
Keesokan harinya El kembali mual dan membuang semua isi perutnya. Karena sudah lemas El terduduk di lantai. Dan menghapus keringat dingin di keningnya. Jake terbangun dan El sudah tidak terlihat di kamarnya. Jake bangun dan mencari di kamar mandi. Jake melihat istrinya terduduk lemah dan terlihat pucat.
“Honey are you okay?” tanya Jake khawatir dan mengelus pelan rambut El.
“Kalau gitu kita tunda saja kepulangan kita besok.” Ucap Jake dan membawa istrinya ke tempat tidur.
“No Jake, Aku rindu mommy dan Louise. Aku ingin tetap pulang sore nanti.” Ucap El lemah.
“Kalau begitu kita ke dokter sekarang.” Perintah Jake dan di jawab anggukan oleh El.
Jake segera mandi dan menyiapkan pakaian ganti untuk El. Sebelum berangkat Jake membawa sandwich untuk mengisi perut El yang kosong. El menolaknya namun Jake terus memaksa El untuk makan agar tidak kosong perutnya.
Tak lama mereka berangkat ke rumah sakit dan langsung menemui dokter Obgyn.
"Bagaimana kondisi istri dan anak-anak saya dok?" tanya Jake.
"Semuanya sehat tuan, bayi-bayinya juga sehat. Hal seperti ini sangat wajar dialami pada ibu hamil di semester awalnya. Saya akan resepkan vitamin penguat kandungan untuk nona." ucap dokter.
"Terima kasih dok." ucap Jake dengan senyumnya.
Siang harinya El terbangun dan tampak lebih segar. Dia melihat Jake sedang sibuk dengan ponselnya. El diam saja dan tidak ingin mengganggu suaminya. Dia pandangi wajah tampan Jake, yang herannya tidak ada celah sama sekali untuk tidak berkata sempurna untuk ketampanan suaminya itu.
Jake masih belum menyadari jika El dari tadi memperhatikan dirinya. Saat dia menerima telpon, Jake melirik ke arah El, dan El memejamkan matanya pura-pura tidur. Entah siapa yang menghubunginya itu.
"Hmm, Jangan lupa besok datang tepat waktu. Dan besok aku siap untuk melempar bunga pengantin untukmu." ucap Jake dengan senyum smriknya.
Deg..
"Apakah Jake mempunyai wanita lain? Jika tidak siapa yang akan menikah?" batin El.
Mendengar ucapan Jake di telpon tadi membuat hati El sakit. Dia yang sekarang lebih sensitif. Dan seharian itu sukses membuat dia dalam suasana hati yang buruk. Dia benar-benar memikirkan kata-kata Jake tadi. Saat ini hatinya sedang menangis.
Sepanjang perjalanan pulang Jake bingung dengan sikap El yang tidak bicara seperti biasanya. Sepertinya Elnya masih merasa tubuhnya lemah. Meski bingung Jake tetap mencoba mengerti tentang kondisi El. Jake hanya merangkul El dan sesekali mencium tangannya.
Mereka sampai di manssion dini hari. El yang tertidur di mobil di bawa Jake dalam gendongannya dan menidurkannya pelan. Lalu dirinya membersihkan diri di kamar mandi kemudian bergabung dengan El untuk tidur. Jake mengecup bibir El dan memeluk El dari belakang. Dan akhirnya mereka tertidur bersama.
Kesokan harinya El terbangun dan tidak menemukan Jake di kamarnya. El yang masih melakukan aktivitas barunya tentu saja langsung ke kamar mandi untuk membuang semua isi perutnya. Lalu dia mulai menangis memikirkan nasib pernikahannya dengan Jake. Apa yang harus dia lakukan? Sedangkan saat ini dia sedang mengandung buah hati mereka. Banyak sekali pikiran-pikiran yang ada di otaknya saat ini.