My enemy My husband

My enemy My husband
S2 Ancaman



Bukannya itu Om kean, siapa wanita itu?


Kalan berjalan mendekat dan duduk tak jauh dari Kean untuk memastikan bahwa itu benar-benar Kean. Ia terus memperhatikan Kean sambil menebak-nebak siapa wanita yang sedang menangis dihadapan Kean, Sampai pada akhirnya pandangan keduanya bertemu.


" Sial... " umpat Kean dalam hati saat ia melihat Kalan yang duduk tak jauh dari tempatnya berada. Kenapa dunia ini sempit sekali Tuhan. batin Kean. Kenapa harus bertemu di saat seperti ini, apalagi Kalan lah yang bertemu dengannya. Sudah pasti terancam posisinya saat ini. Ingin Kean lari sekarang juga tapi ia tak mungkin menghindar. Karena Kalan jelas melihatnya bersama dengan wanita lain, kalau ia lari sudah dipastikan Kalan akan curiga dan malah berpikir bahwa ia bersalah.


Setelah sempat bertatapan dengan Kalan, Kean langsung mengalihkan pandangannya kepada Karin. " Pulang lah, Rin. Nanti aku akan menghubungimu lagi, kita bicarakan lagi nanti. Aku masih banyak urusan. " Kean terpaksa bicara begitu karena yang ia inginkan saat ini adalah Karin segera pergi agar Kalan tak berpikir yang macam-macam.


Menjijikan sekali sebenarnya saat ia bilang akan menghubungi Karin lagi, niat saja ia tak punya menghubungi sang mantan, yang ia ingin malah mereka tak pernah saling terhubung lagi.


" Janji akan menghubungiku atau kau tau bukan apa yang akan aku lakukan?" ancam Karin.


Kean hanya berpura-pura tersenyum sambil mengangguk. Setelah memastikan Karin benar-benar pergi, Kean menghampiri Kalan.


" Sedang apa kau ada di sini bocah? " Kean menghampiri Kalan dan duduk dihadapannya saat ini .


" Aku yang harus bertanya, siapa wanita tadi? " tanya Kalan dengan tatapan tajam seolah-olah tengah memergokki pacarnya berselingkuh.


" Bukan siapa-siapa hanya temanku yang sedang ada masalah, aku hanya mendengarnya bercerita." Kean terpaksa berbohong lagi, ia tak ingin Kalan mengadu pada Kyara nantinya. Ketakutannya semakin berkali lipat sekarang, sungguh Kean benar-benar takut kehilangan Kyara karena hal ini.


" Benarkah? Sepertinya kelihatannya tidak begitu, lebih seperti kekasih yang sedang memutuskan pacarnya. " ketus Kalan.


Sungguh sangat tajam insting Kalan, pikir Kean. Tapi Kean berusaha bersikap santai agar dapat meyakinkan Kean.


" Aku memang tak berbohong Kalan, wanita tadi memang hanya sebatas temanku.


" Untuk saat ini aku mencoba percaya pada Om, tapi ingat aku tetap akan mengawasi, Om. Kalau terbukti Om berbohong dan menyakiti hati Kyara aku tak akan tinggal diam, aku akan merebut Kyara dari Om. " Sudah cukup Kalan menahan perasaannya selama ini, peduli setan dengan Dean. untuknya itu urusan nanti yang terpenting sekarang adalah Kyara, pikir Kalan.


Baru kali ini ada bocah SMA mengancamnya, ingin sekali ia tenggelamkan bocah kurang ajar ini ke dasar laut, pikir Kean.


" Kamu belum menjawab pertanyaan ku, untuk apa kamu berada di sini sendirian? kau ingin berkencan? menunggu seseorang? " tanya Kean penasaran.


" Ini cafe milik papa ku. " jawab Kalan dengan bangganya. Cafe yang papa nya rintis sejak masih kuliah kini sudah sangat berkembang pesat, Papa Brian menjadi pengusaha cafe dan resto yang kini memiliki cabang diberbagai kota.


" Aku hanya ingin berkencan dengan kekasih Om, dia adalah orang yang aku tunggu. " ucap Kalan tanpa rasa takut.


