannya langsung di caplok nggak sok imut pake garpu dan pisau kaya putri kecantikan wajarlah kalo sausnya belepotan"Hana protes pada Lucky.
"Sudah...sudah lanjutkan makannya dan habiskan makanan mu,bukankah kamu bilang makanan itu berkah jadi jangan marah-marah sambil makan"Bintang berusaha menenangkan Hana.
"Eh...iya aku makan ya"Hana tersipu malu lalu memakan makanannya lagi.
"Hehe elu bisa ajah Bi ngejinakin dia"ledek Lucky.
"Lucky...."Hana menahan kesal mengepalkan tangannya
Bintang yang mengetahui hal itu langsung menyuapi roti kemulut Hana.
"Ayo...habiskan makanan mu"menyodorkan roti ke depan mulut Hana.
Aduh Bintang jangan begini sih lihat ketiga orang ini mereka menahan tawa untuk mentertawakan tingkah mu ini. (keluh Hana dalam hati).
Hana pun menghabiskan sarapan paginya setelah di temani oleh Bintang,Lucas,Lucky dan Nina pamit kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.Bintang pun pamit kembali ke timnya dan bersiap pergi menuju gedung oleh raga untuk bertanding.
Hana pun bersiap untuk pergi ke gedung olahraga,ia menyewa taxi untuk mengantarnya ke tempat yang ia tuju.
...***...
Di arena,Hana begitu semangatnya menjadi suporter untuk Bintang dan negaranya ia terus meneriaki nama negaranya dan nama Bintang saat Bintang bertanding.Hana tidak sadar kalau seorang atlet tuan rumah memperhatikan gaya heroiknya.
"Ayoooo Bi...ayo....kamu bisa Bintang...Bintang...Bintang....teriak Hana dari tribun penonton penuh semangat,apa lagi bila melihat score Bintang tertinggal terikannya lebih bersemangat.
Semangat sekali gadis kecil itu,semangat yang di teriakannya seolah menjadi energi tambahan untuk Bintang.
Hana yang dengan semangat menjadi suporter di tribun menjadi pematik semangat suporter lainnya yang tadinya tidak mendukung Bintang menjadi ikut mendukung Bintang.
Hal gila apa lagi yang dilakukan teman gue ini,dia bisa membawa orang kesuasana yang sama dengan dia,orang-orang yang tadi diam saja jadi ikut-ikutan teriak mensuport Bintang,kegilaan lu emang nggak ada duanya Hana...hana...(Lucky salut didalam hatiya).
Pertandingan berakhir Bintang menang dengan mudah dalam dua set langsung.Hana berjingkrak kegirangan melihat kemenangan Bintang.Hana turun dari tribun penonton dan menghampiri Bintang di tempat atlet jumpa fans.
Hana menunggu dengan sabar saat Bintang di wawancari beberapa media disana.tapi ia tak menyadari bila ada atlet lain yang sedari tadi memperhatikannya.
Hana mendekat pada Bintang yang telah selesai di wawancara.Bintang tersenyum saat melihat Hana ia tahu kalau sedari tadi Hana meneriaki nama dirinya.
Bintang meraih tangan Hana.
"Terima kasih karena selalu mendukung ku".
Hana tersenyum.
"Aku akan selalu mendukung mu dimana pun kamu bertanding walau tubuh ku tidak ada di tribun penonton tapi doa ku selalu mengiringi langkah mu"
"Terima kasih calon istri ku"Bintang memegang tangan Hana dan mendekap tangan itu didadanya.
"Ehmmm" Maxi tiba-tiba berdehem melihat adegan romantis itu.Hingga membubarkan adegan itu.
"Maaf ganggu"Maxi mendekat pada Bintang dan berbisik di telinga Bintang.
"Si bule dari tadi ngeliatin Hana terus".
Bintang memasang wajah tak percaya,seolah matanya berkata masa sih,dan Maxi hanya menggangguk pelan menandakan iya aku tak bohong.
Bintang melihat ke arah atlet bule itu yang semalam menghampiri Hana tapi di cuekin oleh Hana.Bintang tak menghiraukan atlet tersebut dia akhirnya menarik tangan Hana dan membawa Hana ke tempat lain.Maxi menatap tidak suka ke arah atlet bule yang terus melihat Hana.
Sepertinya mereka saling mencintai,tapi kenapa aku jadi semakin menginkan wanita itu.
Saat melihat Hana di tribun tadi dan saat melihat Hana bersama Bintang bukannya hatinya mundur tapi malah semakin tertantang untuk memiliki Hana.
Wanita sepertinya yang ku mau,wanita dengan penuh semangat bisa membangkitkan semangat bertanding dalam jiwa ku.
...***...