
brak
Suara pintu yang dibuka cukup keras mengagetkan mereka yang sedang berpelukan.
Anzel terbelalak melihat kekasihnya berdiri didepan pintu menyaksikan pemandangan yang sungguh menyesakkan dadanya.
Di dalam kamar berduaan dan berpelukkan, lantas apalagi selanjutnya? pikiran itu terlintas begitu saja di kepala Violetta.
tanpa bertanya apa yang sedang terjadi, Vio lebih memilih pulang untuk menenangkan dirinya. Vio berjalan cepat bergegas keluar dari kediaman Anzel, tapi sang kekasih langsung mengejarnya setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Violetta Anzel langsung menahan tangan gadis itu sehingga langkahnya terhenti.
" Hon, tunggu aku bisa jelasin. Ini gak seperti yang kamu bayangkan. " jelas Anzel. Baru kali ini ia bertengkar dengan Vio, sungguh hal yang sangat ia hindari, tapi ia tau kemarahan Vio adalah karena kesalahannya sendiri.
Vio sengaja datang lebih awal untuk memberi kejutan pada kekasihnya, setelah sampai di rumah Anzel pun, ia meminta asisten rumah tangga Anzel untuk tak memberitahu Anzel tentang kedatangannya, ia langsung naik ke lantai dua menuju kamar Anzel, tanpa ia duga ternyata kekasihnya sedang berdua bersama Tiana di dalam kamar dengan posisi saling berpelukan bahkan bisa Vio lihat Anzel tersenyum senang sambil memeluk Tiana.
Bukannya memberi kejutan untuk sang kekasih tapi malah ia lah yang dibuat terkejut oleh kekasihnya, pikirnya.
" Aku mau pulang, biarkan aku sendiri dulu dan please jangan ganggu aku, nanti kita bicara lagi. aku akan menghubungimu. " Vio langsung berbicara panjang tak membiarkan Anzel menyelanya sedikit pun. karena untuk saat ini ia hanya ingin menata perasaannya yang sedang kacau terlebih dahulu, baru ia akan mendengar penjelasan dari sang kekasih.
Dengan sangat terpaksa ia melepaskan tangannya yang tadi menahan tangan Vio, ia mengerti apa yang Vio rasakan untuk saat ini. Maka dari itu ia membiarkan Vio lebih tenang, baru ia akan bicara pada gadis itu, pikir Anzel.
" Zel, maaf. Aku gak tau kalau akhirnya malah jadi seperti ini. " Sesal Tiana yang merasa tak enak hati pada Anzel karena permintaannya lah untuk memeluk Anzel, mereka jadi salah paham, pikir Tiana.
Anzel tersenyum seraya berkata " Tak apa, Na. nanti aku akan menjelaskan padanya apa yang terjadi di antara kita. setelah berkata begitu dan meninggalkan Tiana, Anzel langsung bergegas menuju ke kamar sang kakak yang seperti nya tak mengetahui keributan di lantai satu.
Kyara saat ini pasti sedang mendengarkan musik sambil memakai headphonenya, pikir Anzel.
Dan benar saja saat membuka kamar Kyara gadis itu tengah memakai headphonenya.
Plak
Anzel memukul bahu Kyara dengan cukup keras, membuat kakaknya terperanjat karena pukulan penuh dendam itu.
" Apa sih, mukul-mukul. Gak bisa sopan dikit apa. "
ketus Kyara.
" Loe gak denger kalau gue panggil, kuping di tutup mulu, ada kebakaran juga gak akan tau loe! "
Ah kenapa mereka jadi berdebat, Anzel hampir melupakan tujuan awalnya menghampiri sang kakak.
" Gue ada masalah Kak. Bantuin gue, please! " pinta Anzel memohon.
mendengar Anzel memohon seperti orang putus asa, membuat Kya mengerutkan dahi nya, apa yang sebenarnya terjadi, padahal tadi siang semua masih baik-baik saja, pikir Kyara.
" Masalah apa? " tanya Kya penasaran.
Anzel mulai menceritakan tentang Tiana dari awal ia masuk ke kamar Anzel sampai anzel memeluk Tiana dan Vio melihatnya secara langsung .