Kean tak sesabar itu, kesabarannya yang setipis tisue sudah hampir habis, daripada ia melayangkan bogem mentah pada seorang bocah yang dengan terang-terangan mengejar calon istrinya lebih baik ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kalan begitu saja.


Sesampainya di apartemen ia langsung menghubungi christian untuk segera menemuinya, kepala Kean berdenyut sangat kencang saat ini. Semua terjadi terus menerus mulai dari ancaman Karin, Ancaman Kean,besok-besok pasti akan ada orang lain lagi yang tau, karena bangkai yang ia sembunyikan lama kelamaan pasti akan tercium juga baunya, Saat ini Kean hanya ingin masalah ini cepat selesai. Agar hubungannya dengan Kyara berjalan lancar tanpa rasa takut lagi.


.


.


**********


.


" Itu pasti rekan bisnisnya Kal, karena bang Kean tadi bilang ada meeting dadakan. " ucap Kyara.


Beruntungnya Anzel atau orang tuanya sedang tak berada di rumah, Kyara takut kalau sampai mereka mendengar perkataan Kalan, mereka bisa menjadi salah paham dengan Kean.


" Kean bilang itu teman wanitanya yang sedang ada masalah, jadi Kean hanya menjadi tempat cerita teman nya itu, tapi kamu tau Ky? wanita itu menggenggam tangan Kean sambil menangis seolah ia wanita yang baru saja diputuskan pacarnya." Kalan tak menyerah sampai di situ dia berusaha meyakinkan Kyara agar mempertimbangkan lagi lamaran Kean.


" Cukup Kal, jangan bicara apapun kalau kamu tak punya bukti, bisa saja itu memang temannya. Aku percaya padanya dan aku akan bertanya padanya tentang apa yang kamu bilang." bohong kalau Kyara tidak terkejut dengan perkataan Kalan, tapi ia berusaha tenang tak ingin terpancing begitu saja. Lebih baik ia tanyakan langsung pada Kean besok, pikirnya.


" Tapi kenapa dia berbohong padamu ada meeting dadakan? padahal ia sedang bertemu wanita lain?" cibir Kalan.


" Dia pasti punya alasan sendiri Kalan kenapa berkata begitu, aku yang akan mencari tau sendiri nanti, jadi jangan ikut campur hubungan ku dengan Kean. Terima kasih untuk informasi mu tapi cukup sampai di sini tak usah terlalu curiga berlebih kalau kamu gak punya bukti. " Sudah lelah rasanya Kyara berdebat dengan Kalan. Ia juga kesal kenapa Kean membohonginya, tapi Kyara masih berusaha bersikap biasa saja di depan Kalan.


" Kamu terlalu percaya padanya, Ky. Seperti biasa kalau kamu jatuh cinta kamu itu terlalu bucin. Ingat kalau dia menyakitimu, aku tak akan lagi menahan diriku tak peduli bagaimana reaksi Dean. aku jelas akan memperjuangkanmu." tegas Kalan.


Disaat mereka sedang berbincang tiba-tiba Anzel datang." Pada tegang amat mukanya pada ngomongin apa sih? " tanya Anzel sambil ikut duduk di ruang tengah bersama Kalan dan juga Kyara.


" Bukan apa-apa, gak usah Kepo ! Loe mau pulang kan, Kal? " Kyara terpaksa mengusir Kalan karena tak ingin Kalan memberitahukan pembicaraan mereka pada Anzel.


Kalan yang tau akan sikap Kyara mencoba mengerti, untuk saat ini ia belum berniat memberitahu Anzel jadi ia lebih memilih pulang menuruti keinginan Kyara.


Kalan langsung bangkit dari duduknya sambil menepuk pundak Anzel. " Gue balik, Zel. "


" Buru - buru amat, gue baru dateng. " gerutu Anzel.


" Ada yang gak nyaman gue ada di sini. " sindir Kalan pada Kyara.


" Oke lah, hati-hati di jalan. " sahut Anzel .


Anzel melihat ada yang aneh dengan sikap Kyara dan Kalan, ia menjadi penasaran sebenarnya, tapi dia tau Kyara tak akan semudah itu memberitahunya.


.


.


.


.


Gue harus cari tau sendiri, gue bakal tanya Kalan apa yang sebenarnya terjadi.


.


...****************...