
Shane mendekat dan membawa Stella kedalam pelukannya, dan itu membuat tangisnya semakin keras. Tak ada pembicaraan di antara mereka. Shane hanya mendengarkan suara tangis Stella dan menepuk-nepuk punggungnya. Sampai akhirnya Shane memegang dagu Stella agar melihat ke arahnya.
"Tidak, jangan liat aku yang seperti ini." Tolak Stella. Tapi Shane terus saja memegang dagunya erat hingga Stella pas berada di depan wajahnya.
"Jangan membuat hidupmu susah karena orang yang tidak penting seperti bajingan itu. Kau berhak bahagia. Kau berhak memilih hidupmu untuk menjadi lebih baik. Berhentilah menangis." ucap Shane tegas. Stella tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih." Stella hanya mengisyaratkan bibirnya saja. Dan Shane sedikit tergoda melihatnya.
Hampir saja Shane mencium bibirnya. Entah kenapa bibir itu seperti memanggil nalurinya sebagai seorang pria. Ya dia pria normal, yang jika di beri makanan seperti Stella jelas tidak akan menolak. Tapi dia masih bisa menahannya karena logikanya yang bermain.
"Aku kembali dulu, istirahatlah." Shane mengacak rambut lurus Stella dan Stella tersenyum.
"Apa aku sudah gila? Hampir saja aku menciumnya. Biasanya otakku berfungsi." batin Shane.
***
Tak terasa Stella sudah seminggu di Canada dan kakinya sudah kembali seperti sedia kala. Hubungannya bersama Shane juga masih baik. Stella selalu berhasil membuat Shane tersenyum dengan tingkah dan perkataannya yang absurd dan terlihat konyol itu. Dan itu yang membuat Shane nyaman dekat dengan Stella.
Karena kakinya sudah sembuh dia memutuskan untuk pulang ke Swiss. Dia sudah menyiapkan tiket kepulangannya dan akan berangkat pukul 6 sore. Dia belum memberitahukan Shane tentang rencananya ini. Karena Shane seharian sibuk. Sejak pagi dia sudah berangkat ke kantor, dan sarapan untuk Stella saja hanya dia letakkan di meja. Padahal biasanya dia akan ikut sarapan bersama Stella. Tapi tidak kali ini.
"Maaf aku baru mengabarimu, Hari ini aku akan pulang, sekitar pukul 6 sore pesawatku akan berangkat. Terima kasih karena telah menjagaku selama di Canada. Aku pasti akan merindukanmu. Salam manis dari Stella untuk tuan handsome ku. Muachh." itulah isi pesan Stella pada Shane.
Tak ada balasan dari Shane hingga Stella akan berangkat menuju Bandara. Ada kekecewaan karena Shane tidak ada bersamanya saat dirinya akan kembali. Mungkin semalam adalah pertemuan terakhir mereka pikirnya. Selama bersama Shane, Stella bisa melupakan Alfred dan sedikit demi sedikit lukanya bisa terobati. Meski Shane terus saja memasang wajah cuek di hadapannya.
Shane yang baru saja menyelesaikan meeting membuka ponselnya yang sudah banyak sekali pesan. Dan ada pesan dari Stella yang langsung dia buka. Hanya membaca notif Stella di ponselnya saja moodnya sudah kembali. Dan dia terkejut saat Stella berpamitan pulang padanya.
"OH SHIIITT.." umpatnya keras dan mengngagetkan Edy.
"Baik tuan." dan Edy langsung menelpon parkir vallet agar membawa mobil Shane ke lobby.
"Kau di mana?" ucapnya dan sambil berlari menuju lift.
"Aku sudah di bandara tuan handsome. Kau sibuk sekali yah seharian ini. By the way, thank you for all. Aku akan naik pesawat sekarang. Selamat tinggal tuan handsome." ucapnya dan mematikan panggilan Shane.
"SHIIITTTT." teriaknya keras di dalam lift.
"Kapan kita akan ke Swiss Edy?" Dia berbicara sambil mengirim pesan pada Stella.
"Dua hari lagi tuan." Jawab Edy yang melihat jadwal Shane di ponselnya.
"Majukan, kita akan berangkat besok. Dan pastikan kau tau tempat tinggal Stella." Dia akan menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar besok dia bisa berangkat menyusul Stella ke Swiss.
"Baik tuan." Edy langsung menghubungi anak buahnya yang bekerja di Swiss untuk menyiapkan Kedatangan bossnya.
"Aku akan segera menyusulmu." pesan Shane pada Stella.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK, TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤
Jangan lupa follow ig othor ya ka.
IG_SHAKILABLUE