Anzel sempat menaruh curiga pada Tiana, bahwa sahabatnya itu sengaja masuk kamarnya dan meminta peluk agar vio melihatnya secara langsung dan membuat hubungan mereka menjadi kacau, tapi setelah ia pikir lagi tak mungkin Tiana sengaja, karena Violetta ingin datang sore ini saja Tiana tak tahu karena sejak kemarin ia menginap dan baru pulang ke kediaman Anzel siang tadi.
Sebenarnya saat Anzel mengantarkan Vio pulang dari kampus saat itu, Kyara melihat Tiana dari kejauhan sedang memandangi mereka, oleh sebab itu akhirnya Kyara menghampiri Tiana dan berbincang dari hati ke hati oleh gadis itu.
Sempat menolak nasehat Kyara tapi Kyara tak tinggal diam, semakin Tiana melawan semakin banyak nasehat serta cacian ia lemparkan untuk menyadarkan sahabatnya itu, sampai akhirnya Tiana pergi karena tak tahan oleh ocehan Kyara, makanya ia tak pulang dan lebih memilih menginap di tempat lain.
Anzel pikir, sejak kapan kakaknya bisa bijaksana dalam hal ini sampai membuat Tiana berubah. Mungkinkah Kyara terjatuh dan kepalanya terbentur ?pertanyaan itu lah yang kini ada di dalam isi kepala Anzel.
" Vio, gimana kak? tolong bantu gue jelasin ke dia." rengek Anzel yang sedari tadi membuat kupingnya terasa panas.
" Loe kan mau kasih waktu buat dia, sampai dia lebih tenang, nanti baru bicarain lagi. Dia juga gak akan mau denger, Zel. Apalagi dia masih di kuasai rasa kecewa. "
" Iya, tapi sampai kapan? gue takut dia marah nya lama kak, loe coba sambil bujuk Vio ya dan bantuin jelasin. mungkin vio mau denger kalau loe yang ngomong, kan sekarang dia belum mau bicara sama gue. "
Jiwa matre Kyara meronta ronta saat Anzel meminta bantuan padanya. Ini kesempatan Kyara untuk memanfaatkan keadaan, pikirnya.
" Heeeemmmm....... gimana ya?" Kyara berpura-pura berpikir membuat Anzel menghela napas kasar, kalau sudah begini ia tahu apa yang kakak nya inginkan, yaitu bernegoisasi lagi.
" Loe mau apa? " kesal Anzel dengan kakaknya yang matre, bahkan membantu adiknya saja ia minta imbalan, ingin rasa nya Anzel mencoret kakaknya dari kartu keluarga.
" Mobil baru loe yang dibeliin daddy pas kelulusan, buat gue ya. " ucap Kyara menaik turunkan alisnya . permintaan yang sangat keterlaluan menurut Anzel.
" Mobil yang itu? yang belum pernah gue pake sama sekali? " tanya Anzel was-was.
" Ia, yang harganya mahal banget itu sampai harus jual seluruh organ tubuh satu keluarga dulu. " ucap Kyara tanpa beban.
" loe mau ngerampok ade loe sendiri, hah? " celetuk Anzel dengan wajah yang sudah sangat kesal karena kakaknya memanfaatkan keadaan.
" kan gak loe pake, zel. loe juga naik motor terus kalau ke mana-mana. Sayang tau nanti malah rusak gak pernah loe pakai. " memang tak akan pernah selesai berdebat dengan sang kakak. Dia sangat ahli dalam memanfaatkan keadaan dan bernegoisasi.
" Tapi gak gitu juga Kakky. gue aja belum pernah pakai, engga yang lain aja pokoknya! "
" Duit loe kan banyak, Zel. loe pikir gue gak tau bisnis Event Organizer yang loe buat sama temen-temen loe. udah berkembang banget kan bisnis loe. " kata Kyara sambil tersenyum menyeringai.
"Sial. darimana kakaknya tau." batin Anzel .
" Gue gak jadi minta bantuan loe, lebih baik gue sendiri yang ngomong sama vio. dari pada gue jatuh miskin minta bantuan loe terus. "
Tawa Kyara pecah saat Anzel berkata begitu dan langsung keluar dari kamarnya dengan wajah yang sangat kesal.
" Dasar si mesum, gitu aja ngambek. sekali-kali ngerjain dia seru juga. lumayan buat hiburan. "
.
.
...****************...